Perjalanan Rohani Santri UQI

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Minggu, 10 Mei 2026 - 09:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Langit pagi masih diselimuti embun ketika ratusan santri putra dan putri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami bersiap memulai sebuah perjalanan panjang. Namun perjalanan ini bukan sekadar wisata sejarah atau rekreasi lintas kota. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan ruhani, sebuah ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah melalui jejak para kekasih-Nya. Tradisi itu dikenal di lingkungan pesantren sebagai Rihlah Ruhiyah.

Tradisi mulia ini telah diwariskan sejak masa almarhum KH. Helmy Abdul Mubin, Lc, pendiri pesantren yang dikenal sangat mencintai ulama dan orang-orang saleh. Bagi beliau, ziarah bukanlah sekadar mendatangi makam, melainkan proses pendidikan jiwa. Santri diajak belajar tentang keikhlasan, perjuangan, pengorbanan, dan ketawadhuan dari orang-orang besar yang telah mendahului.

Perjalanan spiritual itu dimulai dengan ziarah kepada makam almarhum KH. Helmy Abdul Mubin, Lc. Di hadapan pusara sang pendiri, para santri menundukkan kepala, melantunkan doa dan tahlil. Banyak mata yang berkaca-kaca mengingat perjuangan beliau membangun pesantren dari keterbatasan hingga menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan ribuan alumni. Dari makam sang guru, para santri seolah mendapatkan pesan diam-diam: bahwa ilmu harus diwariskan dengan perjuangan dan cinta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari pesantren, rombongan bergerak menuju Cirebon untuk berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Sosok wali besar yang juga dikenal sebagai Syarif Hidayatullah itu memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Sunda. Di kompleks makam yang ramai peziarah, para santri menyaksikan bagaimana dakwah Islam di Nusantara dibangun dengan akhlak, kebijaksanaan, dan pendekatan budaya.

Baca Juga:  Cara Menguatkan Mental agar Tetap Tangguh Menghadapi Hidup

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pekalongan menuju makam Habib Ahmad Al Athos. Di tempat itu, para santri diajak mengenal tradisi keilmuan para habaib yang menyebarkan Islam dengan kelembutan dan kasih sayang. Suasana hening dipenuhi lantunan shalawat yang menggema dari para santri.

Dari Pekalongan, rombongan menuju Demak, kota yang menjadi simbol kejayaan Islam Nusantara. Di sana para santri berziarah ke makam Raden Fatah, pendiri Kerajaan Demak yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Ziarah itu dilanjutkan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Sosok Sunan Kalijaga memberikan pelajaran penting kepada para santri bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dengan kekerasan kata-kata, tetapi bisa melalui seni, budaya, dan keteladanan hidup.

Perjalanan ruhani terus berlanjut menuju Kudus. Di kota kretek itu, para santri berziarah ke makam Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shadiq, ulama besar yang dikenal memiliki keluasan ilmu fiqih dan toleransi sosial yang tinggi. Menara Kudus yang berdiri megah menjadi saksi bagaimana Islam hadir tanpa menghapus budaya masyarakat setempat.

Dari Kudus, rombongan mendaki kawasan pegunungan Muria untuk berziarah ke makam Sunan Muria. Udara dingin pegunungan seolah menghadirkan suasana tafakur yang mendalam. Para santri belajar bahwa dakwah sejati sering kali tumbuh dari kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat kecil.

Baca Juga:  Berhati-hati dengan Cinta

Memasuki wilayah Jawa Timur, perjalanan spiritual semakin terasa kuat. Rombongan menuju Tuban untuk berziarah ke makam Sunan Bonang, ulama besar yang berdakwah melalui seni musik dan suluk. Dari Tuban, perjalanan diteruskan menuju Lamongan ke makam Sunan Drajat, wali yang terkenal dengan ajaran kepedulian sosial dan cinta kepada kaum lemah.

Selanjutnya para santri menuju Gresik, kota tua tempat penyebaran Islam awal di Jawa. Di sana mereka berziarah ke makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim. Sosok Maulana Malik Ibrahim dikenang sebagai pelopor dakwah Islam di tanah Jawa yang mengajarkan agama dengan pendekatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat.

Perjalanan Wali Songo diakhiri di kawasan Ampeldenta Surabaya dengan ziarah ke makam Sunan Ampel. Di kawasan religius yang selalu ramai oleh peziarah itu, para santri kembali menguatkan doa dan harapan. Banyak di antara mereka yang larut dalam munajat panjang, memohon keberkahan ilmu, keselamatan hidup, dan kemuliaan masa depan.

Namun perjalanan ruhani belum selesai. Para santri kemudian menyeberang ke Pulau Madura untuk berziarah ke makam Syaikhona Kholil di Bangkalan. Ulama kharismatik ini dikenal sebagai guru para ulama besar Nusantara, termasuk KH Hasyim Asy’ari. Dari kisah hidup beliau, para santri belajar tentang kedalaman ilmu, kezuhudan, dan perjuangan mendidik umat.

Perjalanan ditutup di Sumenep dengan ziarah ke makam Bindara Saod, seorang ulama dan wali yang sangat dihormati masyarakat Madura. Di ujung perjalanan itu, para santri merasakan bahwa perjalanan ribuan kilometer ternyata sejatinya adalah perjalanan menuju diri sendiri.

Baca Juga:  Mau Rekening Gratis Berisi Saldo Rp50 Ribu? Ini Syaratnya!

Rihlah Ruhiyah bukan sekadar agenda tahunan pesantren. Ia adalah madrasah kehidupan. Dalam setiap makam yang diziarahi, para santri diajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada harta atau jabatan, melainkan pada ilmu, amal, dan pengabdian kepada Allah.

Almarhum KH. Helmy Abdul Mubin, Lc selalu menekankan pentingnya ziarah kubur karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran besar. Ziarah mengingatkan manusia kepada kematian, melembutkan hati yang keras, dan mematahkan kesombongan dunia. Sementara ziarah kepada para ulama dan wali menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Melalui tawasul, para santri diajarkan memahami hakikat kelemahan diri sebagai manusia yang penuh dosa dan kekurangan. Tidak semua doa yang dipanjatkan mampu lahir dari hati yang bersih dan khusyuk. Karena itu, mereka diajak bertawasul kepada para wali dan ulama saleh, berharap doa-doa itu lebih mudah diijabah oleh Allah SWT. Sebab para wali adalah kekasih Allah yang memiliki kedudukan mulia di hadapan-Nya.

Di tengah dunia modern yang semakin bising oleh materialisme, Rihlah Ruhiyah menjadi oase spiritual bagi para santri UQI. Perjalanan itu mengajarkan bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga dengan kekuatan ruhani, adab kepada ulama, dan hubungan yang dekat kepada Allah SWT.

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB