Dr. Warsito dan Rompi yang Mengubah Hidup Para Pejuang Kanker

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Kamis, 3 September 2026 - 17:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Seorang perempuan paruh baya duduk tenang di ruang tunggu CTECH Lab, Alam Sutera. Di pangkuannya, sebuah rompi berwarna putih bersih. Di dalam rompi itu, terselip kumparan logam yang terhubung dengan dua baterai AA 1,5 volt. Begitu ia memakainya, medan listrik statis kecil mengalir ke tubuhnya. 

Perempuan itu adalah salah satu dari ribuan pasien kanker yang datang ke klinik riset pimpinan Dr. Warsito Purwo Taruno. Sejak 2012, lebih dari 12.900 penderita kanker tercatat di klinik ini. Sebagian besar adalah pasien kanker payudara . Mereka datang bukan untuk kemoterapi atau operasi. Mereka datang untuk menjalani terapi rompi hasil ciptaan Dr. Warsito.

Warsito bukan dokter. Ia ilmuwan. Lulusan doktoral Teknik Elektro Universitas Shizuoka, Jepang, ini menghabiskan lebih dari dua dasawarsa mengembangkan teknologi bernama Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) . ECCT adalah terapi yang memanfaatkan medan listrik berdaya sangat rendah untuk menargetkan sel kanker saat membelah. 

Baca Juga:  Ajengan Ruhiat, Ulama Pejuang dari Tasikmalaya Pendiri Pesantren Cipasung

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ide ini lahir dari penderitaan pribadi. Kakak perempuannya, Suwarni, divonis kanker payudara stadium IV. Warsito menciptakan rompi dan mencobakan langsung pada kakaknya. Perlahan, sang kakak sembuh dan bertahan hidup hingga lebih dari 15 tahun .

“Stadium IV enggak masalah. Semakin tinggi stadiumnya, semakin sedikit pakai rompinya,” kata Warsito dalam sebuah kesempatan . Prinsipnya sederhana yaitu sel kanker memiliki tingkat kelistrikan yang lebih tinggi, terutama saat membelah. Medan listrik dari rompi akan mengganggu proses itu dan membunuhnya. Sel kanker yang mati kemudian dibuang tubuh lewat keringat, urine, atau feses .

Rompi ini bukan satu-satunya. Warsito juga menciptakan helm untuk kanker otak dan selimut untuk leukemia . Bentuknya menyesuaikan lokasi kanker di tubuh pasien.

Baca Juga:  Santri Pesantren Modern UQI Wakili Indonesia di ASEAN Camp 2026 di UTCC Thailand

Hasilnya? Sejak dikembangkan pada 2003, sekitar 300-400 pasien yang menggunakan ECCT mengalami remisi dan tidak terdeteksi sel kanker lagi . Pasien kanker paru-paru yang awalnya hanya diberi harapan hidup 4-12 bulan, bisa bertahan lebih dari 25 bulan dengan ECCT. Bahkan ada yang mencapai lebih dari 10 tahun dalam kondisi sehat .

Pengakuan datang. Pada 2015, Warsito menerima penghargaan Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award dari pemerintah Indonesia . Teknologi ECVT-nya bahkan diakui dan dipakai oleh lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, dan Departemen Energi AS .

Namun perjalanannya tidak mulus. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa alat ini belum melalui uji klinis fase 3 yang lengkap, sehingga statusnya masih sebagai terapi alternatif atau paliatif . Perhimpunan Dokter Spesialis Indonesia juga menyoroti bahwa penemuan baru, sekalipun telah lulus kajian akademis, tetap perlu menjalani rangkaian uji klinis panjang sebelum bisa menjadi standar pelayanan kesehatan .

Baca Juga:  Nelly Nurul Awaliyah: Dari Hobi Menulis jadi Penulis Novel Digital Produktif

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi kala itu, Mohamad Nasir, menyatakan dukungannya. “Sambil menunggu selesai uji klinis phase 3, alat terapi kanker ECCT ini dapat dijadikan perawatan alternatif terutama bagi para pejuang kanker yang gagal terapi, yang sudah tidak mempunyai harapan,” ujarnya di Tangerang pada 2016 .

Warsito sendiri mengakui, tidak semua pasien berhasil. Dari 6.000-an pasien yang pernah konsultasi, sekitar 50 persen membaik, 40 persen stagnan, dan 10 persen tidak merespons . Namun bagi mereka yang datang dalam kondisi putus asa, setelah gagal kemoterapi dan dinyatakan tak bisa ditangani medis, rompi ini menjadi jalan terakhir.[]

Penulis : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB