Manusia Garam yang Sering Terlupa

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Minggu, 10 Mei 2026 - 05:25 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Sumenep dikenal sebagai salah satu produsen garam terbesar di Indonesia. Kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura itu setiap tahun menjadi pemasok penting kebutuhan garam nasional. Hamparan ladang garam terbentang panjang di sepanjang jalan utama Sampang–Sumenep, terutama di kawasan pesisir Kalianget. Dari kejauhan, butiran-butiran putih tampak berkilau diterpa cahaya matahari.

Bagi masyarakat pesisir Sumenep, bertani garam bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain melaut mencari ikan, banyak warga menggantungkan hidup dari tambak garam. Cuaca panas dengan curah hujan rendah membuat wilayah ini sangat cocok untuk proses kristalisasi air laut. Untuk menghasilkan garam, suhu ideal bahkan harus berada di atas 30 derajat Celsius.

Di balik putihnya garam yang kita nikmati di meja makan, ada perjuangan panjang yang jarang terlihat. Para petani harus berjibaku dengan suhu yang kadang mencapai 34 derajat Celsius. Mereka mengalirkan air laut, menjaga proses kristalisasi, hingga memanen garam secara tradisional. Semua dilakukan dengan tenaga manusia, tanpa banyak bantuan teknologi.

Baca Juga:  Berhenti Sejenak

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun ironisnya, setelah dipanen, garam hanya dihargai sekitar Rp400 per kilogram. Nilainya terasa begitu kecil dibandingkan jerih payah yang dikeluarkan. Bahkan di minimarket, garam dapur kemasan 250 gram hanya dijual sekitar Rp2.000, setara harga dua permen Kopiko.

Lalu muncul pertanyaan sederhana: mengapa garam begitu murah? Apakah karena garam tidak banyak manfaatnya?

Coba sejenak kita melihat meja makan di rumah. Ada rendang daging sapi, pepes ikan mas, opor ayam, perkedel kentang, sayur asem, tempe goreng, hingga sambal. Semua terasa nikmat. Gurihnya rendang, lezatnya opor, pedasnya sambal, semuanya menggugah selera.

Sekarang bayangkan jika garam dihilangkan dari seluruh masakan itu.

Rasanya akan hambar. Anyep. Datar.

Baca Juga:  Manchester United 3-2 Liverpool: Tuan Rumah Menang Lewat Gol Menit ke-77

Ternyata, garamlah yang membuat makanan terasa hidup. Garam tidak tampil mencolok, tetapi kehadirannya menentukan rasa. Ia bekerja diam-diam, tanpa banyak pujian.

Mungkin itulah alasan mengapa garam begitu dekat dengan kehidupan manusia.

Dalam hidup ini, banyak orang yang perannya seperti garam. Mereka hadir memberi manfaat, menopang kehidupan banyak orang, tetapi jarang mendapat sorotan. Mereka bekerja tanpa tepuk tangan.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri karena ada tangan-tangan kasar yang menggali tanah, mengangkat semen, memasang pondasi, dan bekerja di bawah terik matahari. Tanpa mereka, gambar indah rancangan arsitek hanya akan menjadi file digital tanpa wujud nyata.

Jalanan, pusat pertokoan, stasiun, terminal, hingga bandara terlihat bersih karena ada orang-orang yang setiap hari menyapu dan mengepel lantai. Ketika kota terlihat rapi, penghargaan sering diberikan kepada pejabat atau pemimpin daerah. Sementara tangan-tangan yang menjaga kebersihan perlahan terlupakan.

Baca Juga:  Lima Sila sebagai Lima Luka

Mereka adalah manusia garam.

Mereka ada di pabrik, kantor, sekolah, pasar, rumah sakit, bahkan di sekitar kita setiap hari. Kehadirannya sering dianggap biasa, padahal tanpa mereka hidup akan terasa hambar.

Tidak semua orang harus menjadi pusat perhatian untuk menjadi berarti. Ada orang-orang yang memang ditakdirkan menjadi “pemberi rasa” dalam kehidupan orang lain. Mungkin tidak terkenal, mungkin tidak dipuji, mungkin juga tidak dihargai tinggi. Tetapi keberadaan mereka membuat dunia tetap berjalan dengan baik.

Dari garam Sumenep, kita belajar satu hal penting: sesuatu yang terlihat sederhana belum tentu tidak berharga. Kadang justru yang paling dibutuhkan adalah mereka yang bekerja diam-diam tanpa banyak bicara.

Sebab kehidupan ini bukan hanya dibangun oleh orang-orang besar yang namanya terpampang di mana-mana, tetapi juga oleh manusia-manusia garam yang setia memberi rasa, meski sering terlupa.[]

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB