Binanews.id | Bogor–Di sebuah pesantren di Bogor, seorang santri muda menjalani hari-harinya tanpa banyak sorotan. Ia bukan ketua organisasi, bukan pula santri yang selalu menjadi pusat perhatian. Namun dari lingkungan sederhana itulah, benih-benih mimpi besar mulai tumbuh. Namanya Aziz Awaludin.
Ketika mengingat masa-masa mondok di Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami Bogor, Aziz tidak pernah menggambarkan dirinya sebagai sosok istimewa. Ia menjalani kehidupan sebagaimana santri lainnya: bangun sebelum subuh, mengikuti pelajaran, menghafal, beribadah, dan menjalani disiplin pesantren yang ketat. Namun justru dari rutinitas yang tampak biasa itu, ia menemukan fondasi penting yang membentuk cara pandangnya tentang kehidupan.
Bagi Aziz, pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama. Di sana ia belajar tentang ketangguhan, kesabaran, kedisiplinan, dan keberanian menghadapi masa depan.
Salah satu nasihat yang paling membekas dalam ingatannya datang dari Kiai Helmi saat apel santri. Kalimat itu sederhana, tetapi terus hidup dalam benaknya hingga hari ini. “Pondok pesantren hanya memberikan kail kepada anak-anakku untuk meraih masa depan.”
Pesan itu mengajarkannya bahwa tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Pesantren mungkin tidak menjanjikan masa depan yang gemilang, tetapi memberikan bekal agar seseorang mampu memperjuangkannya sendiri.
Selain itu, ada satu kalimat lain yang sering terdengar di lingkungan pesantren dan kemudian mengubah arah hidupnya. “Bahasa asing merupakan mahkota pondok.”
Kalimat tersebut menumbuhkan ketertarikan Aziz pada bahasa. Ia mulai menyadari bahwa kemampuan berbahasa bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan jendela untuk melihat dunia yang lebih luas.
Merantau untuk Mengabdi
Setelah lulus dari pesantren, Aziz tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia memilih jalan yang tidak banyak dipilih anak muda seusianya: mengabdi.
Ia merantau ke Pondok Pesantren Al-Anshor di Kecamatan Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, ia belajar menjalani kehidupan secara mandiri.
Hari-hari di perantauan menjadi sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Di sana ia belajar mengatur kebutuhan sendiri, menghadapi tantangan tanpa bergantung kepada orang lain, sekaligus memahami arti tanggung jawab.
Namun di tengah masa pengabdian itu, muncul satu keinginan yang terus mengusik pikirannya: kuliah.
Keinginan tersebut tidak mudah diwujudkan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan besar. Ibunya berjualan nasi uduk, sementara penghasilan sang ayah tidak menentu. Biaya kuliah terasa seperti sesuatu yang sangat jauh untuk dijangkau. Tetapi Aziz tidak ingin menyerah pada keadaan. Alih-alih mengeluh, ia mencari cara.
Berbekal kemampuan yang dimilikinya, Aziz menulis sebuah buku mufradat. Buku itu kemudian dicetak dan dipasarkan kepada para santri. Hasil penjualannya tidak digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sedikit demi sedikit uang tersebut ia kumpulkan sebagai tabungan untuk biaya kuliah.
Setiap buku yang terjual bukan sekadar lembaran kertas. Di dalamnya tersimpan harapan seorang anak muda yang sedang berusaha membeli masa depannya dengan kerja keras.
Bertaruh Demi Sebuah Kesempatan
Dana hasil penjualan buku akhirnya cukup untuk membuka jalan menuju perguruan tinggi.
Aziz mendaftarkan diri ke BSI dan mulai menjalani perkuliahan. Namun seiring waktu, ia merasa pendidikan yang diterimanya belum sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Keputusan sulit pun diambil. Ia memilih berhenti dan mencoba mencari jalan lain.
Pada tahun berikutnya, Aziz mendaftar ke Universitas Sultan Hasanudin Banten dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat itu ia telah dinyatakan diterima di Universitas Sultan Hasanudin Banten. Namun ada satu kampus yang masih ia tunggu dengan penuh harapan: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keputusan yang diambilnya cukup berisiko. Ia memilih menunggu hasil seleksi UIN dan tidak mengambil kesempatan yang sudah ada di depan mata. Padahal masa berlaku ijazah yang digunakannya untuk mendaftar hampir habis. Jika gagal, ia bisa kehilangan peluang untuk melanjutkan pendidikan.
Hari-hari penantian itu tentu tidak mudah. Namun doa dan usaha yang terus dilakukan akhirnya berbuah manis. Kabar yang ditunggu-tunggu pun datang. Aziz dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dari Kampus ke Mimpi yang Lebih Besar
Menjadi mahasiswa bukanlah akhir perjuangan. Justru di kampus, cakrawala berpikir Aziz semakin terbuka.
Ia menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan membuatnya memahami bahwa kesempatan belajar adalah sesuatu yang sangat berharga.
Di lingkungan akademik itu pula ia bertemu dengan Richard Halverson, akademisi asal Amerika Serikat yang sedang bertugas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Berbagai diskusi yang mereka lakukan membuka perspektif baru tentang pendidikan, penelitian, dan pengembangan diri. Dari pertemuan tersebut, Aziz mulai memandang dunia akademik sebagai jalan hidup yang ingin ditekuninya.
Lebih dari itu, ia mendapatkan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Mimpi yang semula tampak jauh perlahan mulai terlihat nyata.
Kampung Inggris dan Tiket ke Monash University
Setelah menyelesaikan studi sarjana, Aziz menetapkan target yang lebih besar: kuliah di luar negeri. Ia sadar bahwa bahasa Inggris menjadi salah satu kunci utama untuk membuka pintu tersebut.
Karena itu, ia berangkat ke Kampung Inggris Pare. Di sana ia menghabiskan waktu untuk melatih kemampuan berbicara, membaca, menulis, dan mendengarkan bahasa Inggris secara intensif.
Usaha itu tidak sia-sia. Kemampuan bahasanya berkembang pesat dan menjadi modal penting ketika mengikuti seleksi beasiswa LPDP.
Proses seleksi yang panjang dan kompetitif dijalani dengan penuh kesungguhan. Berbagai persyaratan akademik dan administrasi dipersiapkan sebaik mungkin.
Hasilnya, Aziz berhasil meraih beasiswa LPDP dan diterima melanjutkan studi magister di Monash University.
Bagi seorang anak penjual nasi uduk yang pernah menabung dari hasil penjualan buku mufradat, pencapaian itu menjadi bukti bahwa batas terbesar sering kali bukanlah keadaan, melainkan keberanian untuk terus mencoba.
Menjadi Peneliti dan Menembus Kampus Kelas Dunia
Setelah lulus dari Monash University, Aziz kembali ke Indonesia. Ia memilih mengabdikan diri sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selain mengajar, ia juga aktif di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM). Di lembaga ini, kecintaannya terhadap penelitian semakin berkembang.
Hari-harinya dipenuhi aktivitas riset, menulis artikel ilmiah, menyusun laporan penelitian, dan membangun jejaring akademik.
Semakin banyak meneliti, semakin besar pula keinginannya untuk memperdalam ilmu.
Kesempatan itu datang ketika ia mengikuti seleksi beasiswa Fulbright. Melalui program tersebut, Aziz berhasil memperoleh pendanaan untuk melanjutkan studi doktoral di University of Wisconsin–Madison, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat.
Perjalanan yang dimulai dari pesantren, diteruskan dengan menjual buku untuk biaya kuliah, kini membawanya ke salah satu kampus terbaik dunia.
Pulang untuk Mengabdi
Meski memiliki kesempatan berkarier di luar negeri, Aziz memilih kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktoralnya. Baginya, ilmu yang diperoleh harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kini ia mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Di ruang-ruang kelas, ia tidak hanya mengajar teori. Ia juga membawa pengalaman hidup yang mengajarkan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari keadaan yang sederhana.
Kepada generasi muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Aziz selalu menyampaikan pesan yang sama: jangan biarkan kondisi menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Ia percaya bahwa kerja keras harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.
Seperti yang selalu ia pesankan: “Selalu kerja keras dan pastikan setiap keputusan yang diambil adalah keputusan strategis, artinya selalu mempertanyakan apa dampak keputusan tersebut bagi masa depan kita.”
Perjalanan Aziz Awaludin menunjukkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh dari mana seseorang memulai langkahnya. Yang lebih penting adalah keberanian untuk terus belajar, ketekunan dalam berusaha, dan keyakinan bahwa setiap mimpi layak diperjuangkan, sejauh apa pun jaraknya.[]









