Karhutla Picu Kabut Asap Tebal, Jarak Pandang Semakin Terbatas

Bisyral

- Redaksi

Rabu, 2 September 2026 - 12:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor- Dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian setelah kondisi kabut asap di sejumlah wilayah terdampak dilaporkan semakin pekat.

Kabut asap yang menyelimuti kawasan terdampak tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan jarak pandang menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bagi warga yang tetap harus beraktivitas di tengah buruknya kualitas udara.

Sebuah rekaman video yang beredar di platform Threads turut memperlihatkan gambaran kondisi kabut asap yang sangat pekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam video yang diunggah melalui akun Threads tersebut, tampak seorang wanita berjalan menjauhi arah kamera di tengah kepulan asap tebal.

Pemandangan tersebut kemudian menjadi perhatian karena jarak pandang di lokasi terlihat sangat terbatas.

Wanita itu tampak berjalan perlahan menjauhi titik awal. Namun, setelah menempuh jarak sekitar 30 langkah, sosoknya semakin sulit terlihat.

Baca Juga:  Berita Hoax, Menteri Agama Nasaruddin Umar Melarang Penyembelihan Hewan Kurban

Seiring bertambahnya jarak, tubuh wanita tersebut perlahan memudar dari pandangan hingga akhirnya tidak lagi terlihat dari posisi kamera.

Rekaman tersebut menggambarkan betapa pekatnya kabut asap yang menyelimuti area tersebut.

Terbatasnya jarak pandang menjadi salah satu persoalan serius yang dapat muncul akibat kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi kabut asap yang sangat pekat, masyarakat dapat mengalami kesulitan melihat lingkungan sekitar, terutama ketika harus melakukan perjalanan atau beraktivitas di luar ruangan.

Situasi tersebut juga berpotensi mengganggu mobilitas warga.

Pengendara kendaraan bermotor dapat menghadapi risiko lebih besar ketika jarak pandang menurun secara drastis. Kondisi jalan yang biasanya dapat terlihat dari kejauhan bisa menjadi sulit dipantau ketika tertutup kabut asap.

Baca Juga:  Kuliah Siap Kerja, Pengalaman Lulusan DIII Administrasi STIA Bala Putra Dewa

Selain meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, jarak pandang yang terbatas juga dapat membahayakan warga yang berada di kawasan terbuka.

Masyarakat berpotensi mengalami kesulitan menentukan arah atau bahkan tersesat ketika kondisi lingkungan tertutup asap pekat.

Ancaman lainnya datang dari paparan asap yang terus berlangsung.

Kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama bagi warga yang harus berada di luar ruangan dalam waktu cukup lama.

Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan menjadi semakin penting, khususnya di wilayah yang terus terdampak kepulan asap.

Upaya pemadaman titik api serta pengendalian penyebaran kebakaran diharapkan dapat dilakukan secara maksimal agar dampak terhadap masyarakat tidak semakin meluas.

Baca Juga:  Supporter Bola Bikin Ulah di Ciseeng Bogor

Selain penanganan titik api, kebutuhan warga di wilayah terdampak juga menjadi perhatian.

Bantuan berupa perlindungan kesehatan, termasuk masker dan layanan medis bagi masyarakat yang terdampak asap, diharapkan dapat membantu mengurangi risiko paparan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Video yang memperlihatkan seorang wanita perlahan menghilang dari pandangan setelah berjalan di tengah kabut asap kini menjadi gambaran betapa seriusnya dampak yang dapat ditimbulkan oleh karhutla.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap keselamatan, mobilitas, dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

Penanganan cepat terhadap titik-titik kebakaran menjadi penting agar kepulan asap tidak terus memburuk dan mengancam kehidupan warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Enam Tahun Terbaring, Bocah Sirnarasa Butuh Pendampingan
Pemkot Bogor Intensifkan Penanganan Kebakaran TPAS Galuga
Hujan Guyur Sukabumi setelah Kemarau Panjang
Kebakaran Galuga Bukan dari Sampah Aktif, Ini Penjelasannya
Maulid Nabi dan Haul Akbar ke-96, Kramat Empang Bogor Dipadati Ribuan Jamaah
Antisipasi Abu Vulkanik, Polres Bogor Bagikan Masker dan Edukasi Warga
Di Balik Senyum Ibu Mimin, Tersimpan Perjuangan yang Panjang
Sopir Angkot Gelar Unjuk Rasa di Balaikota Bogor, Berikut Tuntutannya

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 10:19 WIB

Enam Tahun Terbaring, Bocah Sirnarasa Butuh Pendampingan

Jumat, 11 September 2026 - 13:38 WIB

Pemkot Bogor Intensifkan Penanganan Kebakaran TPAS Galuga

Jumat, 11 September 2026 - 10:08 WIB

Hujan Guyur Sukabumi setelah Kemarau Panjang

Rabu, 9 September 2026 - 14:20 WIB

Kebakaran Galuga Bukan dari Sampah Aktif, Ini Penjelasannya

Rabu, 9 September 2026 - 14:19 WIB

Maulid Nabi dan Haul Akbar ke-96, Kramat Empang Bogor Dipadati Ribuan Jamaah

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB