Sampah jadi Energi, PSEL Galuga Diproyeksikan Hasilkan hingga 40 MW

Tim Redaksi

- Redaksi

Kamis, 17 September 2026 - 07:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok pemkab bogor

dok pemkab bogor

Binanews.id | Bogor— Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, perlahan diarahkan untuk tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan. Melalui pembangunan Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (PSEL), sampah akan diolah menjadi sumber energi listrik.

Fasilitas PSEL Galuga dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Dari jumlah tersebut, energi listrik yang dihasilkan diproyeksikan mencapai 15 hingga 40 megawatt (MW).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menjelaskan bahwa sampah yang selama ini menjadi beban pengelolaan akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangkit energi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“PSEL ini untuk 1.500 ton sampah. Dari 1.500 ton sampah itu menghasilkan 15 sampai dengan 40 megawatt,” ujar Teuku Mulya.

Bagaimana Sampah Bisa Menjadi Listrik?

Secara sederhana, PSEL merupakan fasilitas yang mengolah sampah dengan teknologi tertentu untuk menghasilkan energi. Sampah yang sebelumnya hanya berakhir sebagai timbunan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku proses produksi energi.

Dalam konteks PSEL Galuga, energi listrik yang dihasilkan tidak kemudian dijual langsung oleh pemerintah daerah kepada masyarakat. Listrik tersebut akan masuk ke dalam mekanisme ketenagalistrikan melalui PT PLN (Persero) sebagai off-taker.

Off-taker dalam konteks ini merupakan pihak yang menyerap atau membeli energi yang dihasilkan oleh fasilitas pembangkit berdasarkan mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga:  iPhone akan Rilis Kamera 200 MP Layaknya Android

Teuku Mulya mengatakan listrik yang dihasilkan nantinya akan masuk dalam mekanisme distribusi PLN. “Yang mengonsumsi nanti melalui mekanisme off-taker-nya PLN. Nanti PLN yang mendistribusikan, tentunya ke wilayah-wilayah sekitar Bogor Barat,” jelasnya.

Dengan mekanisme tersebut, manfaat PSEL tidak hanya berkaitan dengan pengurangan volume sampah, tetapi juga berpotensi menambah pasokan energi listrik yang kemudian didistribusikan melalui sistem PLN.

Bukan Hanya Sampah Baru, Timbunan Lama Juga Diolah

Salah satu hal penting dalam pembangunan PSEL Galuga adalah sumber bahan bakunya. Sampah yang digunakan tidak hanya berasal dari produksi sampah harian masyarakat Kabupaten Bogor.

Timbunan sampah yang selama ini sudah berada di kawasan Galuga juga menjadi bagian dari material yang akan ditangani melalui fasilitas tersebut.

“Produksi sampah kita nanti per hari, plus tumpukan sampah yang sudah ada. Jadi nanti akan diolah ataupun dibakar melalui mekanisme PSEL,” katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan PSEL tidak hanya diarahkan untuk menangani sampah yang dihasilkan setiap hari, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menangani persoalan timbunan sampah yang telah ada.

Gambaran Kapasitas PSEL Galuga

Komponen Proyeksi
Kapasitas pengolahan sampah 1.500 ton/hari
Potensi energi listrik 15–40 MW
Penyalur/distributor listrik PT PLN (Persero)
Bahan baku Sampah harian dan timbunan sampah yang sudah ada
Lokasi TPA Galuga, Kabupaten Bogor
Tahap pembangunan Groundbreaking 17 September 2026

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Pembangunan PSEL Galuga menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor. Selama ini, pola pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir sangat identik dengan aktivitas menampung dan menimbun.

Baca Juga:  Waspada! Motor Kerap Jatuh di Tikungan Depan Masjid Al-Karomah Jambu Leuwisadeng

Melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi, pendekatan tersebut diarahkan menjadi sistem yang memberikan nilai tambah. Sampah tidak berhenti sebagai residu yang harus ditempatkan di TPA, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

Perubahan ini penting karena produksi sampah terus berlangsung setiap hari. Jika pengelolaannya hanya mengandalkan penambahan kapasitas penampungan, kebutuhan terhadap lahan dan fasilitas pengelolaan juga akan terus meningkat.

Sebaliknya, teknologi pengolahan dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi beban timbunan, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada teknologi yang digunakan, karakteristik sampah, pengelolaan emisi, serta sistem pengendalian lingkungan yang diterapkan.

Pemerintah Daerah Siapkan Dukungan

Pemerintah Kabupaten Bogor juga menyiapkan berbagai dukungan untuk pembangunan PSEL Galuga. Dukungan tersebut mencakup aspek keamanan, lalu lintas, serta menjaga kondisi kawasan agar tetap kondusif.

Hal tersebut menjadi perhatian karena kawasan Galuga sebelumnya menghadapi persoalan kebakaran sampah. Pemerintah daerah memastikan kondisi kawasan saat ini telah kondusif untuk mendukung tahapan pembangunan.

“Intinya dalam kondisi sekarang alhamdulillah kondusif dan kita siap untuk melakukan groundbreaking pembangunan PSEL,” tandasnya.

Groundbreaking pembangunan PSEL Galuga dijadwalkan berlangsung pada 17 September 2026.

Manfaat PSEL Tidak Hanya Berupa Listrik

Senior Vice President Stakeholders Relationship Danantara, Dede Firmansyah, menegaskan bahwa listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah nantinya akan masuk ke dalam sistem ketenagalistrikan dengan PLN sebagai off-taker.

Ketentuan tersebut, menurut Dede, telah diatur dalam Perpres Nomor 109, termasuk mengenai pasokan sampah sebagai bahan baku pengolahan.

Namun, manfaat pembangunan PSEL bagi pemerintah daerah tidak semata-mata dihitung dari keuntungan penjualan listrik. Dampaknya dapat mencakup beberapa aspek sekaligus.

Potensi Manfaat PSEL bagi Kabupaten Bogor

Aspek Potensi manfaat
Lingkungan Mengurangi beban timbunan sampah
Energi Menghasilkan listrik dari sampah
Investasi Membuka peluang masuknya investasi
Ekonomi Mendorong aktivitas ekonomi baru
Ketenagakerjaan Berpotensi menciptakan lapangan kerja
Pengelolaan sampah Mendorong sistem yang lebih modern dan terintegrasi
Baca Juga:  Bu Nyai Hj. Fatmah Noor Salim: Perempuan Tangguh di Balik Lahirnya Ummul Quro Al-Islami

Dede menjelaskan bahwa nilai tambah bagi pemerintah daerah lebih luas, mulai dari masuknya investasi, penyelesaian persoalan sampah, manfaat lingkungan hingga penciptaan lapangan kerja.

Artinya, PSEL perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan sampah dan energi, bukan semata-mata sebagai proyek pembangkit listrik.

Tantangan yang Perlu Diperhatikan

Di balik potensi tersebut, pengolahan sampah menjadi energi membutuhkan pengelolaan yang terukur. Sampah rumah tangga memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari sampah organik, plastik, kertas, logam hingga material lainnya.

Karena itu, keberhasilan PSEL tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan listrik. Sistem pengelolaan sampah dari sumber, pemilahan, pengangkutan, teknologi pengolahan, pengendalian emisi dan pengelolaan residu hasil proses juga menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi tersebut berjalan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, pembangunan PSEL dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah Kabupaten Bogor, tetapi tetap membutuhkan tata kelola dan pengawasan lingkungan yang konsisten.

Galuga Menuju Babak Baru

Dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari dan potensi produksi energi listrik 15 hingga 40 MW, PSEL Galuga diproyeksikan menjadi bagian penting dari perubahan pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor.

Transformasi tersebut membawa gagasan bahwa sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang dan ditimbun. Dengan teknologi yang tepat, sampah dapat menjadi bahan baku yang memiliki nilai guna, termasuk untuk menghasilkan energi.

Bagi Kabupaten Bogor, perubahan tersebut juga menyentuh persoalan yang lebih luas: lingkungan, energi, investasi dan lapangan kerja.

Dari tempat bermuaranya sampah, Galuga kini disiapkan menjadi salah satu titik perubahan pengelolaan sampah berbasis teknologi di Kabupaten Bogor. Tantangannya bukan hanya membangun fasilitas, tetapi memastikan teknologi tersebut berjalan aman, efektif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Atasi Limbah Dapur Homestay, Dospulkam IPB Kenalkan Praktik Bio Composter Bag
MyRepublic Hadirkan Promo Internet Mulai 100 Ribuan di Bekasi
Begini Cara Kerja Parkir Pararel dan Yang Perlu Diperhatikan Pengendara!
7 Tanda Karet Wiper Mobil Mulai Rusak, Jangan Diabaikan
Kondisi Ban Sering Diabaikan, Padahal Bisa jadi Penentu Keselamatan Berkendara
Penyebab Utama Oli Pada Mesin Mobil Cepat Berkurang
Fungsi dan Jenis Lampu Fog Lamp saat Musim Hujan
Cara Mengosongkan Memori HP yang Penuh Tanpa Hapus Aplikasi

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Atasi Limbah Dapur Homestay, Dospulkam IPB Kenalkan Praktik Bio Composter Bag

Sabtu, 26 September 2026 - 14:10 WIB

MyRepublic Hadirkan Promo Internet Mulai 100 Ribuan di Bekasi

Kamis, 17 September 2026 - 07:20 WIB

Sampah jadi Energi, PSEL Galuga Diproyeksikan Hasilkan hingga 40 MW

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:35 WIB

Begini Cara Kerja Parkir Pararel dan Yang Perlu Diperhatikan Pengendara!

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:47 WIB

7 Tanda Karet Wiper Mobil Mulai Rusak, Jangan Diabaikan

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB