Menunggu Kesaktian Pancasila

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Senin, 1 Juni 2026 - 07:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Saya memiliki seorang teman. Usianya sudah melewati kepala empat. Wajahnya mulai dipenuhi garis-garis kehidupan yang tidak pernah dia minta. Rambut di pelipisnya mulai memutih, bukan karena usia semata, tetapi karena terlalu lama bergulat dengan kerasnya hidup.

Dia memiliki empat orang anak yang semuanya masih kecil. Anak-anak yang sedang berada pada masa paling indah sekaligus paling mahal dalam kehidupan seorang ayah. Si sulung sedang belajar di bangku sekolah dasar, anak kedua kebetulan kembar di bawah lima tahun, si bungsu masih menyusu. Mereka tentu termasuk anak bangsa yang menjadi calon pemimpin masa depan. Namun di usia pertumbuhan mereka mendapatkan pahitnya kenyataan. Sang ayah sudah lama diberhentikan dari pekerjaan. Dari mulai menerima surat PHK beberapa tahun lalu sampai sekarang teman saya ini masih belum mendapat pekerjaan tetap.

Umurnya dianggap terlalu tua untuk menjadi pegawai. Setiap kali membaca pengumuman lowongan pekerjaan, selalu ada kalimat yang terasa seperti palu godam yang menghantam dadanya: maksimal usia 35 tahun, maksimal usia 30 tahun, bahkan ada yang maksimal 27 tahun. Sementara usianya sudah lebih dari 40 tahun. Katanya usia matang untuk seorang manusia. Mungkin karena matang jadi tidak menarik bagi para pemilik pabrik.

Baca Juga:  7 Tanda Terlalu Keras pada Diri Sendiri Saat Memperbaiki Diri

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia tidak pernah meminta menjadi tua. Tetapi dunia kerja seolah menghukumnya karena usia. Padahal tenaga masih ada. Semangat masih menyala. Pengalaman hidup bahkan jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang baru lulus sekolah. Agar dapur tetap berasap, dia mencoba segala cara yang halal. Pernah turun ke sungai membelah batu. Menjadi kuli yang mengandalkan otot untuk mengalahkan kerasnya alam. Pernah berjualan di pinggir jalan dengan harapan ada pembeli yang mampir. Pernah menjadi satpam musiman dengan gaji yang tidak seberapa. Ketika semua itu tidak cukup, dia mendaftar menjadi pengemudi ojek online.

Pagi berangkat sebelum matahari muncul. Malam pulang setelah jalanan mulai sepi. Namun penghasilannya sering kali hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan paling dasar. Bulan Ramadhan kemarin menjadi bulan yang berat baginya. Di saat banyak keluarga sibuk memilih baju baru untuk Idul Fitri, dia sibuk mengais recehan agar dapurnya tetap ngebul. Jangankan membeli pakaian baru. Jangankan membeli seekor ayam untuk opor di hari lebaran. Untuk membayar zakat fitrah satu orang saja dia tidak memiliki kemampuan.

Saya melihat matanya berkaca-kaca ketika menceritakan hal itu.

Ini baru satu cerita. Satu potret kecil dari jutaan wajah yang mungkin tersembunyi di balik gaduh para politisi. Mereka anak bangsa yang terlahir dari rahim ibu pertiwi. Mereka mencintai tanah airnya. Tidak pernah berkhianat kepada bangsa. Tidak pernah berkeinginan mengganti kewarganegaraan. Mereka menghafal Pancasila sejak sekolah dasar. Mereka menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh khidmat.

Baca Juga:  Manusia Garam yang Sering Terlupa

Namun sampai hari ini mereka masih bertanya dalam diam. Kapan keadilan sosial itu datang? Di sekolah dulu mereka menghafal sila kelima dengan lancar: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Kalimat yang sangat indah didengar. Sebuah cita-cita mulia.

Tetapi bagi kawan saya tadi keadilan sosial masih terasa seperti tamu yang tak kunjung datang. Kita sering mendengar teks Pancasila dibaca. Setiap tanggal 1 juni memperingati Hari lahir Pancasila. Spanduk dipasang di mana-mana. Pidato disampaikan dengan penuh semangat oleh para pejabat. Seminar digelar di hotel-hotel mewah. Namun di sudut-sudut kampung, masih ada ayah yang bingung membeli susu anaknya. Masih ada ibu yang menahan lapar agar anak-anaknya bisa makan lebih dulu. Masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Tentu Pancasila bukanlah masalahnya. Pancasila adalah kumpulan cita-cita luhur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Di dalamnya terdapat nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan yang sangat agung. Yang menjadi persoalan adalah ketika Pancasila berhenti sebagai hafalan dan gagal menjelma menjadi kebijakan.

Baca Juga:  Terjebak di Tengah

Ketika sila kelima hanya hidup di dinding sekolah tetapi tidak hadir dalam kehidupan masyarakat. Ketika pertumbuhan ekonomi dipuji setiap tahun, tetapi sebagian rakyat tetap tiarap dalam kubangan kemiskinan. Ketika angka statistik di pajang di media masa, tetapi dapur rakyat masih kesulitan menyala. Barangkali yang sedang ditunggu rakyat bukan lagi pidato tentang Pancasila. Mereka sedang menunggu kesaktian Pancasila yang sesungguhnya. Kesaktian yang mampu membuka lapangan kerja bagi mereka yang tersisih karena usia. Kesaktian yang membuat anak petani memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan anak pejabat. Kesaktian yang memastikan tidak ada ayah yang harus merasa gagal karena tidak mampu membayar zakat fitrah keluarganya. Kesaktian yang membuat negara hadir bukan hanya dalam slogan, tetapi juga dalam kenyataan.

Bagi rakyat jelata seperti kawan saya ukuran kesaktian sebuah ideologi bukanlah seberapa sering ia diperingati. Melainkan seberapa baik ia mampu menghadirkan harapan. Melahirkan program yang berpihak kepada kesejahteraan masyarakat. Menjadi pelindung hak kaum lemah. Di hari lahir pancasila ini, mungkin kawan saya bergumam lirih,

“Kapan kesaktian Pancasila benar-benar bisa dia rasakan?”

 

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB