Binanews.id | Bogor – Di tengah pesatnya perkembangan wilayah penyangga Kota Bogor, Kecamatan Ciomas menyimpan potensi besar untuk tumbuh menjadi kawasan yang semakin maju. Dengan luas wilayah 16,07 kilometer persegi, kecamatan yang terdiri dari 10 desa dan 1 kelurahan ini dihuni oleh 166.220 jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 10.343 jiwa per kilometer persegi. Di dalamnya terdapat 572 RT dan 137 RW yang menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari sisi pendidikan, Ciomas memiliki modal yang cukup kuat. Berdasarkan data BPS Kabupaten Bogor dalam publikasi Kecamatan Ciomas Dalam Angka 2025, wilayah ini didukung oleh 50 guru TK, 466 guru SD, 213 guru SMP, serta 217 guru SMA/SMK. Jumlah peserta didik pun cukup besar, yakni 660 siswa TK, 14.239 siswa SD, 5.823 siswa SMP, dan 3.592 siswa SMA.
Fasilitas pendidikan juga tersebar di berbagai jenjang, mulai dari 1 perguruan tinggi, 6 Madrasah Aliyah, 3 SMA, 3 SMK, 5 MTs, 8 SMP, 7 MI, 11 SD, 9 RA, hingga 10 TK. Di sektor ekonomi, masyarakat ditopang oleh hasil pertanian seperti pisang, durian, melinjo, nangka, dan pepaya, serta aktivitas perdagangan yang ditandai dengan keberadaan pasar, pertokoan, minimarket, dan swalayan.
Dengan berbagai potensi tersebut, pendidikan seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun di balik angka-angka yang menjanjikan itu, masih terdapat tantangan serius yang perlu mendapatkan perhatian bersama, yakni persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Mengelola Data untuk Menemukan Solusi
Berdasarkan hasil wawancara tim riset Binanews.id dengan Kepala Seksi Pendidikan dan Kesehatan Kecamatan Ciomas, Dr. Nendi Nuradin, S.Pd., M.M mengatakan, pengelolaan data ATS dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Pendidikan, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa.
Data yang diterima dari Dinas Pendidikan tidak langsung digunakan begitu saja. Operator desa terlebih dahulu melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan bahwa data administrasi benar-benar sesuai dengan kondisi aktual anak yang bersangkutan.
Langkah ini menjadi penting karena status pendidikan seorang anak dapat berubah sewaktu-waktu. Ada anak yang sebelumnya tercatat tidak sekolah namun telah kembali bersekolah, atau sebaliknya. Melalui proses verifikasi tersebut, pemerintah berupaya memastikan bahwa data yang dimiliki oleh dinas, kecamatan, dan desa memiliki kesamaan sehingga dapat menjadi dasar penyusunan program yang lebih tepat sasaran.
Tiga Wajah Anak Tidak Sekolah
Dalam praktiknya, ATS di Kecamatan Ciomas dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu:
-
Belum Pernah Bersekolah (BPB)
-
Drop Out (DO) atau putus sekolah
-
Lulus Tidak Melanjutkan (LTM)
Klasifikasi ini penting karena setiap kategori membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda. Anak yang belum pernah bersekolah membutuhkan akses awal terhadap pendidikan, sementara anak yang putus sekolah memerlukan dukungan untuk kembali ke sistem pendidikan. Adapun kelompok lulus tidak melanjutkan membutuhkan dorongan agar tetap melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dalam konteks ini, pemerintah kecamatan berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan pemerintah desa, Dinas Pendidikan, dan masyarakat.
Sebaran ATS: Tantangan yang Berbeda di Setiap Desa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan ATS masih ditemukan hampir di seluruh wilayah Kecamatan Ciomas dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Desa Ciapus tercatat memiliki jumlah ATS tertinggi, yakni 185 anak. Angka tersebut terdiri dari:
-
56 anak BPB
-
48 anak DO
-
81 anak LTM
Yang menarik, Ciapus menjadi wilayah dengan jumlah Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) tertinggi di Kecamatan Ciomas. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di desa tersebut tidak hanya terkait akses masuk sekolah, tetapi juga keberlanjutan pendidikan setelah lulus dari jenjang sebelumnya.
Sementara itu, Desa Pagelaran memiliki 141 anak ATS, terdiri dari:
-
120 anak BPB
-
8 anak DO
-
13 anak LTM
Tingginya angka BPB di Pagelaran menunjukkan bahwa persoalan utama di wilayah ini masih berkaitan dengan akses awal terhadap pendidikan formal.
Di Desa Sukamakmur, terdapat 136 anak ATS, dengan rincian:
-
93 anak BPB
-
6 anak DO
-
37 anak LTM
Sedangkan Desa Ciomas dan Kelurahan Padasuka masing-masing mencatat 85 anak ATS dengan komposisi yang relatif serupa.
Secara keseluruhan, penelitian menemukan terdapat 781 anak ATS di Kecamatan Ciomas. Dari jumlah tersebut:
-
509 anak (65,2%) termasuk kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB)
-
85 anak (10,9%) termasuk kategori Drop Out (DO)
-
187 anak (23,9%) termasuk kategori Lulus Tidak Melanjutkan (LTM)
Data ini memperlihatkan bahwa mayoritas persoalan ATS di Ciomas masih berada pada tahap paling mendasar, yaitu anak-anak yang belum pernah mengakses pendidikan formal sama sekali.
Mengapa Anak Tidak Sekolah?
Dari hasil wawancara dan studi dokumentasi, tim riset Binanews.id menemukan tiga faktor utama yang menjadi penyebab tingginya ATS di Kecamatan Ciomas.
1. Faktor Ekonomi
Keterbatasan ekonomi keluarga masih menjadi penyebab yang paling dominan. Dalam banyak kasus, kebutuhan sehari-hari keluarga dianggap lebih mendesak dibandingkan biaya pendidikan anak.
Kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya jumlah anak yang belum pernah bersekolah maupun yang akhirnya putus sekolah di tengah jalan.
2. Rendahnya Kesadaran Pentingnya Pendidikan
Sebagian orang tua masih belum melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang dapat mengubah kualitas hidup anak di masa depan.
Akibatnya, dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan anak menjadi kurang optimal, terutama ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi.
3. Memilih Bekerja di Usia Sekolah
Fenomena lain yang cukup menonjol adalah kecenderungan sebagian remaja memilih bekerja dibanding melanjutkan sekolah.
Keinginan untuk segera memperoleh penghasilan sering kali dianggap lebih menarik dibandingkan melanjutkan pendidikan yang hasilnya baru dirasakan dalam jangka panjang. Fenomena ini terlihat dari tingginya angka LTM, khususnya di Desa Ciapus.
Data yang Tidak Berhenti Menjadi Laporan
Menariknya, data ATS di Kecamatan Ciomas tidak hanya berhenti sebagai dokumen administrasi. Pemerintah daerah memanfaatkannya sebagai dasar penyusunan program intervensi.
Anak-anak yang teridentifikasi masih berada dalam kategori ATS akan diarahkan ke berbagai alternatif layanan pendidikan. Bagi keluarga yang mengalami hambatan ekonomi, tersedia akses menuju program Sekolah Rakyat maupun Sekolah Maung yang direkomendasikan Kementerian Sosial.
Selain itu, pemerintah kecamatan juga menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai jalur pendidikan nonformal. Hingga saat ini, sekitar 90 anak ATS telah diidentifikasi dan diarahkan untuk mengikuti pendidikan melalui PKBM.
Membangun Masa Depan dari Data dan Kepedulian
Penanganan ATS di Kecamatan Ciomas menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data mulai diterapkan secara serius melalui proses pendataan, verifikasi, koordinasi, dan tindak lanjut terhadap setiap kasus yang ditemukan.
Namun angka 509 anak yang belum pernah bersekolah menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih menanti. Akses pendidikan dasar yang merata, penguatan kesadaran orang tua, serta pencegahan anak bekerja di usia sekolah harus terus menjadi prioritas bersama.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang berdiri atau banyaknya guru yang mengajar. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk belajar, tumbuh, dan membangun masa depannya.
Sebab ketika satu anak kehilangan kesempatan bersekolah, yang hilang bukan hanya satu bangku di ruang kelas, melainkan juga satu peluang bagi masa depan daerah untuk berkembang lebih baik.









