Binanews.id | Bogor– Persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Kota Bogor dapat dilihat lebih jelas melalui data Jejaring Aplikasi Anti Putus Sekolah (JAPATI). Berdasarkan data yang dirilis situs resmi JAPATI tahun 2026 yang terdapat dalam data Dinas Pendidikan Kota Bogor, tercatat 1.076 anak masuk dalam pendataan Anak Tidak Sekolah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan anak yang sedang bersekolah, tetapi juga bagaimana memastikan anak yang berada di luar sistem pendidikan dapat kembali memperoleh haknya untuk belajar.
JAPATI sendiri dikembangkan sebagai sistem pendataan ATS untuk membantu memastikan anak mendapatkan hak pendidikan yang layak. Data yang ditampilkan dalam dashboard memberikan gambaran mengenai status pendataan, kondisi ATS, pilihan pendidikan, pendidikan terakhir, aktivitas saat ini hingga persebarannya berdasarkan wilayah kecamatan.
Dari 1.076 ATS, 647 Anak Tercatat Kembali Sekolah
Salah satu temuan penting dalam data tersebut adalah status proses penanganan ATS. Dari total 1.076 ATS, sebanyak 647 anak atau sekitar 60,1% tercatat dalam kategori kembali sekolah. Sementara itu, 249 anak (23,1%) sudah terverifikasi dan 180 anak (16,7%) masih belum diverifikasi.
Status proses pendataan ATS
| Status | Jumlah | Persentase |
| Kembali sekolah | 647 | 60,1% |
| Sudah verifikasi | 249 | 23,1% |
| Belum verifikasi | 180 | 16,7% |
| Total | 1.076 | 100%* |
Data tersebut memberikan gambaran bahwa proses pendataan tidak berhenti pada menemukan anak yang tidak sekolah. Ada tahapan lanjutan berupa verifikasi dan upaya mengembalikan anak ke jalur pendidikan.
Namun, masih terdapat 180 anak yang belum terverifikasi. Artinya, data ATS masih membutuhkan proses pemutakhiran agar kondisi masing-masing anak dapat diketahui secara lebih akurat.
Siapa Sebenarnya Anak Tidak Sekolah di Kota Bogor?
JAPATI membagi ATS berdasarkan kondisi pendidikan mereka. Ada tiga kelompok yang ditampilkan, yakni BPB (Belum Pernah Bersekolah), DO (Drop Out) dan LTM (Lulus Tidak Melanjutkan).
| Status ATS | Persentase | Perkiraan jumlah dari 1.076 ATS |
| LTM – Lulus Tidak Melanjutkan | 64,1% | ±690 |
| DO – Drop Out | 22,7% | ±244 |
| BPB – Belum Pernah Bersekolah | 13,1% | ±141 |
Jumlah merupakan pendekatan berdasarkan persentase yang ditampilkan pada data.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kelompok terbesar bukan anak yang sama sekali belum pernah masuk sekolah, melainkan mereka yang sudah menyelesaikan jenjang tertentu tetapi tidak melanjutkan pendidikan.
Ini merupakan temuan penting dalam membaca persoalan ATS. Artinya, persoalan keberlanjutan pendidikan menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan. Seorang anak bisa saja telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu, tetapi kemudian tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Dengan demikian, program penanganan ATS tidak hanya perlu menyasar anak yang putus sekolah, tetapi juga anak yang berada pada titik transisi dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya.
Paket C Menjadi Pilihan Pendidikan Terbanyak
Data JAPATI juga menunjukkan pilihan pendidikan yang diambil ATS. Terdapat tiga pilihan pendidikan kesetaraan yang ditampilkan, yaitu Paket A, Paket B dan Paket C.
| Program | Persentase | Perkiraan jumlah |
| Paket C | 38,1% | ±410 |
| Paket B | 44,4% | ±478 |
| Paket A | 17,5% | ±188 |
Dari komposisi tersebut, Paket B menjadi pilihan dengan proporsi terbesar, yakni 44,4%, disusul Paket C sebesar 38,1% dan Paket A sebesar 17,5%.
Pendidikan kesetaraan menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal secara reguler.
Dalam data JAPATI, program kesetaraan melalui PKBM dan SKB dijelaskan memiliki sejumlah karakteristik, antara lain jadwal belajar fleksibel, biaya gratis atau terjangkau, didukung guru dan tutor berpengalaman, memperoleh ijazah yang diakui, serta memiliki pembelajaran berbasis keterampilan.
