Bina News | Jika dahulu buku menjadi sumber utama pengetahuan dan pembelajaran, kini platform digital seperti Tik Tok semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Dengan durasi video yang singkat, tampilan yang menarik, dan akses yang mudah, TikTok berhasil menjadi salah satu media favorit bagi anak-anak dan remaja.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, cara generasi muda memperoleh informasi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Fenomena ini sejalan dengan karakteristik Generasi Z yang tumbuh dalam lingkungan digital dan cenderung mengonsumsi informasi secara cepat dan visual (Prensky, 2001). Namun, perkembangan ini juga memunculkan pertanyaan penting: apakah kehadiran TikTok memperkuat atau justru melemahkan budaya literasi di Indonesia?
TikTok menawarkan berbagai manfaat dalam penyebaran informasi. Banyak content creator yang membagikan pengetahuan tentang pendidikan, sejarah, sains, bahasa, hingga pengembangan diri dalam format yang mudah dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa media sosial dapat meningkatkan keterlibatan belajar dan motivasi siswa ketika digunakan secara tepat dalam konteks pendidikan (Tess, 2013). Bagi sebagian pengguna, TikTok menjadi pintu masuk untuk mengenal topik-topik baru yang sebelumnya tidak pernah mereka pelajari. Kemampuan platform ini dalam menyajikan informasi secara cepat dan menarik membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dan lebih dekat dengan gaya belajar generasi saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Budaya konsumsi informasi yang serba cepat berpotensi mengurangi kebiasaan membaca secara mendalam. Menurut Maryanne Wolf (2018), kebiasaan membaca digital yang didominasi oleh aktivitas skimming atau membaca sekilas dapat memengaruhi kemampuan pembaca untuk melakukan analisis mendalam, refleksi, dan pemahaman kritis. Buku menuntut pembaca untuk berkonsentrasi, menghubungkan ide, dan memahami argumen secara komprehensif. Sebaliknya, konten video pendek sering kali mendorong pengguna untuk berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya dalam waktu singkat. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam dapat berkurang apabila generasi muda terlalu bergantung pada informasi instan.
Selain itu, tidak semua informasi yang beredar di media sosial memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Penyebaran informasi yang cepat sering kali diikuti oleh meningkatnya resiko misinformasi dan disinformasi. Menurut laporan UNESCO(2023), literasi digital menjadi kompetensi esensial yang harus dimiliki masyarakat agar mampu mengevaluasi, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Tanpa kemampuan tersebut, pengguna dapat dengan mudah menerima dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Pada akhirnya, literasi di abad ke-21 tidak lagi hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Dalam konteks ini, buku dan media digital memiliki peran masing-masing. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi yang cepat, tetapi juga pembelajar yang mampu memahami pengetahuan secara mendalam, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi di era digital.
References
Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.
Tess, P. A. (2013). The role of social media in higher education classes: A literature review. Computers in Human Behavior, 29(5), A60–A68. https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.12.032
Reader, Come Home Wolf, M. (2018). Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World. New York: HarperCollins.
UNESCO. (2023). Guidelines for Digital Literacy and Media Information Literacy. Paris: UNESCO.









