Mentalitas Miskin di Balik Judi Online

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Pada tahun 2005, sebuah film dokumenter berjudul Reversal of Fortune melakukan eksperimen yang cukup menggemparkan. Seorang gelandangan di Amerika Serikat bernama Ted Rodrigue diberi uang tunai sebesar 100.000 dolar AS. Jika dirupiahkan saat ini, nilainya setara lebih dari Rp1,5 miliar.

Jumlah tersebut tentu bukan uang yang sedikit. Dengan dana sebesar itu, seseorang dapat membeli rumah sederhana, kendaraan, bahkan memulai sebuah usaha. Namun, hanya dalam beberapa bulan, seluruh uang tersebut habis. Ted membeli berbagai barang konsumtif, enggan merencanakan masa depannya, menolak nasihat perencana keuangan, dan akhirnya kembali hidup di jalanan. Saat diwawancarai, ia mengaku seluruh uang itu telah habis dan dirinya kembali menjadi gelandangan.

Kisah tersebut mengingatkan kita pada satu hal penting: kemiskinan tidak selalu semata-mata soal kurangnya harta, tetapi sering kali berkaitan dengan cara berpikir. Fenomena serupa dapat kita lihat pada maraknya judi online saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak orang menganggap judi sebagai jalan pintas untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Mereka membayangkan satu putaran permainan dapat mengubah nasib keluarga. Hutang menjadi lunas, rumah dapat dibeli, dan kendaraan impian terparkir di garasi.

Baca Juga:  Ambisi: Pintu yang Tertutup, Jendela yang Terlupa

Padahal, yang sebenarnya mereka beli bukanlah kekayaan, melainkan khayalan. Sebuah harapan semu yang sengaja dirancang agar orang terus memasukkan uang ke dalam sistem.

Di balik judi online tersembunyi pola pikir yang berbahaya, yaitu keinginan memperoleh hasil besar tanpa proses yang sepadan. Pola pikir inilah yang sering disebut sebagai mentalitas miskin. Bukan miskin harta, melainkan miskin cara pandang terhadap kehidupan.

Orang yang kaya jiwanya memahami bahwa setiap hasil besar selalu lahir dari proses yang panjang. Petani harus menunggu musim panen. Pedagang membangun kepercayaan pelanggan selama bertahun-tahun. Mahasiswa menghabiskan ribuan jam belajar sebelum memperoleh gelar. Seorang pengusaha rela mengalami kegagalan berulang kali sebelum usahanya berkembang.

Mereka memahami satu hukum kehidupan yang sederhana: hasil mengikuti ikhtiar.

Judi online justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Ia membisikkan bahwa keberhasilan tidak memerlukan ilmu, keterampilan, atau kerja keras. Cukup melakukan deposit, menekan tombol, lalu berharap keberuntungan datang.

Semakin lama seseorang mempercayai ilusi tersebut, semakin lemah pula semangatnya untuk menempuh jalan yang benar. Bekerja dianggap terlalu lama menghasilkan. Belajar terasa melelahkan. Menabung dianggap membosankan. Berwirausaha dipandang terlalu berisiko.

Baca Juga:  Seni Membalas Keburukan

Padahal, justru proses-proses itulah yang membentuk karakter dan ketangguhan seseorang.

Yang lebih menyedihkan, judi tidak hanya menghabiskan uang. Ia juga mengikis kemampuan seseorang untuk mensyukuri rezeki yang dimiliki. Gaji yang halal terasa kecil. Keuntungan usaha dianggap tidak menarik. Hasil panen terasa kurang. Semuanya dibandingkan dengan bayangan kemenangan besar yang sebenarnya sangat kecil kemungkinannya terjadi.

Ironisnya, para bandar tidak pernah berjudi. Mereka membangun sistem yang secara matematis dirancang agar dalam jangka panjang rumah selalu menang. Sesekali pemain memang dibiarkan memperoleh kemenangan, bukan karena sistem itu adil, melainkan agar harapan tetap hidup dan pemain terus kembali. Dari mekanisme inilah industri judi memperoleh keuntungan yang sangat besar.

Dalam Islam, Allah mengharamkan perjudian bukan sekadar karena perpindahan uang dari satu tangan ke tangan lain. Judi diharamkan karena kerusakan yang ditimbulkannya. Ia merusak akal sehat, memutus hubungan keluarga, melahirkan permusuhan, serta menumbuhkan ketergantungan pada keberuntungan, bukan pada ikhtiar yang halal.

Sejarah juga menunjukkan bahwa tidak ada bangsa yang maju karena berjudi. Peradaban dibangun oleh para ilmuwan yang tekun meneliti, petani yang sabar menanam, guru yang setia mengajar, pedagang yang jujur berdagang, serta para pekerja yang tidak lelah berkarya.

Baca Juga:  ‎IUQI Resmi Lepas Peserta KKM Internasional Menuju Arab Saudi

Mereka mungkin tidak menjadi kaya dalam semalam. Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, yakni budaya kerja, kejujuran, dan ketekunan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari kisah gelandangan Amerika tadi. Uang miliaran rupiah ternyata tidak cukup untuk mengubah hidup seseorang apabila pola pikirnya tetap sama. Sebaliknya, orang yang memiliki mentalitas bertumbuh akan mampu membangun kehidupan meskipun memulainya dari nol.

Sebab kemiskinan yang paling sulit diatasi bukanlah kosongnya rekening, melainkan keyakinan bahwa hidup bisa berubah tanpa ilmu, tanpa kerja keras, dan tanpa kesabaran.

Selama keyakinan itu masih bercokol di dalam hati, judi online akan selalu menemukan korbannya. Namun ketika seseorang mulai percaya bahwa rezeki terbaik lahir dari usaha yang jujur dan proses yang panjang, saat itulah ia telah memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya. Bukan melawan mesin judi, melainkan melawan cara berpikir yang menjauhkan dirinya dari nilai-nilai kerja keras, kesabaran, dan ikhtiar yang benar.

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB