Binanews.id | Malam itu di Gillette Stadium, pinggiran Boston, Kylian Mbappe berdiri di titik putih. Wasit menunjuk titik penalti setelah Noussair Mazraoui menjatuhkannya di kotak terlarang, tetapi pemeriksaan VAR yang berlarut-larut memaksanya menunggu beberapa menit. Ketika eksekusi akhirnya dilakukan, kiper Maroko Yassine Bounou mementahkannya.
Bagi pemain lain, momen seperti itu bisa meruntuhkan kepercayaan diri. Mbappe menjawabnya dengan cara berbeda. Pada menit ke-60, ia melepaskan tendangan kaki kanan melengkung dari tepi kotak penalti yang tak mampu dijangkau Bounou. Enam menit kemudian Ousmane Dembele menggandakan keunggulan, dan Prancis menang 2-0 atas sang juara Afrika pada perempat final Piala Dunia 2026, Kamis (9/7/2026).
Gol itu adalah gol kedelapannya di turnamen ini. Angka tersebut menempatkannya sebagai mesin gol paling produktif di Piala Dunia kali ini, sekaligus mengantarkan Prancis ke semifinal ketiga secara beruntun.
Perjalanan Les Bleus menuju empat besar nyaris tanpa cela. Mereka menyapu bersih Grup I dengan sembilan poin dari kemenangan atas Norwegia, Senegal, dan Irak. Di babak 32 besar, format baru turnamen edisi ini, Swedia dihajar 3-0. Paraguay yang bermain bertahan ditundukkan 1-0 di babak 16 besar, sebelum Maroko dilewati di perempat final.
Kini Spanyol, sang juara Eropa, menunggu di Dallas Stadium, Arlington, Texas, pada Selasa (14/7/2026) pukul 14.00 waktu setempat atau Rabu dini hari WIB. Duel generasi antara Mbappe dan bocah ajaib Spanyol, Lamine Yamal, itu menjadi laga terbesar turnamen sejauh ini. Jika menang, Prancis menjadi negara Eropa kedua setelah Jerman Barat yang tampil di tiga final Piala Dunia berturut-turut.
Di tengah hiruk-pikuk itu, satu pertanyaan layak diajukan. Siapa sebenarnya pria 27 tahun yang memikul harapan puluhan juta rakyat Prancis ini?
Jawabannya bermula di Bondy, kawasan pinggiran timur laut Paris. Mbappe lahir di ibu kota Prancis pada 20 Desember 1998, lalu tumbuh di lingkungan yang jauh dari gemerlap Menara Eiffel. Ayahnya, Wilfried, keturunan Kamerun, melatih klub kecil bernama AS Bondy. Di lapangan klub itulah Kylian kecil pertama kali menendang bola. Ibunya, Fayza Lamari, keturunan Aljazair, pernah berkarier sebagai pemain handball profesional.
Kamar tidurnya di Bondy dipenuhi poster Cristiano Ronaldo. Bertahun-tahun kemudian, anak yang mengagumi poster itu berdiri sejajar dengan sang idola di deretan penyerang terbaik dunia.
Bakatnya terendus sejak dini. Setelah ditempa akademi elite Clairefontaine, tempat penggemblengan talenta terbaik Prancis, Mbappe bergabung dengan AS Monaco. Pada Desember 2015, ia menjalani debut profesional di usia 16 tahun dan mematahkan rekor Thierry Henry sebagai debutan termuda dalam sejarah klub. Semusim kemudian ia membawa Monaco menjuarai Ligue 1 sekaligus menembus semifinal Liga Champions, pencapaian yang membuat seluruh Eropa memperebutkannya.
Paris Saint-Germain memenangkan perburuan itu dengan banderol 180 juta euro, menjadikan Mbappe pemain remaja termahal sepanjang sejarah. Label mahal itu ia bayar lunas. Enam gelar Ligue 1 ia persembahkan, dan ia pergi ke Real Madrid pada 2024 dengan status pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah PSG.
Namun panggung yang membesarkan namanya tetaplah Piala Dunia. Di Rusia pada 2018, remaja 19 tahun itu mengobrak-abrik pertahanan Argentina dengan dua gol di babak 16 besar, lalu menjebol gawang Kroasia di final. Ia menjadi remaja pertama sejak Pele pada 1958 yang mencetak gol di final Piala Dunia, dan pulang membawa trofi juara dunia.
Empat tahun kemudian di Qatar, ia mencetak hattrick di final melawan Argentina, yang pertama di partai puncak Piala Dunia sejak Geoff Hurst pada 1966. Prancis tetap kalah lewat adu penalti. Mbappe pulang dengan Sepatu Emas dari delapan golnya, tetapi tanpa trofi. Kekalahan itu meninggalkan luka yang, bagi banyak pengamat, menjadi bahan bakar ambisinya di Amerika tahun ini.
Di luar lapangan, sosoknya melampaui ukuran seorang pesepak bola. Ia menyumbangkan seluruh honornya di Piala Dunia 2018 untuk kegiatan amal. Lewat yayasan Inspired by KM, ia mendampingi anak-anak dari kawasan pinggiran seperti tempat ia dibesarkan. Sejumlah dokumenter menangkap dimensi itu, termasuk garapan France Televisions yang menyebut sepak bola di tangan Mbappe telah menjadi alat diplomasi, sebuah kekuatan lunak Prancis yang berdiri di persimpangan olahraga, politik, dan media.
Kapten timnas Prancis sejak 2023 itu kini kembali ke titik yang paling ia kenal, yakni satu laga jelang final. Di Dallas, anak Bondy itu punya kesempatan menuntaskan apa yang tertunda di Qatar, dan delapan golnya sejauh ini menunjukkan ia datang bukan untuk sekadar mengulang cerita lama. []
Editor : Fathurroji









