Binanews.id | Bogor–Entah karena betul-betul kebetulan, atau algoritma media sosial memang sedang membaca isi kepala saya, suatu hari sebuah konten tiba-tiba muncul di layar.
Seorang pria yang sudah tidak terlalu muda tampil dengan wajah sangat serius. Pipinya cekung, rahangnya dalam, dan matanya sedikit nanar. Dengan ekspresi yang sulit dibedakan antara serius dan bercanda, ia membuka videonya dengan kalimat: “Tutorial menjadi gila bagi pemula.”
Saya berhenti menggulir layar. Judulnya saja sudah membuat penasaran. Video berdurasi hampir empat menit itu ternyata telah ditonton lebih dari tujuh juta kali. Saya pun ikut menonton.
Hasilnya? Saya malah hampir ikut gila. Bukan karena mengikuti tutorialnya, tetapi karena sepanjang video saya tidak tahan untuk tidak tertawa. Cara bicaranya datar. Wajahnya tetap serius. Logika-logika absurd disampaikan dengan begitu meyakinkan. Rasanya seperti mengikuti kuliah filsafat dari seseorang yang salah masuk ruang kelas.
Tetapi setelah tawa mereda, muncul satu pertanyaan yang membuat saya cukup lama termenung: mengapa video “tutorial menjadi gila” ditonton jutaan orang? Apakah hanya karena lucu? Atau jangan-jangan karena kata gila diam-diam terasa dekat dengan kehidupan banyak orang hari ini?
Tentu saja “gila” bukan istilah yang tepat untuk menyebut orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Mereka tidak membutuhkan lelucon, apalagi stigma. Mereka membutuhkan pengertian, pertolongan, pengobatan, dan lingkungan yang menerima. Namun humor terkadang bekerja dengan cara yang aneh. Kita bisa tertawa keras pada sesuatu karena di balik kelucuannya tersembunyi sedikit kenyataan yang kita kenali.
Dan hidup belakangan memang tidak selalu mudah. Orang bangun pagi bukan hanya membawa tubuh dari tempat tidur, tetapi juga membawa berbagai tagihan kehidupan: cicilan rumah, biaya sekolah anak, harga kebutuhan sehari-hari, target pekerjaan, usaha yang belum tentu laku, orang tua yang harus dirawat, dan masa depan yang belum jelas.
Anak muda punya tekanannya sendiri. Kuliah belum selesai, sudah ditanya kapan bekerja. Sudah bekerja, ditanya kapan menikah. Sudah menikah, ditanya kapan punya anak. Sudah punya anak, ditanya kapan punya rumah. Entah kapan manusia boleh sekadar duduk menikmati teh tanpa ditanya mau menjadi apa lagi.
Media sosial menambah daftar itu semakin panjang. Setiap hari kita melihat orang lain seperti sedang berlomba menunjukkan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Teman membeli mobil. Tetangga berangkat umrah. Kawan lama naik jabatan. Orang yang baru kemarin memulai usaha tiba-tiba memamerkan omzet ratusan juta. Sementara kita masih berdiri di tempat yang sama. Lalu pelan-pelan muncul pertanyaan: “Kenapa hidup saya begini-begini saja?”
Mungkin manusia hari ini tidak kekurangan informasi. Kita justru kelebihan tekanan.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi secara nasional sebesar 1,4 persen. Pada kelompok usia 15-24 tahun angkanya mencapai 2 persen, tertinggi dibanding kelompok umur lainnya. Jawa Barat tercatat 3,3 persen. Angka-angka itu tentu tidak berarti orang Indonesia sedang beramai-ramai “menjadi gila”. Namun ia cukup menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa bukan persoalan yang jauh dari kehidupan kita.
Di tengah kehidupan yang penuh tekanan itu, saya teringat sebuah buku dengan judul yang cukup provokatif: A Philosophy of Madness karya Wouter Kusters. Filsuf dan ahli bahasa asal Belanda itu pernah mengalami episode psikosis. Pengalaman tersebut kemudian ia baca secara filosofis: tentang realitas, waktu, kesadaran, identitas, dan batas antara pikiran yang kita sebut normal dengan yang kita sebut tidak normal.