Pendekatan ini penting terutama bagi peserta didik yang sudah memiliki aktivitas lain dan membutuhkan pola belajar yang lebih fleksibel.
Pendidikan Terakhir ATS: SD Masih Mendominasi
Data pendidikan terakhir juga memberikan gambaran mengenai posisi ATS dalam perjalanan pendidikan mereka.
Data mencatat komposisi pendidikan terakhir sebagai berikut:
| Pendidikan terakhir | Persentase | Perkiraan jumlah |
| SD/Sederajat | 45,1% | ±485 |
| SMP/Sederajat | 38,1% | ±410 |
| Belum Pernah Sekolah | 10,7% | ±115 |
| SMA/Sederajat | 6,1% | ±66 |
Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah dari ATS yang terdata memiliki pendidikan terakhir SD/sederajat.
Kelompok dengan pendidikan terakhir SMP/sederajat juga cukup besar, mencapai 38,1%.
Jika kedua kelompok tersebut dilihat bersama, sebagian besar ATS berada pada atau setelah jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya memastikan keberlanjutan pendidikan pada masa transisi antarjenjang.
Bogor Selatan Mencatat Sebaran ATS Terbesar
Data JAPATI juga memetakan ATS berdasarkan kecamatan. Enam kecamatan di Kota Bogor ditampilkan dalam data dengan jumlah sebagai berikut:
| Kecamatan | ATS terdata |
| Bogor Selatan | 340 |
| Bogor Barat | 208 |
| Tanah Sareal | 187 |
| Bogor Utara | 167 |
| Bogor Timur | 84 |
| Bogor Tengah | 79 |
Dari data tersebut, Bogor Selatan mencatat jumlah ATS terbesar, yakni 340 anak, disusul Bogor Barat sebanyak 208 anak dan Tanah Sareal sebanyak 187 anak.
Sebaliknya, jumlah yang ditampilkan untuk Bogor Tengah adalah 79 anak dan Bogor Timur 84 anak.
Mengapa Pendidikan Kesetaraan Penting?
Data JAPATI memperkenalkan PKBM dan SKB sebagai salah satu alternatif untuk membantu ATS kembali memperoleh pendidikan.
Program pendidikan kesetaraan terdiri atas:
- Paket A, setara Sekolah Dasar;
- Paket B, setara Sekolah Menengah Pertama;
- Paket C, setara Sekolah Menengah Atas.
Sistem ini menawarkan pembelajaran yang lebih fleksibel. Dalam informasi JAPATI disebutkan bahwa peserta dapat belajar sambil menjalankan aktivitas lain, memperoleh ijazah yang diakui pemerintah, serta mendapatkan pembelajaran berbasis keterampilan.
Dengan karakter tersebut, pendidikan kesetaraan dapat menjadi jembatan bagi anak, remaja maupun masyarakat yang mengalami hambatan untuk mengikuti pendidikan formal secara reguler.
Tantangan Berikutnya: Memastikan Anak Melanjutkan Sekolah
Pendataan merupakan tahap awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan anak yang sudah berhasil kembali sekolah dapat bertahan dan menyelesaikan pendidikannya.
Karena itu, keberhasilan penanganan ATS sebaiknya tidak hanya diukur dari berapa anak yang berhasil didata atau dikembalikan ke sekolah. Data lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah mereka tetap bersekolah, menyelesaikan jenjang pendidikan, atau kembali keluar dari sistem pendidikan.
Di sisi lain, kelompok LTM juga perlu mendapat perhatian khusus. Mereka mungkin tidak berstatus putus sekolah dalam pengertian meninggalkan sekolah di tengah jenjang, tetapi tetap berada di luar pendidikan lanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan ATS dapat bergerak dari sekadar “mencari anak yang tidak sekolah” menuju sistem yang lebih komprehensif: menemukan, memverifikasi, memahami penyebab, memberikan pilihan pendidikan, mengembalikan anak ke pendidikan, dan memantau keberlanjutannya.
Catatan sumber: Artikel ini diolah dari data visual JAPATI – Jejaring Aplikasi Anti Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Kota Bogor, tahun 2026, sebagaimana dirilis di situs resminya.
Editor : Fathurroji









