Binanews.id | Bogor–Asap tebal menyelimuti Petuk Katimpun pada 19 Agustus 2026 lalu. Di tengah lahan gambut yang hangus, seorang remaja berbaju biru-merah menyemprotkan air dari selang. Jubahnya berkibar. Pinggangnya dipenuhi debu hitam.
Rudiansyah, tujuh belas tahun, siswa kelas X SMA Negeri 10 Palangka Raya. Ia memakai kostum Superman bukan untuk pamer. Kostum itu dibelinya Februari lalu untuk lomba maraton yang batal ia ikuti. “Pakai kostum ini iseng, beli udah dari Februari 2026, untuk ikut kejuaraan lari maraton, tapi enggak terpakai,” katanya di lokasi kebakaran.
Api mendekati rumahnya. Ia tidak tahan diam. “Saya khawatir melihat kebakaran lahan yang semakin mendekati rumah, makanya sepulang sekolah saya sempatkan untuk ikut membantu pemadaman.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia sudah terbiasa. Sejak 2023, Rudiansyah mengikuti ayahnya, Mulyadi, anggota kelompok relawan pemadam kebakaran, ke lokasi-lokasi karhutla. “Awalnya, saya hanya ikut karena penasaran dan ingin mencoba. Ternyata cukup seru, meskipun cukup melelahkan,” katanya. Mulyadi bercerita, “Di rumah, dia seperti budak biasa tetapi apabila melihat saya keluar, dia akan bertanya, ‘Ayah nak padam api? Saya ikut’.”
Ada alasan lebih tua dari sekadar iseng. Rudiansyah masih ingat 2015, saat ia berusia enam tahun. Kabut asap tebal menyelimuti Palangka Raya. Ia sakit karenanya. “Aku tidak mau kejadian serupa terulang.”
Dari kejauhan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang ke lokasi, menjabat tangan Rudiansyah. “Tanpa ada partisipasi masyarakat dalam menanggulangi karhutla, pasti tidak akan bisa selesai,” katanya.
Pernyataan itu jujur sekaligus mengenaskan. Negara mengakui ketergantungannya pada anak SMA berkostum superhero untuk memadamkan apinya sendiri.
Raja Juli menjanjikan sesuatu. “Insyaallah tadi beliau ingin menjadi polisi hutan nanti. Nanti insyaallah kita akan menjadikan beliau polisi hutan. Kalau beliau mau pilih, nanti saya kasih beasiswa.” Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran juga datang, memberi Rudiansyah satu unit sepeda motor.
Potongan gambar itu viral. Rudiansyah tersenyum di antara menteri dan gubernur. Tapi di luar bingkai foto, ada puluhan relawan lain tanpa kostum, tanpa kamera, tanpa sepeda motor. Mereka juga turun ke gambut, juga menghirup asap, juga lelah. Hanya saja jubah mereka tidak berkibar.
“Sejujurnya, saya sangat gembira karena dapat membantu penduduk setempat walaupun itu sangat melelahkan,” kata Rudiansyah. Ia juga menyerukan, “Untuk sukarelawan dan anggota bomba di seluruh Indonesia, teruskan semangat dalam perjuangan melawan api.”
Rudiansyah pantas mendapat semua itu. Tapi ia juga pantas tumbuh di lingkungan di mana kehadirannya di tengah api tidak lagi diperlukan. Di mana alat pemadam tiba sebelum ia memakai kostumnya. Di mana hutan tidak terbakar.
Editor : Fathurroji









