Lima Sila sebagai Lima Luka

Yudi Latief, M.A., Ph.D (Aktivis dan Cendekiawan)

Prabu

- Redaksi

Senin, 1 Juni 2026 - 17:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.

Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.

Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya pelengkap penderita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di atas mimbar, persatuan dielukan. Di lapangan, perpecahan dipanen sebagai modal politik. Di sekolah, anak-anak diajari bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam praktik, rakyat sering dicari hanya ketika suaranya dibutuhkan.

Baca Juga:  Implementasi Empat Pilar Kebangsaan sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Nasional

Kita tidak kekurangan orang yang berbicara Pancasila. Yang langka adalah mereka yang rela kehilangan privilese demi menjalankannya. Sebab cinta kepada Pancasila tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keberanian menghidupkannya.

Maka pada Hari Lahir Pancasila, pertanyaan pentingnya bukan: “Apakah rakyat masih percaya kepada Pancasila?” Melainkan: “Apakah para pemegang kuasa masih takut mengkhianatinya?”

Krisis terbesar bangsa bukan ketika rakyat kehilangan hafalan, melainkan ketika elite kehilangan rasa malu: ketika jabatan dianggap warisan, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan kekuasaan lebih sibuk menjaga diri daripada melayani negeri.

Baca Juga:  Menyambut 100 Tahun Gontor, Merefleksi Sejarah Menguatkan Rasa Syukur

Saat itulah Pancasila berubah dari kompas menjadi dekorasi.

Yang dibutuhkan bukan lebih banyak seremoni, baliho, atau pidato, melainkan keteladanan: hukum yang tak memilih nama, jabatan yang tak melayani keluarga, kekuasaan yang mau dikoreksi, dan pemimpin yang lebih suka mendengar daripada haus pujian.

Baca Juga:  SMP Islam Tahfizh Al-Qur'an el Ma'mur Menggelar Khotmil Qur'an

Pancasila tidak meminta Indonesia menjadi sempurna. Ia hanya meminta bangsa ini terus mendekati cita-citanya: ketuhanan yang melampaui simbol, kemanusiaan yang melampaui belas kasihan, persatuan tanpa pembungkaman, demokrasi yang lebih dari prosedur, dan keadilan yang bukan hak istimewa.

Bangsa jarang runtuh karena kekurangan semboyan. Ia retak ketika nilai dipuja dalam pidato, diabaikan dalam praktek.

Dan Pancasila, barangkali, tidak sedang meminta diperingati. Ia sedang menunggu dijalankan.

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB