Binanews.id | Catatan ini saya tulis dengan senyuman. Sederhana saja, karena senyum adalah tanda bahagia yang paling mudah dibaca. Dalam ajaran yang kita yakini, senyum bukan sekadar ekspresi, tetapi juga ibadah—cara ringan untuk berbagi kebahagiaan tanpa biaya. Maka rasanya wajar jika seorang Muslim mengemban satu misi kecil namun berarti: menjadi penyebar kebahagiaan di mana pun berada.
Sambil merangkai kata-kata ini, saya teringat latar di balik judul yang mungkin terdengar sedikit “menggelitik”: menggurui guru. Seorang teman, sesama redaktur Teacher’s Note, pernah bercerita. Katanya, buletin ini terlalu sering terbit—seminggu dua kali. Sampai-sampai ada yang berkelakar, “Teacher’s Note alat menggurui.” Kami tertawa, tapi juga merenung. Akhirnya diputuskan, frekuensinya menjadi satu kali dalam seminggu, setiap hari Sabtu.
Sejak awal, niat hadirnya Teacher’s Note sebenarnya sederhana: berbagi. Memberi ruang bagi para guru untuk menuliskan gagasannya. Tidak harus sempurna, tidak harus muluk. Selama ditulis dengan bahasa yang baik dan layak, setiap ide berhak untuk dimuat. Guru tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga subjek yang aktif menghidupkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada kebahagiaan tersendiri saat sebuah naskah dari guru masuk ke meja redaksi. Rasanya seperti menerima titipan cahaya. Kami bahkan menyediakan ruang khusus bernama “Kolom Guru”—tempat siapa pun yang menyandang predikat guru bisa berbicara melalui tulisan. Kepada sesama redaktur, saya pernah berpesan: tidak perlu terlalu banyak seleksi, tidak perlu mengubah isi. Biarkan tulisan itu tetap orisinal. Tugas kita hanya merapikan yang perlu dirapikan, bukan mengubah suara penulisnya.
Judul “menggurui guru” sendiri saya tulis dengan senyum—bukan sindiran, melainkan bentuk kepedulian. Sebagai seorang yang berada di dunia pendidikan, saya merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi, sekecil apa pun itu. Terlebih di bulan November, ketika satu hari secara khusus dipersembahkan untuk para guru—sebuah pengingat bahwa profesi ini bukan pekerjaan biasa.
Guru adalah profesi mulia. Para ulama sepakat, pendidikan adalah bagian dari tugas kenabian. Para Nabi adalah guru—mereka menyampaikan ilmu dengan penuh kesabaran, meski harus menghadapi penolakan bahkan ancaman. Mereka tidak berhenti, karena mereka tahu ilmu adalah amanah.
Estafet itu kemudian dilanjutkan oleh para ulama. Mereka mengajar melalui lisan dan tulisan. Ribuan kitab lahir dari tangan mereka, membuka mata jutaan manusia. Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Ilmu adalah cahaya.” Dan cahaya itu tidak datang begitu saja—ia diperjuangkan.
Perjuangan itu sering kali tidak mudah. Imam Malik harus keluar-masuk penjara. Sayyid Qutb merasakan dinginnya jeruji besi tanpa pengadilan yang adil. Buya Hamka pun pernah mengalami hal serupa di negeri ini. Mereka bukan pelaku kejahatan, melainkan penjaga cahaya ilmu. Mereka memilih bertahan, meski harus membayar mahal.
Karena itulah, menyampaikan ilmu bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Bahkan Rasulullah mengingatkan dengan tegas: siapa yang menyembunyikan ilmu, akan mendapatkan ancaman yang berat di hari akhir. Ibnu Abdil Barr menjelaskan, tanggung jawab orang berilmu bukan hanya menjawab ketika ditanya, tetapi juga menyampaikan meski tidak diminta.
Namun, semua itu bukan untuk membandingkan atau menjustifikasi istilah “menggurui guru.” Kita semua paham, tidak ada guru yang menolak ilmu. Jika ada rasa jenuh terhadap buletin yang terlalu sering terbit, itu lebih pada persoalan ritme. Seperti orang yang sudah kenyang, lalu disuguhi makanan lagi—bukan karena makanannya tidak enak, tetapi karena perutnya sudah penuh.
Guru pada hakikatnya adalah agen ilmu. Di dalam dirinya ada sesuatu yang harus disampaikan. Jika ia tidak berilmu, ia merendahkan profesinya sendiri. Jika ia tidak mencintai ilmu, ia sedang menutup pintu bagi dirinya. Dan saya percaya, guru-guru di Ummul Quro adalah para pecinta ilmu.
Maka Teacher’s Note tidak hadir untuk menggurui. Ia berdiri sebagai sahabat—sedikit merunduk, sebagai bentuk hormat. Kita semua berada di barisan yang sama: para pencinta ilmu. Dan salah satu cara paling sederhana untuk memuliakan ilmu adalah dengan menuliskannya, agar manfaatnya menjangkau lebih banyak orang.
Tulisan ini dibuat ketika memperingati Hari Guru, namun tetap relevan dengan kondisi saat ini. []









