Binanews.id | Hari Sabtu kemarin saya berkunjung ke Blok M Square. Niat awalnya sederhana, ingin melihat-lihat toko batu akik. Siapa tahu masih ada batu unik yang menarik. Namun ternyata saya menemukan sesuatu yang jauh lebih antik daripada batu akik.
Buku.
Saya cukup terkejut ketika mengetahui banyak toko buku bekas yang berjejer. Begitu masuk ke koridornya, seperti berjalan menembus lorong waktu. Rak-rak penuh buku tua berdiri rapat. Aroma kertas yang menguning membawa ingatan kepada masa lalu. Saat saya menjadi bagian perpustakaan organisasi santri di pesantren. Sekitar pertengahan tahun 1999. Saya dan beberapa kawan berburu buku di kawasan Senen Jakarta Pusat.
Di Blok M lantai dasar saya menemukan beberapa harta karun. Salah satunya terjemah Shahih Bukhari terbitan tahun 1961. Ada pula buku Falsafah Agama karya Prof. Harun Nasution terbitan tahun 1973. Buku-buku yang usianya bahkan lebih tua daripada banyak pembacanya hari ini. Yang membuat saya tersenyum, harganya masih sangat bersahabat. Ada yang hanya sepuluhribuan. Sangat terjangkau di saat dolar sedang meroket ke angkasa.
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya harga buku dengan dolar?
Tidak ada juga sih. Hehe…
Tapi ketika harga berbagai kebutuhan naik, kurs dolar menguat, dan daya beli masyarakat menurun, membeli buku baru kadang menjadi kemewahan. Untuk mengeluarkan uang gambar presiden pertama dari dompet rasanya sulit. Di titik ini, toko buku bekas Blok M Square menjadi oase. Dengan anggaran yang sangat terbatas, kita masih bisa membawa pulang ilmu. Nilai ilmu dalam buku tentunya lebih mahal daripada uang yang kita belanjakan. Karena sesungguhnya yang kita beli bukanlah kertas. Kita membeli pengalaman hidup para penulis. Kita membeli pemikiran yang lahir dari puluhan tahun membaca, merenung, dan meneliti. Kita membeli waktu yang dipadatkan menjadi lembaran-lembaran halaman.
Di tengah ekonomi yang sedang tidak mudah, nutrisi untuk otak jangan sampai ikut tersendat. Perut memang perlu makan, tetapi pikiran juga membutuhkan asupan. Sebab kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah kosongnya dompet, melainkan kosongnya wawasan.
Membeli buku mungkin tidak langsung membuat seseorang kaya. Namun sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu dibangun oleh orang-orang yang rajin membaca. Investasi ilmu hampir tidak pernah merugi. Uang yang kita keluarkan untuk membeli buku bisa habis dalam hitungan detik. Tetapi gagasan yang kita dapatkan darinya bisa menemani seumur hidup. Bahkan setelah kita tiada, buku-buku yang tersimpan di rak rumah masih dapat dibaca oleh anak dan cucu.
Mereka mungkin tidak mewarisi rekening yang besar. Tetapi mereka bisa mewarisi cahaya pengetahuan. Dan sering kali warisan seperti itulah yang paling lama bertahan.
Jadi kalau suatu hari sahabat berkunjung ke Blok M Square, jangan hanya berburu kuliner. Cobalah masuk ke deretan toko buku bekasnya. Siapa tahu di antara tumpukan buku yang mulai menguning itu, ada sebuah gagasan yang akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Allahu a’lam









