Binanews.id | Bogor – Dunia digital saat ini membuat profesi Key Opinion Leader (KOL) semakin diminati generasi muda. Namun di tengah persaingan media sosial yang serba cepat, masih banyak orang berpikir bahwa kesuksesan seorang KOL hanya ditentukan dari jumlah followers. Pandangan itu ternyata tidak sepenuhnya benar.
Hal tersebut disampaikan Kintan, alumni penerima Beasiswa 1.000 Da’i UIKA dan BAMUIS BNI yang kini aktif sebagai muslimah KOL di bidang fashion syar’i dan lifestyle. Meski memiliki jumlah pengikut yang belum terlalu besar, ia justru beberapa kali dipercaya berkolaborasi dengan berbagai brand muslimah nasional.
“Followers aku sekitar 1.600-an, tapi engagement rate aku sampai 62 persen. Jadi sebenarnya yang dilihat brand sekarang bukan cuma angka followers,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (19/5/2026).
Menurut Kintan, perkembangan digital marketing membuat banyak perusahaan mulai beralih dari konsep hard selling menuju pendekatan storytelling yang lebih personal. Karena itu, brand kini lebih mempertimbangkan kedekatan seorang KOL dengan audiensnya dibanding sekadar popularitas.
Ia mengaku kerap membangun kontennya melalui cerita sehari-hari agar lebih terasa natural dan tidak terkesan hanya menjual produk.
“Aku lebih suka mengenalkan produk lewat storytelling. Jadi bukan sekadar jualan, tapi bagaimana orang merasa relate dengan cerita yang kita sampaikan,” katanya.
Pendekatan tersebut membuatnya dipercaya bekerja sama dengan beberapa brand muslimah seperti Jilbrave, Albata Hijab, Jamis Syar’i hingga komunitas fashion syar’i lainnya.
Menariknya, perjalanan Kintan di dunia KOL justru dimulai tanpa perencanaan matang. Saat pandemi Covid-19 membuat aktivitas berpindah ke dunia digital, ia mulai aktif berbagi cerita dan pandangan di media sosial.
Awalnya, ia hanya ingin menyampaikan aspirasi dan inspirasi kepada orang lain. Namun tanpa disadari, kontennya mulai membangun audiens sendiri.
Ia juga menyadari bahwa profesi KOL saat ini telah berkembang menjadi bagian penting dalam strategi bisnis dan pemasaran digital perusahaan.
“Sekarang KOL itu banyak tahapannya. Ada nano influencer, micro influencer, sampai yang besar-besar. Jadi followers kecil bukan berarti nggak punya pengaruh,” jelasnya.
Menurutnya, nano influencer justru memiliki kekuatan dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan followers. Hal itu membuat audiens lebih percaya terhadap rekomendasi yang diberikan.
Meski begitu, ia mengakui tantangan terbesar dalam dunia KOL bukan hanya soal konsistensi membuat konten, tetapi juga menjaga personal branding dan mental diri sendiri.
“Terkadang likes sedikit atau viewers turun bisa bikin semangat ikut turun. Tapi kalau kita punya visi dan misi yang jelas, kita jadi lebih kuat menjalaninya,” ujarnya.
Sebagai muslimah content creator, Kintan memilih membangun citra diri sebagai “Gen Z Story Teller” dengan fokus pada muslimah lifestyle dan cerita kehidupan sehari-hari.
Ia percaya personal branding yang kuat lahir dari karakter yang autentik, bukan pencitraan semata.
“Yang penting niche kita jelas dan kita tahu tujuan kita bikin konten itu untuk apa,” katanya.
Di tengah berkembangnya industri digital kreatif di Indonesia, kisah Kintan menjadi gambaran bahwa peluang di dunia KOL masih sangat terbuka, bahkan bagi kreator dengan jumlah followers yang belum besar sekalipun.
Karena pada akhirnya, media sosial bukan lagi sekadar soal siapa yang paling viral, tetapi siapa yang paling mampu membangun hubungan dan kepercayaan dengan audiensnya.









