Binanews.id | Di tengah derasnya arus media sosial hari ini, banyak orang tampak semakin terhubung, namun pada saat yang sama semakin mudah merasa cemas, lelah, dan tidak pernah benar-benar merasa cukup. Setiap hari, linimasa digital dipenuhi foto pencapaian, perjalanan hidup, kesuksesan karier, gaya hidup, hingga standar kebahagiaan yang terus dipertontonkan. Tanpa disadari, masyarakat modern—terutama generasi muda—hidup dalam tekanan sosial yang tidak selalu terlihat: ketakutan tertinggal dari orang lain atau yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).
Fenomena ini bukan lagi sekadar tren psikologis, melainkan realitas sosial yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru, aktif di media sosial, memahami tren digital, hingga terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Ketika orang lain terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih produktif, muncul perasaan tertinggal, cemas, bahkan tidak berharga.
Ironisnya, kecemasan tersebut sering muncul bukan karena kehidupan nyata yang buruk, tetapi karena paparan realitas digital yang terus-menerus. Media sosial menghadirkan ruang di mana setiap orang cenderung menampilkan versi terbaik dirinya. Yang terlihat adalah pencapaian, senyuman, dan keberhasilan, sementara kegagalan, kesepian, dan tekanan hidup sering disembunyikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, banyak orang tanpa sadar membandingkan kehidupan nyata mereka dengan “kehidupan ideal” orang lain di internet.
Menurut Leon Festinger (1954) melalui Social Comparison Theory, manusia secara alami memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaiannya. Dalam konteks media sosial modern, proses perbandingan ini terjadi jauh lebih intens dan tidak terbatas. Jika dahulu seseorang hanya membandingkan dirinya dengan lingkungan terdekat, kini perbandingan berlangsung setiap saat melalui layar telepon genggam.
Penelitian yang dilakukan oleh Andrew K. Przybylski (2013) dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa FOMO berkaitan erat dengan kecemasan sosial, ketidakpuasan hidup, serta kebutuhan psikologis untuk diterima oleh lingkungan sosial. Individu yang mengalami FOMO cenderung merasa takut tertinggal pengalaman, informasi, atau momen sosial yang dimiliki orang lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres emosional, gangguan fokus, hingga kelelahan mental.
Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini kini tidak hanya dialami oleh kalangan tertentu. Anak muda, pekerja, ibu rumah tangga, bahkan pelajar sekalipun mulai hidup dalam budaya perbandingan sosial digital. Banyak orang merasa harus selalu produktif, selalu aktif, dan selalu terlihat “baik-baik saja”. Di tengah budaya digital yang bergerak cepat, beristirahat sering dianggap kemunduran, sementara diam dari media sosial kadang dipandang sebagai ketertinggalan sosial.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat modern sedang menghadapi krisis psikologis yang cukup serius: kehilangan kemampuan untuk merasa cukup. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari ketenangan hidup, tetapi dari seberapa menarik kehidupan seseorang terlihat di hadapan publik digital. Validasi sosial menjadi kebutuhan baru yang diam-diam mengendalikan emosi banyak orang.
Padahal, kehidupan nyata tidak pernah berjalan seideal yang tampil di media sosial. Tidak semua orang yang terlihat bahagia benar-benar bahagia. Tidak semua pencapaian digital mencerminkan ketenangan hidup yang sesungguhnya. Sayangnya, algoritma media sosial justru bekerja dengan memperkuat dorongan emosional manusia untuk terus melihat, membandingkan, dan mencari pengakuan.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlu membangun kembali kesadaran psikologis yang sehat dalam menggunakan teknologi. Media sosial seharusnya menjadi alat komunikasi dan berbagi informasi, bukan ruang untuk terus-menerus mengukur nilai diri berdasarkan kehidupan orang lain. Literasi digital hari ini tidak cukup hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan mental di tengah tekanan sosial digital.
Di sinilah pentingnya peran keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial dalam membangun budaya yang lebih sehat. Generasi muda perlu diajarkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah likes, pengikut, atau pencapaian yang dipamerkan di internet. Kehidupan manusia tidak dapat diukur hanya dari apa yang terlihat di layar.
Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat modern bukan sekadar perkembangan teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan manusia menjaga kesehatan psikologis di tengah dunia yang terus menuntut perhatian. Sebab, di era digital hari ini, tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar hidup tanpa kecemasan.
References
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.









