Rupiah Melemah Anggaran Defisit, Menteri Purbaya kemana?

Tedy

- Redaksi

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor– Dalam kajian ilmu ekonomi dikenal istilah ada pemasukan, ada pula pengeluaran. Jika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, namanya defisit. Sedangkan apabila pemasukan lebih besar dari pengeluaran maka disebut Surplus. Dalam pengelolaan keuangan dilevel manapun kedua istilah itu akan selalu disebut. Tidak terkecuali di level negara, pemasukan berasal dari pajak, tetes keringat pekerja seperti seperti buruh; bukan pajak; atau hibah dan bentuk lainnya yang masuk dalam kas negara secara otomatis dalam sistem pengelolaan tersebut.

Undang-Undang Keuangan Negara mengatur apabila terjadi defisit, diupayakan tidak lebih dari 3 persen. Artinya, perbandingan selisih total pendapatan negara dikurangi belanja dengan produk domestik bruto, nilai ekonomi Indonesia, tak lebih dari 3 persen. Kalau diamati secara nyata, pemerintah sekarang dibanding masa Orde Baru, lebih gampang mengambil kebijakan berutang melalui penerbitan surat berharga negara (SBN) ketika kondisi keuangan negara sudah mulai terasa defisit.

Pandangan lain yang muncul, tiap kali keseimbangan primer negatif, pemerintah langsung menerbitkan SBN. Pembeli utamanya Bank Indonesia, meski di pasar sekunder. Sejak pemerintahan Joko Widodo, Bank Indonesia punya kewajiban berbagi beban dengan pemerintah yang disebut “burden sharing”. Hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Pemberitaan di berbagai media nasional menyebutkan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, membanggakan keberhasilannya akan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 5,61 persen. Ini angka wajar mengingat peran besar pemerintah menggenjot belanja di awal tahun, terutama untuk proyek besar. Namun itu saja tidak cukup karena masalahnya pertumbuhan yang terjadi tidak serta merta ditopang oleh investasi dan produktivitas. Eskalasi semakin panasnya Perang Iran versus Amerika membuat harga minyak dunia naik, yang makin menekan industri dan daya beli dalam negeri.

Sedangkan urusan pelemahan rupiah yang semakin makin merosot bukan semata problem moneter. BI bisa saja mengeluarkan jurus lain dengan cara terus menahannya dengan diiringi pembelian dolar di pasar, opsi lain bisa juga terus menaikkan bunga dan imbal hasil. Namun praktik seperti ini tak sehat karena membutuhkan biaya mahal. Cara yang alami bisa dilakukan BI adalah mempermudah ekspor agar devisa masuk dan tak membatasi pembelian dolar.

Program unggulan pemerintah saat ini yakni. Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) adalah wujud investasi jangka panjang yang penting untuk mendukung produktivitas ekonomi dan pemerataan disemua wilayah. Namun, muncul masalah lain, belanja besar MBG dan koperasi hanya dinikmati oleh segelintir kroni serta mulai banyak mencuat kepermukaan ada dugaan korupsi dalam setiap pengadaan. Umumnya sistem yang ada dalam operasional koperasi yang secara alamiah adalah bottom-up tapi malah dibuat secara top-down. Disinilah gejala belanja besar pemerintah muncul itu membuat kepercayaan kepada pengelolaan fiskal jadi ambyar. Menteri Purbaya tetap konsisten pada pendiriannya, namun di umpamakan dia sedang membawa sepeda motor dengan ugal-ugalan dijalan raya tapi disisi lain membuat operasi pasar bank sentral dalam kebijakan moneter jadi tergopoh-gopoh. Tapi Purbaya hanya sebatas menteri, ia wajib tunduk pada pengendali dua proyek besar itu yakni Prabowo Subianto. (Ted)

Baca Juga:  Al Maida Tour Gelar Manasik Akbar untuk Edukasi Masyarakat

Baca Juga:  Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Dibuka, Bisa untuk Kuliah S1-S3

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga:  Pemkab Bogor Janji Keluarkan Surat Edaran Pencegahan LGBT

Berita Terkait

Beragam Potensi Kota Bogor Jadi Ruang Belajar Bagi Calon Wirausahawan
Dua Konten Kreator Nikmati Sensasi Durian Cengal di Lapak Kang Jenal
UMK di Sekitar Masjid Punya Peran Strategis Kembangkan Ekonomi Halal
Kementan Tetapkan Harga Ayam Hidup Rp19.500 dan Telur Rp24.000 per Kg
Bank Syariah Amanah Ummah Raih Excellence in Sustainable Empowerment Award
RZ Tour Berangkatkan 200 Jamaah Umrah dalam Dua Kloter di Bulan Juli 
Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Mau Pergi dari Indonesia
RUPS Rawabi Zamzam Tour Bertema Menguatkan Komitmen Melayani Umat

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Beragam Potensi Kota Bogor Jadi Ruang Belajar Bagi Calon Wirausahawan

Senin, 14 September 2026 - 10:59 WIB

Dua Konten Kreator Nikmati Sensasi Durian Cengal di Lapak Kang Jenal

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:26 WIB

UMK di Sekitar Masjid Punya Peran Strategis Kembangkan Ekonomi Halal

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:30 WIB

Kementan Tetapkan Harga Ayam Hidup Rp19.500 dan Telur Rp24.000 per Kg

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:30 WIB

Bank Syariah Amanah Ummah Raih Excellence in Sustainable Empowerment Award

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB