Tragedi Ranking di Bangku Sekolah

Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Dulu, Desember 2014 itu mestinya menjadi hari yang sederhana: hari pembagian rapor. Tapi bagi banyak keluarga, hari itu sering berubah menjadi panggung harapan, kecemasan, bahkan tanpa disadari itu adalah tekanan.

Pagi itu, istri saya bersiap rapi. Ada semacam rasa khidmat menyambut hasil belajar anak kami, Nada, yang bahkan belum genap 6 tahun dan baru duduk di kelas 2 sekolah dasar. Sementara itu, Nada justru tampak enggan beranjak dari kasur. Ia sudah bangun sejak pukul 05.00, sudah menunaikan salat subuh dengan segala perjuangannya, tapi semangatnya tak seperti biasanya.

Ketika ditanya apakah ia ingin ikut ke sekolah, ia hanya mengangguk pelan, tidak. Dan hari itu memang tidak mewajibkan siswa hadir. Nada terlihat lega.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sikap Nada membawa saya mundur puluhan tahun ke belakang. Ke sebuah ruang kelas sederhana, dengan atap bocor dan lantai plesteran berlubang.

Selama 6 kali ujian di kelas 1 dan 2, saya selalu berada di 4 besar. Jika tidak ranking 4, maka ranking 2. Tidak pernah 1 atau 3. Selalu angka genap, seperti takdir kecil yang lucu. Maka pembagian rapor adalah momen yang mendebarkan: angka berapa lagi yang akan menutup deretan nilai saya?

Namun semua berubah di kelas 3.

Baca Juga:  Progres Pembangunan JPO Jalan Raya Tegar Beriman Cibinong Capai 70 Persen

Bukan karena pelajarannya lebih sulit. Bukan juga karena teman-teman atau fasilitas. Semua terasa biasa saja bahkan menyenangkan. Yang berubah adalah rasa. Saya kehilangan koneksi dengan guru. Interaksi yang dulu hangat, kini terasa dingin. Saya merasa tidak dilihat. Tidak didengar. Bahkan, dalam benak anak kecil saya saat itu, ada rasa diperlakukan tidak adil.

Semangat belajar perlahan hilang.

Hari pembagian rapor itu, nama saya tidak lagi dipanggil di awal. Saya sudah tahu sebelum membuka lembaran: saya jatuh. Bukan hanya keluar dari 4 besar, tapi bahkan dari 10 besar. Dari angka satu digit, kini menjadi dua digit.

Dan di rumah, tragedi kecil itu benar-benar terjadi.

Rapor bersampul plastik merah itu diremas, dilempar keluar jendela, dan jatuh ke tanah, seperti harga diri seorang anak yang belum paham bagaimana cara menjelaskan kegagalannya. Saya berlari mengambilnya sambil menangis. Bukan hanya karena dimarahi, tapi karena takut: bagaimana saya akan mengembalikan rapor yang sudah berubah bentuk ini kepada guru?

Peristiwa itu terjadi lebih dari setengah abad lalu. Waktu memang menyembuhkan. Kini saya tidak menyimpan benci. Saya mengerti, ibu hanya ingin saya berhasil. Sebagai anak pertama, saya diharapkan menjadi contoh.

Tapi luka itu pernah ada. Dan bagi sebagian anak, luka seperti itu bisa tinggal lebih lama.

Baca Juga:  DACOMFEST 2026 Jadi Ajang Kolaborasi Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi UIB 

Kini, saya memegang rapor Nada. Bukan lagi buku tebal bersampul merah, melainkan secarik kertas. Nilai rata-ratanya 90. Ada 3 mata pelajaran dengan nilai 80: Bahasa Sunda, keterampilan, dan qiroati. Selebihnya di atas 90.

Namun yang paling menarik justru bukan angkanya.

Di sana tidak ada kata: RANKING.

Kata yang dulu menjadi pusat semesta bagi banyak anak. Kata yang bisa menghadirkan hadiah, tapi juga bisa menanamkan luka. Kata yang diam-diam mengajarkan bahwa nilai diri seseorang bisa diurutkan dari 1 sampai 30.

Saya sempat merasa ada yang kurang. Ego kecil saya berbisik: “Harusnya ada ranking.” Dengan nilai seperti itu, mungkin Nada ada di posisi atas. Mungkin ia bisa mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah saya raih.

Tapi kemudian saya berpikir ulang.

Apakah benar anak usia di bawah 10 tahun perlu tahu bahwa dirinya “lebih baik” atau “lebih buruk” dari teman sekelasnya?

Bagaimana perasaan anak yang berada di urutan 30 dari 30 siswa? Apakah ia akan pulang dengan kepala tegak, atau justru membawa beban yang bahkan belum ia pahami?

Ranking sering kali menyederhanakan sesuatu yang kompleks. Seolah-olah kecerdasan hanya soal angka. Padahal anak-anak adalah dunia yang jauh lebih luas: ada yang kuat di empati, ada yang cekatan dengan tangan, ada yang berani mencoba, ada yang tekun meski lambat.

Baca Juga:  Leadership dan Advokasi Multi-Sektor dalam Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia

Ketika semuanya diringkas menjadi satu angka urutan, kita berisiko mengabaikan potensi yang tidak terlihat di kertas.

Tidak dicantumkannya ranking, bagi saya, bukan kehilangan. Justru itu adalah kemajuan. Sebuah upaya untuk melihat anak sebagai individu, bukan sekadar posisi dalam kompetisi.

Mungkin, yang perlu kita ubah bukan hanya sistemnya, tapi juga cara kita memandang.

Bahwa pendidikan bukan lomba lari yang harus selalu ada garis finis tercepat. Ia lebih mirip perjalanan panjang, di mana setiap anak berjalan dengan ritmenya sendiri. Ada yang cepat di awal lalu melambat, ada yang tertatih di awal lalu melesat kemudian.

Dan tugas kita sebagai orang tua bukan menekan langkah mereka agar seragam, melainkan memastikan mereka tidak berhenti berjalan.

Hikmahnya, angka bisa memberi gambaran, tapi tidak pernah bisa menjelaskan seluruh cerita. Ranking bisa menunjukkan posisi, tapi tidak pernah benar-benar mengukur nilai seorang manusia. Jika kita ingin anak-anak tumbuh utuh, bukan hanya pintar, tapi juga kuat, percaya diri, dan bahagia, maka yang perlu kita jaga bukan sekadar prestasinya, melainkan juga hatinya.[]

 

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB