Perjalanan Kintan Menemukan Misi Hidupnya Lewat Dakwah Digital

Tidak semua orang yang aktif di media sosial sejak awal bercita-cita menjadi content creator. Ada yang justru memulainya dari luka

Prabu

- Redaksi

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:21 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor – Tidak semua orang yang aktif di media sosial sejak awal memang bercita-cita menjadi content creator. Ada yang justru memulainya dari luka, rasa tidak percaya diri, hingga perjalanan panjang untuk menerima dirinya sendiri. Itulah yang tergambar dari sosok Kintan, alumni penerima Beasiswa 1.000 Da’i dari Umiversitas Ibnu Kholdun (UIKA) dan Baitulmal Ummat Islam (BAMUIS) BNI yang kini dikenal sebagai muslimah Key Opinion Leader (KOL) di bidang fashion syar’i dan lifestyle.

Di balik konten estetik dan kolaborasi bersama berbagai brand muslimah, ternyata ada kisah seorang perempuan yang pernah mengalami bullying selama masa sekolah dasar. Pengalaman itu membuat dirinya tumbuh dengan rasa insecure dan kesulitan untuk percaya diri.

“Dulu aku bukan tipe orang yang suka ngonten. Aku juga pernah dibully waktu SD selama enam tahun. Jadi sebenarnya aku tumbuh dengan rasa insecure,” ungkapnya saat diwawancarai, Selasa (19/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun hidup sering berjalan dengan cara yang tidak terduga. Saat pandemi Covid-19 melanda dan aktivitas beralih ke dunia digital, Kintan mulai aktif membagikan cerita, pemikiran, dan pengalamannya di media sosial. Dari sana, perlahan ia menemukan ruang baru untuk bertumbuh.

Awalnya, dunia KOL bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bahkan saat mengikuti seleksi business agent salah satu brand gamis muslimah nasional, ia mengaku hanya iseng mencoba.

Baca Juga:  Harlan Bestari Bengardi: Perjalanan Anak Kuli Bangunan hingga Jadi CEO & CO Founder Pestigo

“Aku sampai bilang di Google Form, kalau nggak diterima juga nggak apa-apa. Aku cuma berharap brand itu bisa mengubah persepsi orang bahwa gamis bukan cuma untuk ibu-ibu,” katanya sambil tertawa kecil.

Tak disangka, langkah kecil itu justru menjadi titik balik hidupnya. Dari sana, ia mulai aktif membangun personal branding sebagai muslimah storyteller. Ia ingin menunjukkan bahwa berpakaian syar’i tetap bisa nyaman, modern, dan fashionable tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.

“Aku pengen banyak muslimah ngerasain hal yang sama. Ternyata pakai gamis itu nggak setua itu kok. Tetap bisa fashionable dan tetap sesuai syariat,” ujarnya.

Kini, Kintan aktif berkolaborasi dengan sejumlah brand muslimah seperti Jilbrave, Albata Hijab, hingga berbagai komunitas fashion syar’i. Meski jumlah pengikutnya belum terlalu besar, ia justru menekankan pentingnya engagement dan hubungan yang sehat dengan audiens.

“Followers aku sekitar 1.600-an, tapi engagement rate-nya sampai 62 persen. Jadi yang penting bukan sekadar angka, tapi seberapa berpengaruh kita ke orang-orang yang mengikuti kita,” jelasnya.

Baginya, menjadi KOL bukan sekadar soal promosi produk atau tampil menarik di media sosial. Ada tanggung jawab moral yang harus dijaga, terutama sebagai muslimah dan penerima beasiswa dakwah.

Baca Juga:  Berdamai dengan Kritik, Belajar dari Cara Pandji Pragiwaksono

Ia menyebut media sosial hari ini seperti diary digital yang harus digunakan dengan bijak. Sebab apa yang dibagikan seseorang bisa memengaruhi banyak orang lain.

“Tantangan terbesarnya itu ego. Kadang orang pengin flexing atau sekadar sharing keseruan hidupnya. Itu nggak salah sebenarnya. Tapi kita harus sadar, apa yang kita tampilkan bisa ditiru orang lain,” katanya.

Perjalanan hidup Kintan sendiri tidak lepas dari dukungan Beasiswa 1.000 Da’i BAMUIS BNI. Ia mengaku program tersebut menjadi salah satu keajaiban terbesar dalam hidupnya. Di tengah kebingungan memikirkan biaya kuliah, beasiswa itu hadir dan membuatnya bisa bertahan hingga lulus.

“Ayahku bahkan pernah bilang kayak nggak nguliahin anak, karena semua kebutuhan kuliah bisa aku tanggung sendiri. Buat aku itu pencapaian besar,” tuturnya.

Selain aktif sebagai KOL, saat ini Kintan juga bekerja sebagai konsultan pendidikan sambil tetap menjalankan aktivitas komunitas dan menulis karya nonfiksi maupun tulisan motivasi.

Meski begitu, ia mengaku masih terus belajar menentukan arah dan niche yang benar-benar sesuai dengan dirinya. Ia memilih menyebut dirinya sebagai “Gen Z Story Teller”, karena percaya cerita memiliki kekuatan untuk menyentuh hati banyak orang.

“Aku suka cerita. Dan aku pengen cerita aku membekas dengan baik di hati orang lain,” katanya.

Dalam perjalanan menjadi muslimah content creator, Kintan juga pernah merasa minder ketika harus berada di tengah para influencer besar dengan puluhan ribu pengikut. Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah saat diundang sebuah brand gamis syar’i ke Bandung dalam acara gathering KOL nasional.

Baca Juga:  Dr. Syahidah Rena: Membangun Fondasi Psikologi Pendidikan Islam

“Aku ngerasa paling kecil di sana. Followers aku sedikit banget dibanding yang lain. Tapi aku bilang ke diri sendiri, ‘Kalau kamu ada di sini, berarti kamu layak’,” kenangnya.

Kini, Kintan memegang satu prinsip sederhana yang terus ia jadikan pegangan hidup, yakni “engage, empower, inspire”. Baginya, selama tiga hal itu tetap dijalankan, maka apapun profesi dan jalan hidup seseorang akan tetap bermakna.

Di akhir wawancara, ia berpesan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa penerima beasiswa, agar tidak takut berkarya dan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hal-hal baik.

“Kita nggak perlu nunggu diundang ceramah di atas mimbar dulu untuk berdakwah. Sekarang lewat media sosial pun kita bisa jadi cahaya buat orang lain,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan menerima beasiswa adalah amanah besar yang harus dijaga dengan baik.

“Ingat, posisi beasiswa yang sekarang kamu punya itu adalah harapan dari banyak orang yang ingin ada di posisi kamu. Jadi manfaatkan sebaik-baiknya dan jadilah role model yang baik,” pungkasnya.

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB