Prof. Dr. Sofyan Sjaf: Dari Kendari Menemukan Jalan Akademik di IPB University

Irwan Maulana

- Redaksi

Sabtu, 12 September 2026 - 21:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok IPB University

dok IPB University

Binanews.id | Bogor– Ada kalanya perjalanan seseorang tidak berjalan lurus sesuai bidang pendidikan yang pertama kali dipilih. Prof. Dr. Sofyan Sjaf adalah salah satu contohnya. Berangkat dari Kendari, Sulawesi Tenggara, ia datang ke Bogor pada 1996 untuk belajar teknologi hasil ternak di Fakultas Peternakan IPB. Namun, pergolakan sosial yang terjadi pada masa itu justru membuka pintu ketertarikannya pada ilmu sosial.

Krisis ekonomi, pengangguran, dan berbagai persoalan masyarakat pada periode 1996–2000 membuat Sofyan tidak hanya sibuk dengan dunia akademik yang sedang dipelajarinya. Ia mulai membaca buku-buku sosial dan mencoba memahami persoalan masyarakat dari perspektif yang lebih luas.

Perjalanan itu kemudian membawanya melewati dunia jurnalistik, industri kesehatan hewan sampai ke Amerika, riset sosial, hingga akhirnya kembali ke kampus sebagai akademisi dan peneliti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, Penggagas Data Desa Presisi (DDP) sekaligus Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University ini melalui pemikirannya banyak bersentuhan dengan persoalan pendidikan tinggi, perubahan sosial, karakter generasi muda, kepemimpinan, hingga bagaimana manusia menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kisah Sofyan menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu membawa seseorang pada jalan yang lurus. Justru dari pertemuan antara ilmu, pengalaman, dan kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya, sebuah jalan baru dapat terbentuk. Dari aktivitasnya, ia dianugerahi meraih Silver Winner Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025 dalam kategori Ilmuwan Senior Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora.

Dari Kendari ke Bogor, Membuka Babak Baru Kehidupan

Prof. Dr. Sofyan Sjaf lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 1978. Masa kecil hingga pendidikan menengah ia jalani di kota tersebut.

Perubahan besar terjadi pada 1996 ketika ia memutuskan hijrah ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan tinggi di IPB University. Ia memilih Fakultas Peternakan dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 2000.

Secara akademik, pilihan tersebut membawa Sofyan pada bidang teknologi hasil ternak. Namun, kehidupan kampus pada masa itu mempertemukannya dengan persoalan yang jauh lebih luas daripada disiplin ilmu yang sedang dipelajarinya.

Indonesia ketika itu berada dalam periode penuh gejolak. Krisis ekonomi melahirkan berbagai persoalan sosial, termasuk meningkatnya pengangguran. Tidak hanya mengamati keadaan tersebut, Sofyan mulai mencari penjelasan melalui bacaan.

“Saya lahir di Kendari tahun 1978 Sulawesi Utara. Saya SD sampai SMA di Kendari. Tahun 1996 saya hijrah ke Bogor dan kemudian mengambil S1 di IPB di Fakultas Peternakan. Lulus tahun 2000. Pada tahun 1996-2000 itu banyak terjadi krisis ekonomi, pengangguran dimana-mana dan masalah lainnya sehingga membawa saya membaca buku-buku sosial. Era-era reformasi ini yang membawa minat saya pada ilmu sosial,” ungkapnya kepada Binanews.id.

Ketertarikan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan intelektualnya. Dari sana, ilmu sosial tidak lagi sekadar sesuatu yang dibaca, tetapi perlahan menjadi bidang yang ingin dipahami lebih dalam.

Prof. Dr. Sofyan Sjaf

Ketika Pengalaman Membawa pada Ilmu Sosial

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Sofyan sempat menjalani kehidupan profesional di luar kampus. Ia pernah menjadi wartawan dan bekerja di Elanco Animal Health, perusahaan kesehatan hewan asal Amerika Serikat. Akan tetapi, Sofyan tidak lama di Amerika, dirasa tidak cocok dengan jati dirinya, Sofyan hanya bertahan selama empat bulan.

Baca Juga:  Luis de la Fuente, Pelatih Spanyol yang Dulu Dianggap Bukan Siapa-siapa

“Setelah lulus dari IPB, ada senior saya yang mengajak saya kerja di perusahaan Amerika. Nama perusahaannya Elanco Animal Health, tetapi karena tidak cocok dengan diri saya akhirnya saya keluar, disana saya sekitar sampai tiga atau empat bulan.”Ucapnya.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan melihat dunia dari ruang yang berbeda. Jurnalistik mempertemukannya dengan aktivitas mencari informasi dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Sementara pengalaman di dunia perusahaan memberikan pemahaman mengenai lingkungan kerja profesional. Namun, ketertarikannya terhadap persoalan sosial tidak berhenti. Sofyan kemudian kembali ke dunia akademik dan melanjutkan pendidikan di bidang Sosiologi Pedesaan. Pilihan ini mempertemukan pengalaman sebelumnya dengan ketertarikannya pada dinamika masyarakat. Ia juga aktif melakukan riset sosial. Salah satu pengalaman pentingnya adalah keterlibatan dalam penelitian pascabencana di Aceh dan Nias pada tahun 2005-2006. Penelitian yang ia dapatkan didanai dari hasil projek yang ia dapatkan.

“Saya dulu memutuskan memilih jalan hidup yang membuat saya merdeka, yaitu politisi atau akademisi, karena saya anggap dua profesi ini yang cocok dengan diri saya. Kalau saya memilih menjadi akademisi, maka saya harus banyak menulis, akhirnya saya jadi wartawan. Setelah saya dapat ilmunya, akhirnya saya memutuskan untuk Hijrah. Tahun 2006 terjadilah Tsunami Aceh lalu ada gempa di Nias, ketika itu saya dapat projek untuk melakukan riset.”

Pengalaman di lapangan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai akademisi dan peneliti. Ilmu sosial yang sebelumnya ia temukan melalui buku mulai berhadapan langsung dengan realitas masyarakat. Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut hingga pendidikan doktoral di IPB. Pada 2009, Sofyan lulus sebagai PNS. Sejak saat itu, kiprahnya semakin berkembang sebagai akademisi sekaligus peneliti. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan arah bukan selalu berarti meninggalkan masa lalu. Pendidikan peternakan, pengalaman jurnalistik, dunia perusahaan, riset sosial, dan pendidikan sosiologi justru menjadi bagian-bagian yang membentuk perspektifnya.

Pengangguran Terdidik Menjadi Masalah

Pengangguran terdidik menjadi salah satu masalah yang serius. Pengangguran terdidik menurut Sofyan terjadi karena disebabkan dua hal, pertama ketidakmampuan individu meng-create peluang, dan yang kedua harus ada dukungan dari pemerintah. Baginya, perguruan tinggi saat ini masih fokus pada bagaimana mencetak para pekerja, meskipun saat ini ada pergeseran paradigma pada beberapa perguruan tinggi.

“Saya melihat bahwa pengangguran terdidik ini terjadi karena dua hal, pertama karena individu tersebut tidak bisa meng-create peluang usaha, dan yang kedua tidak adanya akses dari pemerintah. Kedua hal ini tentu saja penting. Katakan saja misalnya ada mahasiswa IPB, dia bagus dan bisa menghasilkan produk berupa sayuran, tetapi problemnya dia tidak bisa menjual langsung ke masyarakat karena harus dijual ke tengkulak, katakan tengkulak itu membeli 1 kilo sayur itu dengan harga Rp. 1000, nah tengkulak menjual ke masyarakat Rp. 3000, inikan marginya besar, maka negara harus hadir untuk menyelesaikan masalah ini.”

Selanjutnya, Sofyan memandang bahwa perguruan tinggi yang terlalu banyak tetapi belum tentu berkualitas. Dia membandingkan bahwa perguruan tinggi luar negeri tidak sebanyak di Indonesia. Ia memandang bahwa pemerintah tidak usah membuka banyak perguruan tinggi sebab hal ini jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi masalah disuatu saat nanti.

“Perguruan tinggi di Indonesia ini terlalu banyak kalau dibandingkan dengan negara lain. Kalau saya berpendapat bahwa perguruan tinggi di Indonesia ini tidak usah banyak, yang harus diperbanyak itu adalah pendidikan vokasi agar setelah mereka lulus mereka punya keterampilan untuk bekerja. Kalau pendidikan tingginya terlalu banyak tapi tidak diiringi dengan kualitas, maka ini akan menjadi masalah.” Ucapnya.

Baca Juga:  Kemdiktisaintek Perluas Akses Kuliah, Realisasi Beasiswa Hampir 100 Persen

Akreaditas Pisau Bermata Dua

Akreditasi menurut Sofyan adalah hal yang baik. Ia memandang bahwa akreditasi sama dengan standarisasi, akan tetapi, akreditasi ini harus diiringi dengan implementasi yang baik, tidak hanya untuk syarat administrasi saja. Ia berpendapat bahwa dengan adanya akreditasi, ini menjadi alat kontrol untuk menekan jumlah perguruan tinggi yang terlalu banyak di Indonesia. Dengan adanya akreditasi ini ia berharap akan menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang bermutu.

“Akreditasi itu saya lihat sama saja dengan standarisasi. Ibaratnya begini, anggaplah pendidikan tinggi ini industri. Karena ini industri, maka tentu ada SOPnya, suku cadangnya apa, mereknya apa, onderdilnya bagaimana, nah kalau semuanya ini terpenuhi, maka produknya berkualitas, lain cerita jika industri tersebut tidak memenuhi SOP, maka yang ada produknya tidak berkualitas. Itu analogi tentang akreditasi, nah tetapi akreditasi ini jangan sampai berhenti pada administrasi, dia harus diikuti dengan implementasi yang baik sehingga mahasiswa yang dihasilkan berkualitas, kalau misalnya tidak diikuti dengan implementasi, yo apa bedanya dengan industri yang tidak mengikuti SOP tadi? iya kan? nah menurut saya akreditasi itu pisau bermata dua.”

AI Membantu Manusia, tetapi Tidak Menggantikan Pikiran

Salah satu perubahan terbesar yang kini dihadapi pendidikan tinggi adalah hadirnya AI. Bagi Sofyan, teknologi tersebut memiliki manfaat besar. Berbagai pekerjaan akademik yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi. Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan. Mahasiswa tidak boleh kehilangan kemampuan berpikir hanya karena memiliki alat yang dapat membantu menghasilkan jawaban.

“Zaman sekatrang sudah berubah, apalagi semenjak adanya AI. AI itu instrumen.  AI bisa digerakkan ketika otak kita berfikir,” katanya.

Pesan tersebut menunjukkan cara Sofyan memandang teknologi: AI merupakan alat bantu, bukan pengganti manusia. Dalam penyusunan skripsi maupun disertasi, misalnya, AI dapat membantu mempercepat berbagai proses. Tetapi kemampuan menganalisis, mempertanyakan, menilai, dan mengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.

“AI tidak punya hati. Kamu ajak dia berpikir benar maka akan benar, dan sebaliknya,” ujarnya.

Di sinilah pengalaman akademik dan sosial menjadi relevan. Kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya dengan memahami cara mengoperasikan alat. Manusia juga membutuhkan nilai dan kemampuan berpikir agar dapat menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Perguruan Tinggi Tidak Cukup Mencetak Orang Pintar

Dari pemikirannya mengenai AI, Sofyan kemudian membawa pembahasan pada persoalan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang harus dibentuk oleh perguruan tinggi? Menurutnya, setidaknya terdapat tiga aspek utama yang harus diperhatikan, yaitu kematangan mental dan ideologi, keterampilan atau skill, serta kemampuan manajerial dan kepemimpinan atau leadership. Ketiganya tidak dapat berdiri sendiri.

“Mahasiswa sekarang perlu adaptif, responsif, dan tanggap terhadap perubahan. Ada tiga skill yang dibutuhkan. Pertama adalah kematangan mental dan ideologi, kedua keterampilan, ketiga kepemimpinan. Banyaknya anak muda galau itu karena tidak punya kematangan mental atau tidak punya ideologi. Kalau mahasiswa hanya memiliki keterampilan dan leadership, tanpa memiliki kematangan mental dan ideologi, maka sangat yakin saya orang tersebut hidupnya akan terombang-ambing.” katanya.

Baca Juga:  Mendikdasmen Tekankan Peran Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Kemudian, menurutnya keterampilan memang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja. Namun, keterampilan tanpa fondasi karakter dapat membuat seseorang kehilangan arah ketika menghadapi perubahan.

Karena itu, perguruan tinggi menurut Sofyan memiliki pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan pengetahuan akademik.

“Kalau dua hal ini rapuh jika persoalan ideologinya tidak kuat,” ujarnya.

Pandangan tersebut juga berkaitan dengan persoalan pengangguran terdidik. Memiliki ijazah dan kompetensi akademik belum tentu membuat seseorang mampu membaca peluang.

“Pendidikan kita itu tidak diarahkan untuk menciptakan peluang. Bagaimana menciptakan manusia yang bisa meng-create potensi itu masih minim,” ujarnya.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perlu mendorong mahasiswa bukan hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi manusia yang mampu mengenali potensi, menciptakan peluang, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Karakter Tumbuh dari Interaksi dengan Kehidupan

Bagi Sofyan, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya melalui teori di ruang kelas. Karakter tumbuh melalui pengalaman dan interaksi. Karena itu, kehidupan kampus harus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bergaul, berdiskusi, berorganisasi, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pandangan itu menjadi penting sebab secara sadar atau tidak sadar, perkembangan teknologi ini berhasil membuat anak-anak muda memiliki jiwa individualis.

“Anak muda itu harus memiliki karakter. Karakter ini bisa tumbuh melalui proses interaksi, karakter tidak mungkin tumbuh kalau anak muda itu individualis. Nah karakter apa yang harus ditanamkan, ya karakter seperti nasionalisme, religiusitas, dan solidaritas. Anak muda zaman sekarang ini diberikan kemudahan untuk mengakses berbagai macam informasi, tetapi satu sisi juga menjadi ancaman, teknologi saat ini sadar atau tidak sadar sudah berhasil membuat anak muda kita individualis.”

Karakter sebagai Kompas di Tengah Perubahan

Jika perjalanan Sofyan sejak Kendari hingga menjadi akademisi dan peneliti dirangkum dalam satu gagasan, salah satu kata pentingnya adalah proses.

Ketertarikannya pada ilmu sosial bermula dari kegelisahan melihat persoalan pada masa krisis. Kegelisahan itu kemudian mendorongnya membaca, belajar, berpindah pengalaman, melakukan riset, dan memperdalam pendidikan.

Kini, ketika berbicara mengenai generasi muda, ia kembali menempatkan karakter sebagai fondasi.

“Ibarat kalau kita berlayar, kalau Anda tidak punya kompas, maka Anda akan terombang-ambing oleh angin, ombak. Kompas itu adalah karakter,” tuturnya.

Perumpamaan tersebut sekaligus menjadi gambaran tentang tantangan generasi muda hari ini. Teknologi menyediakan peluang yang jauh lebih luas untuk belajar dan berkembang. Informasi dapat diperoleh dengan cepat. AI dapat membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Tetapi semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin penting pula kemampuan menentukan arah.

“Generasi muda sekarang adalah generasi yang peluangnya terbuka lebar, tapi jika dia tidak tumbuh dengan karakter yang kuat, itu akan terbawa oleh perubahan yang tidak menentu,” katanya.

Karena itu, menurut Sofyan, perguruan tinggi perlu membangun manusia secara utuh: memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan memimpin, sekaligus karakter.

“Negara ini bisa bertahan karena punya karakter. Kalau tidak ada karakter, maka akan hilang,” pungkasnya.

Perjalanan Prof. Dr. Sofyan Sjaf memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya lahir dari ruang kelas. Ada pengalaman hidup, kegelisahan terhadap persoalan masyarakat, keberanian mengikuti rasa ingin tahu, serta kemauan untuk terus belajar.

Dari Kendari, ia datang ke Bogor sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan. Perjalanan berikutnya membawanya mengenal jurnalistik, dunia perusahaan, sosiologi pedesaan, riset sosial, hingga menjadi akademisi dan peneliti.

Pada akhirnya, perjalanan tersebut tidak hanya membentuk profesinya, tetapi juga cara pandangnya terhadap pendidikan. Bahwa manusia tidak cukup hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan. Ia membutuhkan karakter sebagai penentu arah.

Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, gagasan itu menjadi pelajaran penting: kemajuan teknologi dapat membantu manusia melangkah lebih cepat, tetapi karakterlah yang menentukan ke mana langkah tersebut diarahkan.[]

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB