Binanews.id | Buka ponsel sebentar saja, kita langsung disuguhi kabar yang tidak kita cari, aib orang, pertengkaran warganet, gosip yang bukan urusan kita. Habib Husein Ja’far Al Hadar menyebut inilah salah satu masalah terbesar manusia hari ini. “Di antara masalah utama kita di era digital yaitu tahu sesuatu yang enggak perlu kita tahu, enggak tahu sesuatu yang harusnya kita tahu,” katanya dalam podcast SUARA BERKELAS bersama host Bilal Faranov.
Keresahan itu pula yang membuat Habib Husein Ja’far berhenti bermain Twitter sejak sekitar tiga tahun lalu. Padahal ia tumbuh di sana sebagai penulis. Algoritma dan daftar trending, menurutnya, memaksa kita mengetahui hal-hal yang bukan hanya tidak perlu, tapi bahkan haram diketahui — aib orang lain. “Semakin kita tahu, semakin kita stres. Semakin kita tahu, semakin hancur hidup kita,” ujarnya.
Ia lalu memberi analogi yang melekat di kepala. “Kita itu hidup salah satunya di era seperti era Nabi Nuh. Bedanya Nabi Nuh banjir air, kita banjir informasi,” kata Habib Husein Ja’far. Nabi Nuh selamat karena membuat perahu. Kita pun harus membuat perahu sendiri untuk mengarungi banjir ini — dan perahu itu adalah algoritma yang kita kendalikan, bukan yang mengendalikan kita.
Caranya tidak muluk-muluk. Habib Husein Ja’far mengaku punya puluhan akun YouTube. Setiap kali ingin mempelajari sesuatu, ia membuat akun baru lalu sengaja mengeklik konten tema itu saja, misalnya fikih, sampai algoritma “mengira” ia penggemar fikih dan terus menjejalinya ilmu. Begitu rekomendasi mulai melantur, akun ditinggal, bikin lagi yang baru. Sudah dua tahun pula ia disiplin tidak mengeklik konten yang sia-sia.
Tips lainnya lebih dekat dengan keseharian adalah jangan jadikan ponsel benda terakhir yang dipegang sebelum tidur dan yang pertama digenggam saat bangun. Ia menceritakan seorang sahabat Anshar yang dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad karena setiap menjelang tidur ia berdiam sejenak, memaafkan semua orang yang berlaku buruk kepadanya hari itu.
Yang menarik, Habib Husein Ja’far menilai akar masalahnya bukan teknologi, melainkan penyakit lama manusia yaitu senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Media sosial hanya memeliharanya. Ia bahkan menyindir media sosial sebagai “media asosial” — mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat. Berapa banyak teman yang santun saat bertemu langsung, tapi berubah garang di grup WhatsApp?
Obat yang ia tawarkan sederhana yaitu perbanyak prasangka baik — kalau ada 99 alasan berprasangka buruk dan satu alasan berprasangka baik, pilih yang satu itu — lalu hidupkan kembali silaturahmi. “Letakkan HP-mu, datangi saudaramu, tetanggamu, temanmu, dan berceritalah, berpelukan, menangislah, tertawalah,” pesannya.
Di tengah linimasa yang tidak pernah berhenti mengalir, nasihat itu terdengar seperti tepukan di Pundak, kita boleh hidup di zaman banjir, asal jangan lupa membangun perahu.
Disarikan dari podcast SUARA BERKELAS episode 135 bersama Habib Husein Ja’far Al Hadar, kanal YouTube SUARA BERKELAS.









