Binanews.id | Di zaman media sosial ini manusia begitu mudah tersinggung. Sedikit saja diremehkan, hati langsung terbakar. Mendapat jempol terbalik di status pribadi, seharian bisa uring-uringan. Ada yang memberi komentar kurang baik langsung diblokir, putus silaturahmi. Kecenderungan orang sekarang mudah menjalin hubungan dan gampang juga membuat permusuhan.
Kita perlu banyak belajar kepada para ulama terdahulu. Mereka betul-betul manjaga akhlak dalam pergaulan sosial. Sehingga hati mereka lebih lapang. Segala apa yang didapatkan baik atau buruk tidak merubah sifat dasar. Beliau-beliau tetap berbuat baik dan tidak mudah tersulut dengan provokasi keburukan.
Imam Ahmad bin Hanbal bisa menjadi salah satu teladan. Pernah beliau memiliki seorang tetangga muda yang gemar mempermainkannya. Entah karena iseng, sombong, atau ingin menguji kesabaran sang imam, pemuda itu melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas.
Suatu hari seorang utusan datang kepada Imam Ahmad dan menyampaikan bahwa si pemuda mengundang beliau datang ke rumahnya. Sebagai seorang alim yang tawadhu, Imam Ahmad pun segera memenuhi undangan tersebut dengan penuh keramahan. Beliau berjalan menuju rumah tetangganya dengan hati bersih tanpa prasangka buruk. Namun ketika sampai di rumah si pemuda, keadaan justru di luar dugaan.
“Aku tidak mengundangmu,” kata si pemuda datar.
Memdapat jawaban dari tetangganya yang usianya jauh lebih muda tersebur Imam Ahmad tidak marah. Beliau tidak tersinggung. Beliau hanya tersenyum lembut lalu pamit pulang.
Tidak lama setelah beliau sampai di rumah, datang lagi seorang utusan yang mengatakan bahwa si pemuda memanggil beliau kembali. Imam Ahmad pun kembali berangkat. Beliau mendatangi rumah pemuda itu sekali lagi dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Namun sesampainya di sana, si pemuda kembali berkata bahwa dia tidak pernah mengundang Imam Ahmad.
Untuk kedua kalinya sang imam dipermainkan. Dan lagi-lagi beliau tidak marah. Beliau hanya tersenyum lalu pulang dengan tenang.
Baru saja sampai di rumahnya, utusan kembali datang untuk ketiga kalinya. Kali ini utusan tersebut berkata bahwa si pemuda benar-benar mengundang Imam Ahmad dan ingin beliau datang. Mendengar itu Imam Ahmad kembali mendatangi rumah tetangganya tanpa rasa kesal sedikit pun. Beliau kembali mengetuk pintu dengan sopan. Namun ternyata keadaan tidak berubah. Si pemuda dengan wajah tanpa dosa kembali mengelak.
“Aku tidak mengundangmu.”
Tiga kali seorang ulama besar dipermainkan oleh anak muda. Tiga kali beliau dipanggil lalu disuruh pulang. Tiga kali harga dirinya seolah diinjak-injak. Tetapi yang luar biasa adalah respon Imam Ahmad. Beliau tetap tenang. Wajahnya tetap ramah. Tidak ada bentakan. Tidak ada celaan. Tidak ada kalimat: “kamu tidak tahu siapa aku?”
Padahal kalau mau, Imam Ahmad bisa saja mempermalukan pemuda itu di hadapan masyarakat. Nama besar beliau sangat cukup untuk membuat anak muda itu kehilangan kehormatan. Namun orang-orang besar memang berbeda. Semakin tinggi ilmunya, semakin kecil egonya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lapang dadanya menghadapi manusia.
Melihat respon Imam Ahmad yang sama sekali di luar dugaan, si pemuda akhirnya kebingungan dan penasaran. Dia bertanya, “Wahai Ahmad, mengapa engkau tidak marah kepadaku padahal aku sudah mempermainkanmu?”
Lalu Imam Ahmad menjawab dengan sangat tenang:
“Aku datang ke sini bukan karena engkau mengundangku. Aku datang karena perintah Rasulullah ﷺ.”
Pemuda itu semakin bingung.
“Maksudmu?”
Imam Ahmad berkata:
“Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita menghormati tetangga. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya.”
Betapa agung jawaban itu.
Imam Ahmad tidak menjadikan perlakuan buruk manusia sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Beliau telah mengajarkan satu rahasia besar:
Kadang kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membalas perlakuan buruk seseorang.
Tetapi ketika kita berhasil menjaga akhlak meski diperlakukan buruk. Allahu a’lam









