Binanews.id | Cianjur – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok IV STAI NU Cianjur melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.
Mengusung tema “Penguatan UMKM Berbasis Fiqh Muamalah untuk Pemberdayaan Ekonomi Desa yang Berkelanjutan,” kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pendampingan yang menyentuh aspek legalitas, kehalalan produk, digitalisasi, pengembangan kemasan, hingga pemasaran.
Program KKN diawali dengan pemberangkatan dan serah terima mahasiswa di Desa Kertamukti pada 10 Agustus 2026. Sehari setelahnya, mahasiswa melakukan briefing dan pembagian tugas observasi UMKM.
Pendataan dilakukan secara langsung kepada pelaku usaha untuk mengetahui jenis usaha, produk, kondisi usaha, legalitas, serta status sertifikasi halal.
Dari hasil pendataan tersebut, tercatat 10 UMKM yang terdata dan terdaftar di Desa Kertamukti. Mayoritas memiliki potensi pada bidang makanan dan produk olahan masyarakat.
Namun, hasil observasi juga menunjukkan masih adanya kebutuhan penguatan pada aspek legalitas usaha, sertifikasi halal, kemasan, sistem pembayaran digital, dan pemasaran.
Pendampingan Legalitas dan Digitalisasi
Salah satu program yang menjadi perhatian Kelompok IV adalah pendampingan legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB).
Sosialisasi mengenai pentingnya legalitas usaha dilaksanakan pada 14 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan kepada pelaku usaha.
Dari 10 UMKM yang terdata, sebanyak 7 pelaku usaha mendapatkan pendampingan NIB, sehingga capaian program tersebut mencapai 70 persen.
Pendampingan dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai fungsi NIB sebagai identitas legal usaha sekaligus pentingnya tertib administrasi dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
Selain legalitas, mahasiswa juga memberikan pendampingan dan fasilitasi awal terkait sertifikasi halal. Dalam program ini, mahasiswa menempatkan diri sebagai pendamping dan fasilitator awal, seperti membantu mempersiapkan kebutuhan administrasi dan memberikan arahan mengenai tahapan pengajuan.
Mahasiswa tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan maupun menerbitkan sertifikat halal. Proses pemeriksaan, penetapan, dan penerbitan sertifikat tetap menjadi kewenangan lembaga atau pihak yang berwenang.
Transformasi digital juga menjadi bagian dari program penguatan UMKM. Kelompok IV melakukan pendampingan pembuatan QRIS sebagai alternatif pembayaran digital. Dari 10 UMKM, sebanyak 5 pelaku usaha mendapatkan pendampingan QRIS atau sebesar 50 persen.
Kemasan dan Identitas Produk Turut Diperkuat
Penguatan UMKM tidak hanya dilakukan melalui administrasi dan transaksi digital. Kelompok IV juga memberikan perhatian terhadap tampilan dan identitas produk.
Penguatan UMKM tidak hanya dilakukan melalui administrasi dan transaksi digital. Kelompok IV juga memberikan perhatian terhadap tampilan dan identitas produk.
Selanjutnya, pada 27 Agustus 2026, mahasiswa melakukan pengembangan identitas UMKM melalui pembuatan dan pengembangan logo.
Identitas visual tersebut diharapkan dapat digunakan pada kemasan maupun media promosi sehingga produk memiliki tampilan yang lebih konsisten dan mudah dikenali konsumen. Pada 28 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi digitalisasi UMKM.
Mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan pemasaran untuk memperluas jangkauan produk.
Keripik Beling Jadi Salah Satu Program Unggulan
Salah satu kegiatan yang menjadi bagian penting dalam digitalisasi pemasaran adalah produksi video promosi UMKM Keripik Beling.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 31 Agustus 2026 dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 07.00–14.00 WIB dengan fokus mendokumentasikan proses produksi Keripik Beling. Mahasiswa mengambil berbagai materi visual yang kemudian digunakan sebagai bahan video promosi. Kegiatan dilanjutkan pada pukul 16.00–18.00 WIB untuk melengkapi materi dan menyelesaikan video hingga tahap akhir.
Video tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM sebagai media promosi digital untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat secara lebih luas.
Mengintegrasikan Fiqh Muamalah dalam Aktivitas Ekonomi
Program KKN Kelompok IV tidak hanya diarahkan pada peningkatan aspek ekonomi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai fiqh muamalah dalam pendampingan UMKM.
Mahasiswa mendorong pelaku usaha untuk memperhatikan legalitas, kehalalan produk, kejelasan informasi, kejujuran dalam transaksi, serta tanggung jawab terhadap konsumen. Dengan demikian, aktivitas ekonomi tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan aspek kemaslahatan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena perkembangan UMKM saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga kemampuan mengelola usaha secara tertib, transparan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan UMKM
Kelompok IV menyadari bahwa program KKN tidak berhenti pada saat kegiatan pendampingan selesai. Keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam penguatan UMKM Desa Kertamukti.
Hasil pendampingan diharapkan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh pelaku UMKM dengan dukungan pemerintah desa dan pihak terkait.
Pendampingan lanjutan terutama dibutuhkan dalam aspek sertifikasi halal dan pengembangan usaha karena kedua aspek tersebut memerlukan proses yang berkelanjutan dan, pada bagian tertentu, melibatkan pihak yang memiliki kewenangan khusus.
Melalui rangkaian program tersebut, KKN Kelompok IV STAI NU Cianjur berupaya menghadirkan bentuk pengabdian yang tidak hanya memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi.
Dengan 10 UMKM yang berhasil terdata, capaian pendampingan meliputi 7 pelaku usaha dalam program NIB, 5 pelaku usaha dalam program QRIS, dan 3 UMKM dalam pengembangan kemasan produk. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun UMKM Desa Kertamukti yang lebih tertata, adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki identitas produk, serta mampu berkembang secara berkelanjutan.
Editor : Fathurroji