Kusters tentu tidak sedang mengajak orang menjadi gila. Ia justru mengajak kita melihat pengalaman manusia dengan lebih dalam. Ketika pikiran manusia terguncang, pertanyaan paling dasar tentang kehidupan sering muncul ke permukaan: Siapakah saya? Apa yang nyata? Untuk apa saya hidup? Mengapa semua ini terjadi?
Pertanyaan terakhir itulah yang paling sering muncul ketika kehidupan tidak berjalan sebagaimana rencana. Ketika usaha bangkrut. Ketika gagal dalam sebuah perjuangan. Ketika kehilangan orang yang dicintai. Ketika pekerjaan bertahun-tahun tiba-tiba berakhir. Kita bertanya: “Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Semakin lama belajar tentang hidup, saya mulai merasa bahwa mungkin ada pertanyaan yang lebih penting. Bukan hanya “mengapa ini terjadi kepada saya?”, melainkan “apa yang bisa saya lakukan setelah semua ini terjadi?” Pertanyaan pertama membuat kita terus melihat ke belakang. Pertanyaan kedua mengajak kita berjalan ke depan.
Di titik inilah madness bertemu dengan meaning.
Nama Viktor Frankl menjadi sulit untuk dilewatkan. Frankl adalah seorang psikiater yang menjadi tahanan kamp konsentrasi Nazi dan kehilangan banyak orang yang dicintainya. Dari tempat yang nyaris tidak menyisakan kebebasan itu, ia menemukan sesuatu yang penting: manusia memang tidak selalu bebas memilih keadaan, tetapi masih memiliki ruang untuk menentukan sikap terhadap keadaan tersebut.
Gagasan itu kemudian menjadi salah satu dasar logoterapi. Dalam pandangan Frankl, pencarian makna merupakan dorongan penting manusia. Makna dapat ditemukan melalui apa yang kita kerjakan, apa yang kita cintai, dan sikap yang kita ambil ketika berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapat dihindari.
Frankl tidak mengatakan bahwa penderitaan itu indah. Sakit tetap sakit. Kehilangan tetap menyakitkan. Kemiskinan tidak perlu dipuitiskan. Kalau penderitaan bisa dihindari, tentu harus kita hindari. Kalau persoalan bisa diselesaikan, kita berkewajiban menyelesaikannya. Namun tidak semua hal dalam kehidupan dapat kita pilih. Ada hujan yang datang tanpa meminta izin. Ada orang yang pergi tanpa sempat berpamitan. Ada usaha yang sudah dijalankan sebaik mungkin tetapi tetap gagal.
Pada saat itulah manusia masih mempunyai satu wilayah yang tidak mudah dirampas: memilih apa yang akan ia lakukan terhadap kenyataan tersebut.
Seseorang yang pernah kesulitan mendapatkan pendidikan bisa menghabiskan hidup dengan meratapi masa lalunya. Tetapi ia juga bisa membangun sekolah agar anak-anak lain tidak mengalami kesulitan yang sama. Seseorang yang pernah miskin bisa tumbuh menjadi manusia yang sangat takut kehilangan uang. Tetapi ia juga bisa menjadi orang yang paling ringan membantu mereka yang kekurangan.
Seseorang yang pernah terluka bisa menggunakan lukanya untuk menyakiti orang lain. Tetapi ia juga bisa berkata: “Karena saya tahu rasanya terluka, saya tidak ingin orang lain merasakan luka yang sama.” Di situlah luka berubah menjadi makna.
Seorang anak yang pernah diremehkan dapat menjadi guru yang tidak pernah meremehkan muridnya. Seorang pekerja yang pernah diperlakukan tidak adil dapat menjadi pemimpin yang memperlakukan bawahannya dengan manusiawi. Orang yang pernah sulit mendapatkan beasiswa kemudian menyediakan beasiswa. Orang yang pernah merasa sendirian menjadi orang pertama yang menemani mereka yang kesepian.
Pengalaman buruknya tidak hilang. Tetapi pengalaman itu berubah fungsi. Dulu ia adalah luka. Sekarang ia menjadi jalan.
Saya kira inilah salah satu bentuk tertinggi dari kedewasaan manusia. Bukan ketika kita berhasil menjalani kehidupan tanpa masalah – sebab manusia seperti itu tidak ada – melainkan ketika kita mampu mengambil sesuatu yang buruk dari kehidupan, lalu tidak meneruskannya sebagai keburukan kepada orang lain. Kita menghentikannya di diri kita. Kalau mampu, kita mengubahnya menjadi kebaikan.
Luka tidak harus diwariskan sebagai luka. Kesulitan tidak harus melahirkan kepahitan.
Mungkin di sinilah kita perlu sedikit “gila”. Gila untuk tetap jujur ketika ketidakjujuran dianggap biasa. Gila untuk tetap berbagi ketika banyak orang sibuk mengumpulkan. Gila untuk mendirikan sekolah di tempat orang lain hanya melihat kemiskinan. Gila untuk menanam pohon meskipun mungkin bukan kita yang kelak menikmati teduhnya. Gila untuk memaafkan ketika sebenarnya kita memiliki kesempatan membalas. Dan cukup gila untuk tetap percaya bahwa satu kebaikan kecil masih mempunyai arti di dunia yang tidak baik-baik saja.
Dalam iman, perjalanan semacam ini bukan sesuatu yang asing. Islam tidak pernah menjanjikan bahwa orang beriman akan hidup tanpa kesulitan. Al-Qur’an berbicara tentang ujian, kehilangan, kesabaran, dan harapan. Dalam Surah Al-Insyirah bahkan disebutkan: sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bukan selalu sesudah kesulitan, tetapi bersama kesulitan.
Artinya, mungkin kita tidak perlu menunggu badai selesai untuk menemukan sesuatu yang baik. Kadang kebaikan justru tumbuh di tengah badai.
Maka ketika kehidupan kembali membawa sesuatu yang tidak kita harapkan, kita boleh menangis. Boleh kecewa. Boleh merasa lelah. Manusia memang tidak diciptakan dari batu. Tetapi setelah air mata mengering dan hati sedikit lebih tenang, barangkali kita perlu mengubah pertanyaan.
Bukan terus-menerus: “Mengapa Tuhan memberikan kehidupan seperti ini kepada saya?” Tetapi: “Dengan kehidupan yang seperti ini, kebaikan apa yang masih bisa saya lakukan?”
Barangkali kita kehilangan pekerjaan, tetapi dari sana lahir usaha yang memberi pekerjaan kepada orang lain. Barangkali kita pernah jatuh miskin, tetapi pengalaman itu membuat kita memahami betapa berharganya mengangkat seseorang dari kesulitan. Barangkali kita pernah gagal, tetapi kegagalan membuat kita lebih lembut kepada mereka yang sedang berjuang. Barangkali kita pernah kehilangan arah, tetapi karena pernah tersesat kita menjadi lebih sabar menunjukkan jalan kepada orang lain.
Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu memberi kita cerita yang bisa kita pilih. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana cerita itu akan diteruskan. Kita tidak harus menjadi korban selamanya dari apa yang pernah terjadi.
Ada manusia yang setelah dihantam kehidupan menjadi semakin keras. Tetapi ada pula yang justru menjadi semakin lembut. Ada yang setelah kehilangan banyak hal menjadi semakin takut berbagi. Ada pula yang memahami bahwa salah satu hal yang paling berarti adalah apa yang pernah ia berikan.
Mungkin itulah perjalanan yang sebenarnya sedang kita tempuh. Bukan sekadar perjalanan dari hidup susah menuju hidup mudah, dari miskin menuju kaya, atau dari gagal menuju berhasil. Perjalanan yang lebih dalam adalah mengubah kekacauan menjadi kesadaran, luka menjadi kepedulian, kegagalan menjadi pembelajaran, dan penderitaan menjadi jalan kebermanfaatan.
Perjalanan dari madness menuju meaning.
Dan jika berbuat baik di tengah dunia yang kadang terasa semakin tidak masuk akal dianggap sebagai sebuah kegilaan, mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak orang “gila”.
Orang-orang yang cukup gila untuk tetap berharap. Cukup gila untuk tetap mencoba. Cukup gila untuk tetap mencintai. Dan cukup gila untuk percaya bahwa seburuk apa pun realitas yang datang kepada kita, selalu masih ada satu hal yang dapat kita lakukan: menjadikannya alasan untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia lain.









