Waspadai Usai Karhutla, Riset: Fenomena Lonjakan Kadar Arsenikdi Sungai

Bisyral

- Redaksi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Kalimantan- Usai peristiwa kebakaran hutan, apa yang kebanyakan orang lihat adalah asap, kerusakan lahan, juga abu yang tertinggal. Padahal, ada satu bahaya yang kerap luput dari perhatian.

Setelah terjadinya karhutla, ada peningkatan kandungan arsenik di air, khususnya di sungai. Mengapa bisa demikian?

Ilmuwan dari Departemen Environmental Sciences and Engineering University of North Carolina, Jordan Willeford dan rekan-rekannya pernah menganalisis fenomena peningkatan kadar arsenik di air usai karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka melakukan skrining 676 penelitian dan memabaca secara utuh 105 di antaranya.

Dari analisis yang dilakukan, Willeford dkk menyimpan 20 riset yang mengukur kandungan arsenik di dalam air. Sebagian besar riset tersebut dari Kanada, Portugal, dan utara Amerika Serikat.

Selama ini, bentuk anorganik arsenik disinyalir bisa menyebabkan kanker. Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan diabetes dan kerusakan kulit.

Baca Juga:  Kirab Bendera 500 Meter Meriahkan FMP ke-11 Kota Bogor

Bagaimana Arsenik Bisa Terbawa ke Sungai?

Dari 17 studi yang meriset sungai besar dan sungai kecil, 15 di antaranya mengungkap hal yang sama. Tujuh dari studi tersebut melaporkan kadar arsenik sebelum dan sesudah kebakaran. Salah satu studi mencatat adanya peningkatan rata-rata arsenik sebesar 17% dan sisanya melaporkan lonjakan kadar arsenik tertinggi, mulai dari 300-34.900 persen.

Kebakaran menghanguskan tanaman yang bisa menahan air dan menstabilkan lereng. Sayangnya, tanah yang terbakar itu juga menyerap air lebih sedikit, sehingga air hujan yang mengalir deras dapat membawa abu dan lapisan tanah ke aliran sungai terdekat. Dari sinilah arsenik bisa terbawa hingga aliran sungai.

Dari 17 studi, terdapat dua studi yang mengukur kadar arsenik yang masih tinggi, pada 5 dan 10 tahun setelah kebakaran berakhir. Pada studi 10 tahun setelah kebakaran tersebut, air yang diteliti merupakan air minum yang telah diolah.

Baca Juga:  Sempat Hilang Tertimbun Longsor, Lansia di Dramaga Bogor Ditemukan Tewas oleh Tim SAR

Asap Menguap bersama Arsenik

Dikutip dari Earth, jalur kedua adalah abu dan asap yang mendarat di perairan terbuka, sehingga zat tersebut langsung menyebar. Satu sampel yang diambil pada saat hari berkabut asap menunjukkan, ada 2.000% arsenik lebih tinggi dari yang tercatat, dibandingkan saat tidak ada asap di sekitar.

Salah satu contoh fenomenanya adalah saat kebakaran besar di California pada 2018 silam. Berdasarkan studi, zat arsenik yang terbawa oleh partikel asap halus mencapai alat pemantau udara di dekat Modesto yang berjarak 124 kilometer dari tempat kebakaran. Asap merupakan jalur yang relatif singkat dibandingkan dengan lereng bukit yang gundul.

Baca Juga:  BAZNAS Kota Bogor Santuni Keluarga Korban Turab Roboh di Pasirjaya

Kadar Arsenik Tertinggi di Tambang-tambang Tua

Kadar arsenik tertinggi terdeteksi di aliran sungai di bawah bekas area pertambangan saat terjadi badai. Kandungannya mencapai 70 mikrogram per liter arsenik terlarut dan 740 mikrogram jika termasuk arsenik yang terikat pada partikel.

Hal ini karena lubang galian yang ditinggalkan terbuka mengandung arsenik dan kemudian akan teroksidasi menjadi aliran asam tambang yang beracun. Tambang terbuka ini berpotensi mengaliri air yang telah terkontaminasi hingga ke muara sungai dan selanjutnya akan sangat berbahaya apabila air yang sama digunakan oleh penduduk untuk kehidupan sehari-hari.

Bangunan yang terbakar di area perkotaan juga menghasilkan arsenik dalam jumlah besar, terutama dari abu kayu lama yang pernah dilapisi bahan kimia pengawet. Abu kayu ini mengandung arsenik 33 kali lebih banyak dari abu biasa.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Enam Tahun Terbaring, Bocah Sirnarasa Butuh Pendampingan
Pemkot Bogor Intensifkan Penanganan Kebakaran TPAS Galuga
Hujan Guyur Sukabumi setelah Kemarau Panjang
Kebakaran Galuga Bukan dari Sampah Aktif, Ini Penjelasannya
Maulid Nabi dan Haul Akbar ke-96, Kramat Empang Bogor Dipadati Ribuan Jamaah
Antisipasi Abu Vulkanik, Polres Bogor Bagikan Masker dan Edukasi Warga
Di Balik Senyum Ibu Mimin, Tersimpan Perjuangan yang Panjang
Sopir Angkot Gelar Unjuk Rasa di Balaikota Bogor, Berikut Tuntutannya

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 10:19 WIB

Enam Tahun Terbaring, Bocah Sirnarasa Butuh Pendampingan

Jumat, 11 September 2026 - 13:38 WIB

Pemkot Bogor Intensifkan Penanganan Kebakaran TPAS Galuga

Jumat, 11 September 2026 - 10:08 WIB

Hujan Guyur Sukabumi setelah Kemarau Panjang

Rabu, 9 September 2026 - 14:20 WIB

Kebakaran Galuga Bukan dari Sampah Aktif, Ini Penjelasannya

Rabu, 9 September 2026 - 14:19 WIB

Maulid Nabi dan Haul Akbar ke-96, Kramat Empang Bogor Dipadati Ribuan Jamaah

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB