Binanews.id | Pada 2016, sejumlah warga Aceh menggugat Kementerian Dalam Negeri. Perkaranya bukan soal tanah yang dirampas atau kampung yang digusur, melainkan sebuah dokumen. Rancangan tata ruang wilayah Aceh yang disusun pemerintah daerah tidak mencantumkan Kawasan Ekosistem Leuser di dalamnya.
Hutan seluas jutaan hektare itu tidak dibakar, tidak ditebang, dan tidak dijual. Ia cuma dihapus dari peta. Namun bagi mereka yang mengerti cara kerja izin dan perencanaan, hilang dari kertas adalah langkah pertama menuju hilang sungguhan.
Di antara warga yang menggugat itu ada seorang perempuan bernama Farwiza Farhan. Sepuluh tahun kemudian, pada April lalu, ia menerima Whitley Gold Award, penghargaan tertinggi dari Whitley Fund for Nature yang di kalangan pegiat lingkungan dijuluki The Green Oscar. Penghargaan itu hanya diberikan kepada penerima terdahulu yang dinilai terus memberi sumbangan luar biasa, dan Farwiza pertama kali meraih Whitley Award pada 2016, tahun yang sama ketika gugatan itu bergulir.
Yang ia jaga bukan hutan sembarangan. Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh dan Sumatra Utara adalah satu-satunya tempat tersisa di muka bumi tempat orangutan, badak, gajah, dan harimau masih hidup berdampingan di alam liar. Kehilangan satu saja dari empat spesies itu berarti kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibuat ulang di tempat mana pun.
Farwiza lahir di Banda Aceh pada 1 Mei 1986, sulung dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya akademisi Universitas Syiah Kuala. Ayahnya, Ahmad Farhan Hamid, mengajar di jurusan Farmasi sebelum menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sementara ibunya, Ferry Soraya, mengajar Teknik Kimia. Sejak kecil ia dan adiknya terbiasa membuntuti ibunya mengajar dan turun ke lapangan.
Perkenalan pertamanya dengan alam justru datang lewat layar kaca. Serial dokumenter BBC berjudul Planet Earth membuatnya jatuh cinta pada laut dan segala isinya. Ia lalu kuliah Biologi Kelautan di Universiti Sains Malaysia, mengambil magister Manajemen Lingkungan di University of Queensland, Australia, dan kini tercatat sebagai kandidat doktor di Radboud Universiteit, Belanda. Sejak usia 18 tahun ia juga mengantongi sertifikat resmi sebagai instruktur scuba diving.
Anak laut itu berakhir di hutan karena keadaan. Sepulang dari Australia pada 2010, ia bergabung dengan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser, lembaga yang saat itu berwenang mengurus kawasan tersebut. Dua tahun berselang, badan itu dibubarkan oleh Gubernur Zaini Abdullah. Alih-alih mencari pekerjaan lain, Farwiza dan sejumlah bekas rekannya mendirikan Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh atau HAkA.
Di titik itulah cara pandangnya terbentuk. Bagi banyak orang, melindungi lingkungan selalu berhadap-hadapan dengan kebutuhan ekonomi. Farwiza menolak dikotomi itu dan meyakini keduanya bisa saling menopang. Karena itu ia tidak memilih jalur yang paling terlihat heroik. Ia memusatkan kerjanya pada kebijakan dan advokasi, hal-hal yang membosankan seperti dokumen perencanaan, izin perusahaan, dan pasal-pasal, sambil terus mendorong lebih banyak perempuan terlibat dalam penyelamatan lingkungan.
Pilihan itu masuk akal jika melihat apa yang mengancam Leuser. Kawasan ini jarang hilang lewat satu peristiwa besar. Ia terkikis sedikit demi sedikit lewat izin yang terbit, konsesi yang meluas, dan garis-garis di peta yang bergeser tanpa disaksikan siapa pun. Melawannya berarti masuk ke ruang-ruang yang tidak fotogenik.
Dunia baru benar-benar menoleh pada 2016, ketika Farwiza menerima Whitley Award dari Putri Anne, dan di acara itu ia bertemu Sir David Attenborough, pahlawan masa kecilnya, orang yang suaranya dulu mengiringi film dokumenter yang membuatnya jatuh cinta pada alam. Setahun kemudian, Leonardo DiCaprio berkunjung ke Aceh, dan fotonya bersama Farwiza beredar luas di media Indonesia.
Sejak itu pengakuan datang beruntun. Ia menerima Pritzker Emerging Environmental Genius Award dari Universitas California, Los Angeles pada 2021, masuk daftar TIME100 Next kategori pemimpin pada 2022, meraih National Geographic Wayfinder Award di tahun yang sama, lalu menerima Ramon Magsaysay Award pada 2024 untuk kategori Emergent Leadership, penghargaan yang kerap disebut Nobel Asia. Whitley Gold Award April lalu melengkapi semuanya.
Deretan piala itu mudah membuat kisahnya terdengar seperti dongeng sukses. Kenyataannya, hutan yang ia bela masih terus ditawar. Kasus-kasus besar di kawasan gambut Aceh menunjukkan betapa panjang jarak antara vonis pengadilan dan pelaksanaannya di lapangan, kadang bertahun-tahun, kadang tidak pernah sampai.
Editor : Fathurroji









