Binanews.id | Bogor–Seorang perempuan paruh baya duduk tenang di ruang tunggu CTECH Lab, Alam Sutera. Di pangkuannya, sebuah rompi berwarna putih bersih. Di dalam rompi itu, terselip kumparan logam yang terhubung dengan dua baterai AA 1,5 volt. Begitu ia memakainya, medan listrik statis kecil mengalir ke tubuhnya.
Perempuan itu adalah salah satu dari ribuan pasien kanker yang datang ke klinik riset pimpinan Dr. Warsito Purwo Taruno. Sejak 2012, lebih dari 12.900 penderita kanker tercatat di klinik ini. Sebagian besar adalah pasien kanker payudara . Mereka datang bukan untuk kemoterapi atau operasi. Mereka datang untuk menjalani terapi rompi hasil ciptaan Dr. Warsito.
Warsito bukan dokter. Ia ilmuwan. Lulusan doktoral Teknik Elektro Universitas Shizuoka, Jepang, ini menghabiskan lebih dari dua dasawarsa mengembangkan teknologi bernama Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) . ECCT adalah terapi yang memanfaatkan medan listrik berdaya sangat rendah untuk menargetkan sel kanker saat membelah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ide ini lahir dari penderitaan pribadi. Kakak perempuannya, Suwarni, divonis kanker payudara stadium IV. Warsito menciptakan rompi dan mencobakan langsung pada kakaknya. Perlahan, sang kakak sembuh dan bertahan hidup hingga lebih dari 15 tahun .
“Stadium IV enggak masalah. Semakin tinggi stadiumnya, semakin sedikit pakai rompinya,” kata Warsito dalam sebuah kesempatan . Prinsipnya sederhana yaitu sel kanker memiliki tingkat kelistrikan yang lebih tinggi, terutama saat membelah. Medan listrik dari rompi akan mengganggu proses itu dan membunuhnya. Sel kanker yang mati kemudian dibuang tubuh lewat keringat, urine, atau feses .
Rompi ini bukan satu-satunya. Warsito juga menciptakan helm untuk kanker otak dan selimut untuk leukemia . Bentuknya menyesuaikan lokasi kanker di tubuh pasien.
Hasilnya? Sejak dikembangkan pada 2003, sekitar 300-400 pasien yang menggunakan ECCT mengalami remisi dan tidak terdeteksi sel kanker lagi . Pasien kanker paru-paru yang awalnya hanya diberi harapan hidup 4-12 bulan, bisa bertahan lebih dari 25 bulan dengan ECCT. Bahkan ada yang mencapai lebih dari 10 tahun dalam kondisi sehat .
Pengakuan datang. Pada 2015, Warsito menerima penghargaan Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award dari pemerintah Indonesia . Teknologi ECVT-nya bahkan diakui dan dipakai oleh lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, dan Departemen Energi AS .
Namun perjalanannya tidak mulus. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa alat ini belum melalui uji klinis fase 3 yang lengkap, sehingga statusnya masih sebagai terapi alternatif atau paliatif . Perhimpunan Dokter Spesialis Indonesia juga menyoroti bahwa penemuan baru, sekalipun telah lulus kajian akademis, tetap perlu menjalani rangkaian uji klinis panjang sebelum bisa menjadi standar pelayanan kesehatan .
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi kala itu, Mohamad Nasir, menyatakan dukungannya. “Sambil menunggu selesai uji klinis phase 3, alat terapi kanker ECCT ini dapat dijadikan perawatan alternatif terutama bagi para pejuang kanker yang gagal terapi, yang sudah tidak mempunyai harapan,” ujarnya di Tangerang pada 2016 .
Warsito sendiri mengakui, tidak semua pasien berhasil. Dari 6.000-an pasien yang pernah konsultasi, sekitar 50 persen membaik, 40 persen stagnan, dan 10 persen tidak merespons . Namun bagi mereka yang datang dalam kondisi putus asa, setelah gagal kemoterapi dan dinyatakan tak bisa ditangani medis, rompi ini menjadi jalan terakhir.[]
Penulis : Fathurroji









