ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998

Tedy

- Redaksi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id. Bogor. Runtuhnya rezim orde baru tahun 1998, menandakan dimulainya sejarah Reformasi, peristiwa itu tidak dapat dilepaskan dari peran penting berbagai kelompok organisasi mahasiswa yang pada masa itu sangat berani menyuarakan perubahan di tengah kuatnya kekuasaan Orde Baru. Salah satu organisasi yang memiliki kiprah kuat mengakar dan menonjol adalah Forum Kota (Forkot), sebuah jaringan gerakan mahasiswa lintas kampus di wilayah Jabodetabek, dengan titik pusatnya di Jakarta dan sekitarnya.

Diawal kemunculannya organisasi Forkot dikenal dengan nama awal Forum Komunitas Mahasiswa Se-Jabotabek (FKMsJ). Banyak sumber sejarah merekam bahwa forum tersebut dibentuk pada 7 Maret 1998 dua bulan sebelum presiden Soeharto lengser, melalui konsolidasi mahasiswa dari berbagai kampus yang memiliki tradisi gerakan kritis di sekitar Jakarta. Dalam proses perjalanannya , nama Forum Komunitas Mahasiswa Se-Jabotabek (FKMsJ) lebih populer dengan sebutan Forum Kota atau Forkot.

Jaringan ini pada awalnya menghimpun gerakan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Kristen Indonesia (UKI), IKIP Jakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nasional (UNAS), Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), serta sejumlah kampus lainnya diwilayah Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, jaringan Forkot bahkan disebut pernah melibatkan puluhan kampus.

Baca Juga:  Perkuat Konservasi Harimau Sumatra, TSI Jalin Kerja Sama Dengan Pusat Gadai Indonesia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tokoh Penggagas dan Pendiri ForKot

Salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan kelahiran Forkot adalah Adian Napitupulu, aktivis mahasiswa dari Universitas Kristen Indonesia. Sejumlah sumber menyebut Adian sebagai salah satu pendiri sekaligus tokoh penting dalam konsolidasi mahasiswa lintas kampus menjelang Reformasi 1998. Adian bersama sejumlah aktivis lainnya berkeliling dari kampus ke kampus untuk membangun kekuatan bersama menghadapi pemerintahan Orde Baru.

Nama lain yang tercatat dalam sejumlah sumber sejarah adalah Abdullah Taruna dari IKIP Jakarta, Savic Ali dari STF Driyarkara, dan Eli Salomo dari ISTN. NU Online, misalnya, menyebut Abdullah Taruna, Adian Napitupulu, Savic Ali, dan Eli Salomo sebagai sejumlah nama yang dianggap sebagai pendiri Forkot pada masa itu.

Sementara itu, kajian akademik mengenai gerakan mahasiswa 1998 juga mencatat nama Abdullah, Adian Napitupulu, Syafieq, dan Eli Salomo sebagai tokoh yang terkait dengan Forkot. Perbedaan penyebutan nama dalam berbagai sumber menunjukkan bahwa Forkot sejak awal lebih merupakan jaringan atau forum lintas kampus daripada organisasi mahasiswa konvensional yang memiliki struktur kepengurusan tunggal.

Baca Juga:  320 CDOB Konsolidasi Nasional, FORKONAS Perkuat Perjuangan Pemekaran Bogor Barat

Dalam konteks politik nasional, Ansy Lema juga pernah disebut sebagai salah satu pendiri Forkot bersama Adian Napitupulu dan Masinton Pasaribu dalam publikasi Parlementaria DPR RI. Hal ini menunjukkan luasnya jejaring aktivis yang kemudian memiliki peran masing-masing dalam perjalanan politik dan sosial Indonesia setelah Reformasi.

Menjadi Kekuatan Penting Gerakan Reformasi

Memasuki tahun 1998, krisis ekonomi, ketidakpuasan masyarakat, serta tuntutan terhadap demokratisasi semakin menguat. Forkot tampil sebagai salah satu kelompok mahasiswa yang secara terbuka mendesak perubahan politik dan berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto. Gerakan Forkot dikenal dengan pola aksi massa yang besar dan mobilisasi lintas kampus. Kajian sejarah menyebut Forkot sebagai salah satu kekuatan gerakan mahasiswa yang berusaha mendorong reformasi total, termasuk perubahan politik dan pemerintahan.

Salah satu momentum penting terjadi pada 18 Mei 1998, ketika mahasiswa melakukan aksi besar di kawasan DPR/MPR. Forkot termasuk kelompok mahasiswa yang berperan dalam mobilisasi dan pendudukan kompleks parlemen. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting yang semakin memperkuat tekanan politik terhadap pemerintahan Soeharto. Gerakan tersebut pada akhirnya berlangsung bersamaan dengan perubahan politik nasional yang sangat cepat. Pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya setelah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga:  ICMI Kota Bogor Inisiasi FGD Pemberdayaan Sosio-Ekonomi Masjid Berbasis Data Presisi

Warisan Gerakan

Kiprah Forkot tidak berhenti semata-mata pada aksi demonstrasi. Para aktivisnya kemudian menempuh jalan yang beragam, mulai dari dunia politik, advokasi, hukum, media, pendidikan, hingga gerakan masyarakat sipil. Adian Napitupulu, misalnya, kemudian memasuki dunia politik dan menjadi anggota DPR RI. Aktivis lainnya seperti Abdullah Taruna melanjutkan kiprahnya di bidang jurnalistik dan pendidikan, sementara sejumlah tokoh Forkot lainnya mendirikan atau bergabung dengan berbagai organisasi gerakan setelah Reformasi.

Sejarah Forkot dengan demikian menjadi bagian penting dari sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Forum tersebut memperlihatkan bagaimana konsolidasi lintas kampus dapat menjadi kekuatan sosial-politik yang mampu memberikan tekanan terhadap kekuasaan.

Lebih dari dua dekade setelah Reformasi, jejak Forkot tetap relevan untuk melihat kembali keberanian mahasiswa dalam memperjuangkan demokrasi. Bagi generasi muda, pengalaman gerakan mahasiswa 1998 menjadi pengingat bahwa perubahan sosial tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui keberanian menyampaikan kritik, membangun solidaritas, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Forkot adalah salah satu catatan penting bahwa mahasiswa bukan sekadar kelompok akademik di ruang kelas, tetapi juga pernah menjadi kekuatan moral dan politik yang ikut menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia. (Ted)

Berita Terkait

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi
Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta
IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter
LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open
Perkuat Konservasi Harimau Sumatra, TSI Jalin Kerja Sama Dengan Pusat Gadai Indonesia
Bupati Bogor Silaturahmi dengan Tokoh Muhammadiyah di Leuwiliang
SDO GPI 2026 Hasilkan 15 Rekomendasi Strategis, Formula Ijtihad Politik Menuju 2029
Pelantikan DPP FKDSI Wadah Perjuangan Dosen Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:17 WIB

ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:16 WIB

IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:50 WIB

LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB