Binaneews.id | Gelaran piala dunia selalu menghadirkan cerita. Pesta akbar sepak bola sejagat raya tersebut menyedot perhatian lebih dari sepertiga penghuni dunia. Bagi pendukung timnas yang tajir memenuhi stadion jadi keharusan. Bagi yang kurang beruntung cukup menatap layar televisi. Agar terkesan seru dibuatlah acara nonton bareng. Dari mulai di kafe, di restoran, di terminal, di kantor desa sampai di pos kamling. Semua orang ingin terlibat dalam pesta.
Obrolan seputar tim unggulan dan pemain bintang menjadi santapan harian. Argentina sang juara bertahan dengan goal messi-nya. Mbappe yang coba balas dendam bersama tim bertaburbintang Prancis. Brazil asuhan Don Carlo yang membawa trisula maut, Vinicius, Cunha dan Rapinha. Tidak ketinggalan Ronaldo yang masih penasaran dengan timnas Portugal. Jangan lupakan Spanyol juara Eropa dengan senjata Lamine Yamal. Semua datang dengan misi juara. Menjadi yang terbaik di dunia.
Di tengah gemerlap bintang, masyarakat dunia menanti keajaiban. Sebuah anomali dari pesta akbar bernama underdog. Tim kecil yang tidak diperhitungkan. Dianggap pelengkap penderita dalam turnamen. Adanya hanya untuk menjadi anak tangga yang akan diinjak para bintang.
Dan piala dunia 2026 melahirkan Cape Verde. Negara antah berantah di tengah samudera yang menjadi bagian dari benua afrika. Tanpa sorot kamera sebelumnya, tapi saat kick off mulai menyilaukan jutaan pasang mata. Di pertandingan pertama berhasil menahan juara Eropa Spanyol dengan skor kacamata. Belum cukup kejutannya. Pertandingan kedua, Uruguay juara piala dunia 2 kali ditahan imbang 2:2. Dunia masih menunggu keajaiban berikutnya.
Lewat gambar Cape Verde seolah kita sedang melihat diri sendiri. A man from no where yang selalu layak diremehkan. Tipikal underdog sejati. Tidak lahir dari keluarga kaya. Tidak memiliki nama besar. Tidak bersekolah di tempat paling bergengsi. Tidak punya koneksi yang membuka semua pintu. Memulai hidup dengan langkah yang lebih berat dibandingkan orang lain. Bukan hanya dari Enol, malah dari minus. Karena orang tua tidak mampu membayar lunas tagihan bidan.
Dalam perjalan kita sang underdog melakoni peran tidak penting. Ada yang berangkat sekolah setelah mencari rumput buat domba. Ada yang kuliah sambil bekerja. Ada yang berkali-kali ditolak pekerjaan. Ada pula yang terus berjuang mencari modal untuk sekedar jualan gorengan.
Sering kali hidup terasa seperti pertandingan yang tidak seimbang. Seperti Cape Verde melawan Spanyol.
Tetapi sejarah selalu memberi kesempatan. Selama pluit akhir wasit belum ditiup tanda pertandingan masih terus bergulir. Selama Isrofil belum meniup sangsakala, keajaiban masih bisa terjadi di dunia. Prestasi tidak hanya ditulis oleh mereka yang bertabur bintang, Ia juga ditulis oleh mereka yang pada awalnya diremehkan. Underdog mengajarkan bahwa harapan tidak pernah diukur dari peluang. Harapan lahir dari keberanian untuk terus melangkah meski hampir mustahil.
Mungkin itulah sebabnya Allah lebih sering memilih orang-orang sederhana untuk mengubah sejarah. Seorang penggembala menjadi nabi. Anak yatim menjadi pemimpin umat. Seorang ibu yang berlari kecil di antara Shafa dan Marwah diabadikan langkahnya hingga akhir zaman. Bukan karena mereka memiliki kelebihan dunia, tetapi karena mereka tidak berhenti berjalan ketika dunia mengatakan, “Tidak Mungkin.”
Kalau semua orang lahir sebagai bintang, dunia akan kehilangan kisah yang paling menginspirasi. Kalau semua pertandingan dimenangkan oleh tim unggulan, sepak bola akan menjadi sekadar hitungan statistik. Dan kalau semua manusia selalu menang sejak awal, kita tidak akan pernah mengerti indahnya sebuah perjuangan.
Karena itu, jangan terlalu sedih jika hari ini hidup terasa seperti menjadi underdog. Mungkin memang itulah peran yang sedang Tuhan titipkan. Sebab sering kali keajaiban dititipkan kepada mereka yang diremehkan. Karena selama masih ada satu orang yang mampu mengalahkan ketidakmungkinan, selalu ada alasan bagi jutaan orang lainnya untuk terus melangkah. Bravo underdog.









