Binanews.id | Bogor – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan dilaporkan meluas hingga ke Malaysia dan Singapura. Dampak pencemaran udara tersebut memaksa sejumlah sekolah di Malaysia menghentikan kegiatan belajar tatap muka demi melindungi kesehatan dan keselamatan siswa.
Mengutip laporan The Straits Times, Kementerian Pendidikan Malaysia menutup sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan di Negeri Sembilan, Selangor, Malaka, Johor, Pahang, serta Kuala Lumpur. Kebijakan tersebut diambil setelah beberapa wilayah mencatatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat berdasarkan Indeks Polusi Udara atau Air Pollutant Index (API).
Sebagai langkah antisipasi, sekolah-sekolah yang terdampak dialihkan ke sistem Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPR).
Dalam pernyataannya, otoritas pendidikan setempat menegaskan bahwa penerapan pembelajaran dari rumah dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar siswa tetap berlangsung meskipun kondisi udara belum membaik.
“Lembaga pendidikan yang terdampak harus menerapkan PdPR untuk memastikan keberlanjutan pembelajaran siswa,” demikian pernyataan tersebut.
Sekolah di Malaysia Mulai Dibuka Bertahap
Mengutip Free Malaysia Today, sejumlah sekolah di Malaysia dijadwalkan kembali beroperasi secara bertahap pada Selasa (13/10/2026). Namun, sekolah-sekolah di Johor serta beberapa distrik di Kuala Lumpur dan Selangor masih ditutup akibat kondisi kabut asap.
Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, menyebutkan sejumlah wilayah yang masih terdampak, yakni Bangsar dan Pudu di Kuala Lumpur, serta Hulu Langat, Gombak, dan Petaling Perdana di Selangor.
Kementerian Pendidikan Malaysia akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan memperbarui kebijakan pembelajaran sesuai kondisi di lapangan.
Meski pembukaan sekolah mulai dilakukan secara bertahap, kualitas udara di beberapa wilayah masih belum sepenuhnya membaik.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Udara Amerika Serikat (US AQI) pada Selasa (13/10/2026) pukul 11.03, sejumlah wilayah di Malaysia masih berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Berikut beberapa wilayah yang mencatatkan kualitas udara tersebut:
* Klang: AQI US 123.
* Kuala Selangor: AQI US 117.
* Kuala Lumpur: AQI US 113.
Paparan polusi udara, khususnya partikel halus PM2.5, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Singapura Ikut Terdampak Kabut Asap
Dampak kabut asap karhutla juga dirasakan di Singapura. Kualitas udara di negara tersebut dilaporkan mengalami penurunan hingga mencapai kategori tidak sehat di sejumlah wilayah.
Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency atau NEA) mengimbau masyarakat untuk memantau konsentrasi PM2.5 setiap jam, khususnya sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
NEA menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti Singapura berasal dari wilayah Sumatera bagian selatan dan tengah, serta Kalimantan Barat.
“Dengan angin yang bertiup dari arah tenggara atau selatan, kabut asap mungkin akan terus bergerak menuju Singapura,” ungkap NEA.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kualitas udara memburuk, terutama bagi kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Titik Panas Karhutla Masih Terdeteksi
Ancaman kabut asap lintas negara masih perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) yang disebutkan dalam informasi tersebut, titik panas atau hotspot masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pergerakan kabut asap juga dilaporkan mengarah ke Malaysia dan Singapura.
Peneliti Ahli Muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, menjelaskan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting yang menentukan penyebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Ia mencontohkan hasil simulasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Agustus 2026 yang menunjukkan pola pergerakan angin berpotensi membawa partikel polutan dari Indonesia menuju negara-negara tetangga.
“Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator. Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand,” jelas Ardhi, dikutip dari laman BRIN.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga berpotensi meluas ke negara lain melalui pergerakan angin.
Karena itu, penanganan karhutla dan pemantauan kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat serta mencegah dampak kabut asap yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara.









