Binanews.id | Bogor–Tidak banyak orang membayangkan bahwa sebuah lembaga keuangan syariah yang mampu bertahan lebih dari tiga dekade justru lahir dari Leuwiliang, sebuah kecamatan di ujung barat Kabupaten Bogor. Letaknya cukup jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan maupun kawasan bisnis yang menjadi simbol pertumbuhan ekonomi.
Bagi sebagian orang, Leuwiliang mungkin hanya dikenal sebagai daerah lintasan menuju Jasinga atau Banten, wilayah yang identik dengan pertanian, perdagangan tradisional, dan kehidupan masyarakat yang masih sangat kental dengan budaya Sunda.
Namun, sejarah sering kali lahir dari tempat-tempat yang tidak banyak diperhitungkan. Dari kawasan yang jauh dari gemerlap gedung perkantoran itulah berdiri sebuah lembaga yang kelak menjadi salah satu bank perekonomian rakyat dengan konsep syariah yang terus bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman. Namanya BPRS Amanah Ummah.
Selama lebih dari tiga puluh empat tahun, bank ini tumbuh tanpa banyak sorotan. Tidak dibangun dengan modal promosi besar-besaran, tidak pula mengandalkan jaringan nasional yang luas. Sebaliknya, BPRS Amanah Ummah berkembang perlahan melalui kepercayaan masyarakat. Dari satu nasabah kepada nasabah lainnya. Dari satu keluarga kepada keluarga berikutnya. Pertumbuhan itu bukan semata-mata diukur dari besarnya aset, tetapi dari keyakinan bahwa lembaga keuangan syariah dapat menjadi bagian dari pembangunan ekonomi umat.
Hendi Sofyan, BBA Direktur Utama BPRS Amanah Ummah mengisahkan, perjalanan lembaga yang kini dipimpinnya ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang perjuangan KH Sholeh Iskandar yang dilanjutkan kepada H. Taufiq Rahman.
“Kalau orang melihat Amanah Ummah hari ini, mungkin yang terlihat adalah banknya. Padahal sebenarnya yang sedang kami lanjutkan adalah cita-cita besar Almarhum KH Sholeh Iskandar,” ungkapnya saat ditemui Binanews.ID di kantornya di Kecamatan Leuwiliang.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan penghormatan kepada seorang pendiri. Di dalamnya tersimpan filosofi yang hingga kini menjadi ruh perjalanan BPRS Amanah Ummah. Sebuah keyakinan bahwa ekonomi bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu jalan untuk memperkuat martabat masyarakat.
Di tengah persaingan industri keuangan yang semakin kompleks, Hendi memahami bahwa keberadaan BPRS tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan. Bank syariah harus memiliki alasan yang lebih besar untuk hadir. Sebagai bank syariah, para pelaku harus mampu mendakwahkan tentang ajaran Islam utamanya soal ekonomi yang halal agar meraih keberkahan.
Selain itu, ia harus mampu menjadi mitra masyarakat kecil, menguatkan pelaku usaha, serta menjaga nilai-nilai ajaran Islam dalam setiap transaksi. Nilai-nilai itulah yang diwariskan sejak awal berdirinya Amanah Ummah. “Dakwah first, Business Follow itulah Adalah tagline kami,” tuturnya.
Menariknya, kisah ini bukan bermula dari seorang bankir, bukan pula dari seorang ekonom. Ia justru dimulai oleh seorang pejuang kemerdekaan yang setelah republik berdiri memilih meninggalkan dunia militer untuk mengabdikan hidupnya kepada dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Mimpi Besar Seorang Ulama Bernama KH Sholeh Iskandar
Nama KH Sholeh Iskandar memiliki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah Bogor. Hingga kini, namanya terus dikenang sebagai salah satu ulama yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di wilayah tersebut. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Meski usulan itu belum terwujud, kiprah dan warisan pemikirannya tetap hidup melalui berbagai lembaga yang ia dirikan.
Sebelum dikenal sebagai tokoh pendidikan, KH Sholeh Iskandar lebih dahulu mengabdikan dirinya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Pada masa revolusi, beliau dipercaya menjadi Komandan Batalyon Hizbullah dengan pangkat terakhir Mayor. Jabatan itu menunjukkan bahwa beliau bukan hanya seorang ulama,” ujar Hendi.
Namun setelah Indonesia merdeka, Kiai Sholeh mengambil keputusan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Kesempatan untuk terus berkarier di dunia militer terbuka lebar. Akan tetapi, justru memilih menanggalkan kehidupan kemiliteran dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk membangun masyarakat melalui jalan dakwah.
Keputusan itu menjadi titik balik yang melahirkan begitu banyak karya besar.
Di bidang pendidikan, ia mendirikan Universitas Ibn Khaldun (UIK) Bogor yang hingga kini menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Jawa Barat. Di bidang kesehatan, menggagas berdirinya Rumah Sakit Islam Bogor. Di bidang pesantren, lahirlah Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Parung dan Pondok Pesantren Pertanian Darul Falah di Kecamatan Ciampea, yang keduanya menjadi pusat pendidikan generasi muda muslim.
Tidak berhenti di situ, Kiai Sholeh juga menjadi penggagas Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), organisasi yang hingga kini menjadi wadah sinergi berbagai pesantren di Indonesia.
Menurutnya, KH Sholeh Iskandar adalah sosok ulama yang tidak pernah memandang dakwah secara sempit. Dakwah bukan hanya dilakukan melalui mimbar atau ceramah, tetapi juga melalui pembangunan institusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Saya melihat Almarhum itu ulama yang multi-tasking, multi-talenta. Beliau concern di bidang pendidikan, kesehatan, dan juga ekonomi. Lengkap. Jadi bukan hanya fokus pada dakwah saja,” ungkapnya.
Pandangan itu terasa sangat maju jika melihat konteks Indonesia pada akhir tahun 1980-an. Saat itu istilah ekonomi syariah bahkan belum sepopuler sekarang. Perbankan syariah masih menjadi konsep yang asing bagi sebagian besar masyarakat. Namun KH Sholeh Iskandar justru melihat bahwa suatu saat umat Islam membutuhkan lembaga keuangan yang beroperasi sesuai prinsip-prinsip syariah.
Kiai Sholeh dalam berbagai kesempatan secara intens mensosialisasikan gagasan tersebut kepada ulama dan cendekiawan muslim yang ternyata mendapat respon dan dukungan positif. Selanjutnya pada awal Januari 1991 secara resmi mengundang sejumlah ulama, cendekiawan dan pengusaha muslim untuk mendiskusikan pendirian lembaga keuangan yang beroperasi atas dasar syariah Islam.
Untuk mewujudkan pemikiran tersebut sebelum pendirian BPRS Amanah Ummah, Kiai Sholeh memulai eksperimentasi pembentukan lembaga keuangan simpan pinjam yang diberi nama “Koperasi Ihwanul Muslimin” untuk memfasilitasi pemberdayaan ekonomi masyarakat kelompok mustadh’afiin. Seiring dengan pendirian Koperasi Ikhwanul Muslimin tersebut, pada pertengahan Januari 1991 diperoleh informasi bahwa di Bandung Jawa Barat, telah berdiri Bank Perkreditan Rakyat yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah.
Sebagai respon terhadap informasi dari Bandung tersebut, ia menetapkan pilihan Bogor harus melakukan hal yang sama yaitu mendirikan dan memiliki lembaga perbankan berupa Bank Perkreditan Rayat (BPR), maka pada awal Februari 1991 dibentuklah Tim untuk menyusun Proposal Pendirian BPR dengan nama Amanah Ummah, yang pada bulan Juli 1991 Proposal Pendirian diajukan kepada Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Sayangnya, takdir berkata lain. Sebelum perusahaan tersebut resmi diluncurkan pada Agustus 1992, KH Sholeh Iskandar lebih dahulu berpulang ke rahmatullah.
“Perusahaannya baru di-launching bulan Agustus 1992. Almarhum wafat beberapa bulan sebelumnya. Jadi beliau tidak sempat menyaksikan sendiri lahirnya perusahaan ini. Tapi yang menjadi pionir dan penggagasnya adalah Almarhum,” kenangnya.
Meski tidak sempat melihat benih yang ditanamnya tumbuh, pemikiran KH Sholeh Iskandar telah menjadi fondasi yang kokoh. Amanah itu kemudian diteruskan oleh orang-orang yang dipercaya beliau, termasuk sosok yang sama sekali tidak pernah membayangkan akan memimpin sebuah bank.
Kelak, keputusan itulah yang menjadi salah satu bukti bahwa seorang pemimpin besar tidak hanya mampu membangun lembaga, tetapi juga mampu membaca karakter manusia. Ia tahu kepada siapa amanah harus dititipkan.
Siapakah sosok itu? Ikuti ulasan perjalanan BPRS Amanah Ummah berikutnya.[]
Penulis : Fathurroji
Editor : Fathurroji









