Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Selepas mengantar anak mengikuti ospek di Universitas Brawijaya (UB), saya dan istri mulai mencari sarapan.

Maklumlah, perut orang Indonesia. Urusan anak sudah selesai, giliran urusan lambung yang minta diperhatikan. He.

Dengan bermotor ria kami menyusuri jalan di sekitar kampus. Tidak mencari restoran mewah. Tidak pula membuka aplikasi untuk melihat rating makanan. Kami hanya ingin menemukan warung lokal yang nasinya masih mengepul, lauknya sederhana, dan kalau beruntung sambalnya bisa membuat keringat keluar sebelum matahari Malang benar-benar tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak jauh dari salah satu pintu masuk UB, kami menemukan sebuah pujasera.

Tanpa banyak pertimbangan, motor langsung dibelokkan.

Kadang keputusan hidup memang tidak perlu rapat panjang. Cukup dengarkan suara hati.

Atau dalam kasus kami pagi itu: suara perut.

Baru saja motor diparkir, telinga saya menangkap suara musik yang cukup keras dari salah satu warung.

“Pap… si papap…”

Saya seperti mengenal iramanya.

“Preman… preman…”

Lalu terdengar bagian yang semakin jelas.

“Pap… si papap… metropolitan…”

Saya tersenyum.

Ikang Fawzi.

Lagu lama yang rupanya masih menemukan rumahnya di sebuah pujasera kecil di samping Universitas Brawijaya.

Tanpa ragu kami mendekati warung yang menjadi sumber suara.

Belum sempat memilih tempat duduk, tiba-tiba seorang ibu menyapa dengan penuh percaya diri.

“Good morning!”

Saya dan istri saling pandang.

Baca Juga:  Harta di Tangan, Allah di Hati

Good morning?

Pagi-pagi di warung nasi, di pinggir kampus, disambut bahasa Inggris.

Saya menjawab, “Good morning.”

Rasanya mendadak seperti sedang sarapan di kantin Universitas Oxford.

Padahal di depan kami ada wajan, tahu kecap, nasi putih, sambal, dan beberapa lauk rumahan.

Ibu itu sudah paruh baya. Jilbabnya putih. Kaos lengan panjang berwarna gelap. Celana jins. Gerakannya lincah. Sambil tangannya sibuk memasak tahu kecap, kepalanya sesekali bergoyang mengikuti suara Ikang Fawzi dari radio.

Benar-benar seperti lady rocker yang sedang menyamar menjadi penjual nasi.

Kami pun mulai mengobrol.

Anehnya, obrolan sesekali tetap menggunakan bahasa Inggris.

“How many rice?” kira-kira begitu suasananya.

“Two, Bu.”

Saya hampir lupa sedang berada beberapa meter dari Universitas Brawijaya, bukan beberapa meter dari Sungai Thames.

He.

Ibu itu sangat antusias bercerita. Tangannya terus bekerja mengambil nasi, menyiapkan lauk, menuangkan kuah, tetapi mulutnya tidak pernah kehabisan bahan percakapan.

Sampai akhirnya ia bercerita tentang anaknya.

Anaknya bekerja di Australia.

Saya spontan berkomentar, “Wah, banyak duitnya berarti, Bu.”

Saya membayangkan gaji dalam dolar Australia. Kalau dikonversi ke rupiah, kalkulator mungkin harus bekerja sedikit lebih keras.

Ibu itu tersenyum santai.

Lalu menjawab dengan campuran bahasa yang sederhana tetapi membuat saya terdiam.

“Yang penting ibadah is number one.”

Saya geleng-geleng kepala.

Baca Juga:  Perjalanan Rohani Santri UQI

Kalimatnya sederhana.

Tapi pagi itu rasanya seperti mendapat kuliah singkat.

Bukan dari profesor.

Bukan dari ruang seminar.

Bukan pula dari ustadz yang berdiri di mimbar.

Kuliah itu datang dari seorang ibu penjual nasi, bercelana jins, ditemani suara musik rock, sambil mengaduk tahu kecap.

“Ibadah is number one.”

Saya kembali memperhatikan ibu itu.

Beberapa menit sebelumnya, yang saya lihat hanyalah seorang perempuan paruh baya dengan gaya santai. Lady rocker samping UB. Mendengarkan Ikang Fawzi sambil memasak dan menyapa pelanggan dengan bahasa Inggris.

Tetapi ternyata manusia memang tidak pernah cukup dibaca dari sampulnya.

Ada orang yang pakaiannya terlihat sangat religius, tetapi hidupnya masih sibuk mengejar pengakuan manusia.

Ada pula orang yang tampil sederhana, bahkan sedikit rock n roll, tetapi di dalam kepalanya tersimpan kesadaran bahwa uang bukan ukuran utama keberhasilan hidup.

Anaknya bekerja di Australia.

Boleh jadi penghasilannya besar.

Boleh jadi hidupnya lebih mapan.

Tetapi ketika saya menyebut uang, ibunya justru mengingatkan tentang ibadah.

Barangkali karena seorang ibu tahu bahwa kesuksesan anak tidak cukup diukur dari seberapa jauh ia pergi.

Tidak cukup dari negara tempat ia bekerja.

Tidak cukup dari jumlah uang yang dikirim setiap bulan.

Seorang anak boleh terbang sampai Australia.

Boleh bekerja di gedung tinggi.

Boleh menerima gaji dengan mata uang asing.

Baca Juga:  Kenapa Harus Ada Underdog?

Tetapi seorang ibu tetap berharap satu hal:

Jangan sampai semakin jauh perjalanan hidupnya, semakin jauh pula ia dari Tuhan.

Pagi itu saya belajar bahwa nasihat kehidupan sering datang dari tempat yang tidak kita duga.

Kita terlalu sering mencari kebijaksanaan di buku-buku tebal. Mendengarkan seminar. Mengikuti ceramah. Menonton podcast berjam-jam.

Padahal terkadang satu kalimat dari orang biasa bisa tinggal lebih lama di kepala.

“Yang penting ibadah is number one.”

Nasi kami akhirnya siap.

Saya dan istri mulai sarapan.

Radio masih berbunyi.

Ikang Fawzi masih bernyanyi.

Ibu itu masih sesekali ikut bergoyang sambil melayani pembeli berikutnya.

Saya tersenyum sendiri.

Pagi itu kami sebenarnya hanya mencari sarapan.

Ternyata pulangnya membawa pelajaran.

Bahwa kita tidak perlu menjadi orang yang terlihat paling saleh untuk mengingat Tuhan.

Tidak perlu meninggalkan kegembiraan untuk menjadi manusia yang baik.

Kita masih boleh mendengarkan musik.

Masih boleh bercanda.

Masih boleh memakai jins.

Masih boleh menjadi sedikit rock n roll.

Asalkan tahu siapa yang harus tetap menjadi nomor satu.

Penampilan boleh lady rocker.

Tetapi hati bisa seterang ustadzah.

Dan kadang-kadang, nasihat terbaik tentang akhirat justru kita temukan di warung nasi pinggir jalan.

Di samping Universitas Brawijaya.

Di antara sepiring nasi hangat, tahu kecap, dan suara Ikang Fawzi yang bernyanyi tentang preman metropolitan.

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius
Kenapa Harus Ada Underdog?
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB