Binanews.id | Bogor–Sebagai anak dari orang yang memimpin BPRS Amanah Ummah sejak awal berdiri, H. Hendi Sofyan sebenarnya memiliki jalan yang relatif mudah jika ingin langsung bergabung dengan perusahaan. Namun, jalan itu tidak pernah dipilih oleh ayahnya. Sejak awal, H. Taufiq Rahman justru menginginkan putranya mengenal dunia yang lebih luas sebelum suatu saat menerima amanah yang lebih besar.
Hendi tumbuh di lingkungan yang akrab dengan nilai-nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan penghormatan kepada ilmu. Meski setiap hari melihat ayahnya memimpin sebuah lembaga keuangan syariah, ia tidak pernah merasa bahwa masa depannya telah ditentukan. Baginya, pendidikan menjadi bekal utama untuk memahami dunia yang terus berubah.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 2 Bogor, Hendi melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, dengan mengambil program studi Akuntansi. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Dunia akuntansi dianggap mampu memberikan fondasi yang kuat dalam memahami tata kelola keuangan dan bisnis.
Namun perjalanan akademiknya di Bandung tidak berlangsung lama. Di tengah masa kuliah, muncul kesempatan yang kemudian mengubah arah kehidupannya. Keluarga memandang bahwa jika ingin mendalami ekonomi syariah secara lebih serius, ada tempat yang saat itu jauh lebih maju dibandingkan Indonesia.
“Dulu saya pernah kuliah di Bandung, di UNPAD, jurusan Akuntansi. Nggak lama, saya pindah kuliah ke Malaysia, ke IIUM, International Islamic University Malaysia ambil ekonomi syariah,” ungkapnya.

Pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, Malaysia memang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan ekonomi dan perbankan syariah dunia. Berbagai inovasi lahir dari negeri jiran tersebut, mulai dari regulasi, pendidikan, hingga praktik industri keuangan syariah. Banyak mahasiswa dari berbagai negara datang ke Malaysia untuk mempelajari sistem yang saat itu masih berkembang di banyak negara muslim.
Kesempatan itulah yang kemudian membawa Hendi melanjutkan pendidikan di International Islamic University Malaysia (IIUM). Perguruan tinggi tersebut dikenal sebagai salah satu kampus yang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi Islam dan melahirkan banyak profesional di bidang keuangan syariah.
“Kenapa pindah ke sana? Karena dianggap waktu itu, kiblatnya perbankan syariah tuh Malaysia. Indonesia belum ada. Khususnya di IIUM, International Islamic University Malaysia. Akhirnya saya disekolahkan ke sana, tujuannya memang suatu ketika akan balik lagi. Saya di sana ngambil jurusan finance (keuangan),” paparnya.
Keputusan mengirim Hendi ke Malaysia sesungguhnya telah menyimpan harapan besar dari keluarga. Ilmu yang diperoleh di sana diharapkan kelak menjadi bekal untuk mengembangkan Amanah Ummah. Sejak awal, orientasinya bukan sekadar memperoleh gelar, melainkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan industri keuangan syariah yang diperkirakan akan berkembang pesat di Indonesia.
Meski demikian, Hendi mengaku bahwa rencana hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia justru memiliki keinginan yang berbeda. Sebelum pulang ke Indonesia, ia ingin merasakan pengalaman bekerja di perusahaan internasional agar memiliki bekal profesional yang lebih matang.
Keinginan tersebut sempat mendapat penolakan dari keluarga. Harapan orang tua sebenarnya sederhana, yaitu agar Hendi segera kembali dan mulai berkontribusi bagi Amanah Ummah. Namun sebagai anak muda yang ingin menguji kemampuan sendiri, ia merasa perlu membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing di lingkungan kerja yang kompetitif.
“Harusnya saya balik ke Indonesia dan bergabung dengan Amanah Ummah. Saya pengen cari kerjaan dulu di Malaysia. Pengen cari pengalaman dulu. Walaupun sebetulnya sih nggak diizinin. Nekat aja gitu,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Hendi memilih keluar dari zona nyaman dan menempuh jalan yang sama sekali tidak berkaitan dengan dunia perbankan syariah. Ia ingin belajar langsung bagaimana perusahaan kelas dunia membangun sistem, budaya kerja, dan profesionalisme yang kemudian dapat dibawa pulang ke Indonesia.
Tanpa disadari, keputusan “nekat” tersebut justru menjadi bekal yang kelak membedakan cara pandangnya dalam memimpin BPRS Amanah Ummah. Apa yang dipelajari di Malaysia bukan hanya teori tentang keuangan, tetapi juga pengalaman hidup yang membentuk karakter kepemimpinannya.

Sepuluh Tahun Ditempa di Petronas
Setelah menyelesaikan kuliah di Malaysia, Hendi mulai mencari peluang kerja di berbagai perusahaan. Salah satu lamaran yang dikirimkannya ditujukan kepada Petronas, perusahaan minyak dan gas nasional Malaysia yang dikenal sebagai salah satu korporasi terbesar di Asia.
“Saya melamar suatu perusahaan minyak di Malaysia, perusahaan multinasional namanya Petronas, saya di Petronas sekitar 10 tahun,” ungkapnya.
Karier Hendi di Petronas dimulai melalui program Management Trainee, sebuah jalur pengembangan yang dirancang untuk menyiapkan calon-calon pemimpin perusahaan. Program tersebut memberikan kesempatan kepada para peserta untuk memahami berbagai aspek bisnis melalui rotasi pekerjaan di sejumlah divisi yang berbeda.
Pada masa awal bekerja, Hendi sempat ditempatkan di Menara Kembar Petronas atau Petronas Twin Towers, ikon kebanggaan Malaysia yang menjadi pusat aktivitas perusahaan. Bekerja di lingkungan multinasional memberinya pengalaman baru tentang pentingnya disiplin, sistem kerja, dan budaya profesional yang diterapkan secara konsisten. “Saya pernah dua tahun di Menara Twin Tower, menara Petronas itu.”
Perjalanan kariernya terus berkembang. Pada tahun 2006, Petronas membuka kantor perwakilan di Indonesia dan Hendi mendapat kesempatan untuk kembali ke tanah air. Namun kepulangannya kali ini bukan untuk bergabung dengan Amanah Ummah, melainkan membawa tanggung jawab baru sebagai bagian dari ekspansi bisnis Petronas di Indonesia.
“Tahun 2006 saya dipindahkan ke Jakarta, karena Petronas buka cabang di Indonesia. Buka perwakilan di Indonesia,” kisahnya.
Di Indonesia, Hendi dipercaya menangani pengembangan jaringan SPBU Petronas sebagai Area Manager. Posisi tersebut menuntutnya membangun hubungan dengan berbagai mitra bisnis, melakukan analisis pasar, hingga menyusun strategi pengembangan wilayah. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan dinamika dunia pemasaran yang sangat kompetitif.
Kariernya tidak berhenti pada satu bidang. Seiring waktu, Hendi juga memperoleh tanggung jawab mengelola pemasaran produk High Speed Diesel (HSD) untuk sektor industri di Kalimantan Timur. Khususnya mensuplai produk HSD ke perusahaan tambang batubara, perkebunan dan pelayaran. Selain itu, ia pernah menangani proses akuisisi lahan dan pengembangan aset perusahaan pada divisi real estate, sehingga pemahamannya terhadap dunia bisnis menjadi semakin luas.
“Tiba-tiba pindah ke perusahaan keuangan, perbankan. Ini nggak nyambung sebetulnya. Nggak nyambung. Secara dunia memang berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, Hendi justru menemukan satu pelajaran yang sangat berharga selama bekerja di Petronas. Hampir sepanjang kariernya, ia ditempatkan pada bidang yang berkaitan dengan sales dan marketing. Pengalaman tersebut membentuk cara berpikirnya dalam memahami kebutuhan pelanggan, membangun kepercayaan, serta mengembangkan pasar secara berkelanjutan.
“Ada satu benang merah yang saya bisa ambil manfaatnya, pengalaman di Petronas selama 10 tahun, karena saya ditempatkan di bidang sales and marketing. Jadi ilmu sales marketing-nya, praktik yang saya bawa di sini.”
Sepuluh tahun bekerja di perusahaan multinasional telah membentuk Hendi menjadi pribadi yang terbiasa bekerja dengan target, disiplin, dan ukuran kinerja yang jelas. Namun di balik semua pencapaian itu, ada satu panggilan yang perlahan semakin kuat. Amanah yang telah dirintis ayahnya selama puluhan tahun seakan terus mengetuk hati untuk pulang di Leuwiliang nan jauh di Bogor.
Keputusan itu akhirnya diambil pada tahun 2014. Setelah satu dekade meniti karier di Petronas, Hendi memutuskan mengundurkan diri dan kembali ke ujung barat Bogor. Banyak orang mungkin melihatnya sebagai langkah mundur karena meninggalkan perusahaan multinasional yang mapan. Akan tetapi, bagi Hendi, kepulangan tersebut bukan tentang meninggalkan karier, melainkan memenuhi panggilan amanah yang telah dipersiapkan sejak lama.
Berikutnya, bagaimana sosok Hendi Sofyan berkarir di BPRS Amanah Ummah? Ikuti seri berikutnya. []









