Binanews.id | Perkembangan teknologi membawa perubahan pada Masyarakat dalam berbagai macam aspek kehidupan. Salah satu perubahan yang terlihat adalah dari cara Masyarakat memperoleh informasi baik yang berkaitan dengan hiburan, bisnis, pendidikan, politik, dan informasi lainnya. Titik awal perkembangan ini diawal dengan penemuan internet pada tahun 2000-an di Amerika.
Internet membuka ruang, meruntuhkan sekat-sekat geografis dan melahirkan inklusifitas terutama yang berkaitan dengan perlolehan informasi dan penyebaran informasi.
Awal mulanya, media sosial ditemukan untuk tujuan sederhana, yaitu memperluas jejaring pertemanan. Kemudian, seiring berjalannya waktu setelah ditemukannya tombol post dan like manusia tertarik untuk men-share kehidupan ide bahkan kehidupan pribadi mereka. Salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian dari warga internet (Warganet). Dari sini timbulah pro kontra sebab masyarakat mulai resah dan mengkritik bahwa bermain media sosial berlama-lama dapat membunuh waktu produktif,
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perusahaan pembuat platform media sosial tidak kehabisan akal, mereka mengubah strategi bisnis dengan menambah layanan AdSense dan video pendek sehingga orang berlomba-lomba memperoleh followers sebanyak-banyaknya, salah satu tujuannya adalah untuk mendapat AdSens dari pembuat platform digital.
Adanya media sosial sebetulnya dapat mempercepat eskalasi intelektualitas Masyarakat secara eksponensial melalui kanal media sosial. Hal ini akan menguntungkan kita sebagai bangsa Indonesia sebab jika percepatan intelektualitas ini dapat dilakukan, maka hal ini akan berdampak pada sendi kehidupan kita. Akan tetapi, justru yang terjadi malah sebaliknya, orang di media sosial dapat leluasa membuat konten yang tidak mendidik dan membicarakan hal di luar dari kompetensinya yang berakibat pada misunderstanding, miskonsepsi, hoaks dan hiruk pikuk di Masyarakat. Fungsi edukatif media sosial disingkirkan tanpa memikirkan dampak yang terjadi di Masyarakat, yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan keuntungan materi.
Saat ini, berbagai macam konten di media sosial banyak yang provokatif, penyebaran fitnah dan kebencian mudah dilontarkan sehingga hal ini rentan membawa perpecahan dan konflik. Orang yang tidak memiliki kompetensi pada bidangnya berbicara seenaknya tanpa adanya filter, akibatnya Masyarakat mendapatkan informasi yang bias dan rancu sehingga menjadi racun pada tubuh Masyarakat. Oleh karena itu, para kaum terpelajar perlu terjun untuk memberikan edukasi pada bidngnya masing-masing.
Para cendekiawan harus terjun untuk melerai masalah ini. Para cendekiawan yang memiliki pengetahuan luas harus menyadari bahwa terjadi pergeseran pada cara belajar Masyarakat, dari Masyarakat tekstual menuju Masyarakat visual. Para cendekiawan perlu menggunakan pendekatan yang adaptif pada abad 21 ini. Ini perlu dilakukan agar mereka mengetahui algoritma sehingga konten yang ada tidak berpihak pada konten-konten yang sensasional, akan tetapi pada konten yang mencerahkan Masyarakat. Harapannya para cendekiawan tidak hanya berkutat pada mengarang buku dan melakukan riset, tapi juga terlibat pada pembuatan konten-konten yang positif. Jika cendekiawan ikut terlibat pada pembuatan narasi-narasi konstruktif sesuai dengan bidangnya masing-masing dengan menggunakan pendekatan kekinian, maka hal ini akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia. Masyarakat hari ini lebih suka mendengarkan influencer ketimbang cendekiawan. Bagi kalangan muda, jika ditanya, mereka lebih mudah menyebutkan nama-nama influencer daripada nama-nama para ahli. Sudah saatnya para cendikiawan mulai sadar untuk ikut terlibat pada projek pembangunan SDM melalui media sosial. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah salah satu kemungkaran di media sosial, wallahu a’lam.









