Binanews.id | Shalat jalan terus, puasa tidak pernah bolong, tapi hidup rasanya begitu-begitu saja. Marah masih gampang meledak, hati masih sering iri. Kalau kamu pernah merasakannya, pertanyaan itu pula yang dijawab Dr. Fahruddin Faiz dalam serial Ngaji Filsafat di kanal YouTube Mengaji Hening, saat ia membedah kitab Sirrul Asrar karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
“Kenapa selama ini ibadah kita rasanya kok formalitas, ndak ngefek sama sekali dengan kehidupan kita? Karena kita ada dalam kegelapan,” kata Fahruddin Faiz. Akal bisa saja cerdas, pandai mengkritik sana-sini, tetapi hidup sehari-hari tidak mencerminkan apa yang diucapkan. Sumbernya satu, hati yang gelap.
Fahruddin Faiz meminjam perumpamaan Imam al-Ghazali. Kotoran hati itu seperti satu titik noda di kaca. Dibersihkan segera, mudah hilang. Dibiarkan dan terus ditambah, lama-lama kaca itu legam — dan yang gelap pun akhirnya kita anggap terang, sebab kita tidak pernah melihat cahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberi tiga langkah untuk menyingkap kegelapan itu dengan cara cari ilmunya dulu, amalkan dengan sungguh-sungguh, lalu gunakan ilmu itu untuk menaklukkan ego. Ilmu yang menumpuk tanpa amal tidak menaikkan kualitas hidup sedikit pun.
Dari sana, Fahruddin Faiz mengurai makna batin rukun-rukun ibadah. Syahadat, misalnya, tidak boleh berhenti di mulut. Ia harus menjadi cara hidup, Allah selalu nomor satu (wahid), dan Allah satu-satunya sandaran (shamad). “Kita ndak menggantungkan diri pada ijazah, pada IP, pada gelar, pada uang, pada jabatan. Allah saja tempat kita bersandar,” ujarnya.
Salat pun ada dua jenis. Merujuk Surah Al-Baqarah ayat 238, Syaikh Abdul Qadir memaknai shalat wustha sebagai salat kalbu — salat hati yang tidak mengenal waktu. Masjidnya hati, jamaahnya seluruh anggota tubuh, imamnya ketundukan kepada Allah. Di sinilah Fahruddin Faiz menjawab keheranan banyak orang, kenapa ada yang rajin ke masjid lima waktu tetapi masih korupsi dan menyakiti orang lain? “Itu yang salat baru fisiknya, kalbunya belum shalat.”
Zakat juga punya sisi batin. Jangan menghitung kembalian, sebab itu sama saja berdagang dengan Allah. Jangan pula merasa sedang menolong — kalau Allah mau, semua orang miskin bisa Dia cukupi tanpa perantara kita. Zakat adalah latihan melepas kelekatan pada milik, latihan membunuh ego. Begitu juga puasa batin, kemampuan mengendalikan diri sepanjang waktu, yang batal setiap kali kita tergoda dunia. Sedangkan haji batin adalah perjalanan mencari “Ka’bah rahasia” yang letaknya di dalam hati sendiri.
Di ujung kajian, ada peringatan yang patut direnungkan. Sebaik apa pun amal, ia bisa rusak oleh sifat-sifat penyusup. Marah merusak iman sebagaimana cuka merusak madu. Hasad membakar kebaikan seperti api melahap kayu bakar. Dan ghibah — yang kini begitu mudah dilakukan lewat gawai — disebut lebih buruk daripada zina.
Nasihat sembilan abad silam itu terasa dekat sekali. Barangkali kita tidak perlu langsung mengejar tingkatan zikir para sufi. Cukup mulai dari yang sederhana, sebelum takbir, berhenti sejenak dan bertanya — badanku sudah bersih, tapi hatiku sudah ikut suci atau belum?
Disarikan dari ceramah Dr. Fahruddin Faiz, “Ilmu dari Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk Meraih Cahaya Allah”, serial Ngaji Filsafat, kanal YouTube Mengaji Hening.









