Binanews.id | Di sebagian besar pesantren hari ini, suasana proses belajar mulai mengalami perubahan. Santri tidak lagi hanya membawa kitab kuning dan buku catatan ke ruang kelas atau majelis pengajian. Namun Laptop, tablet, hingga smart phone perlahan menjadi bagian dari aktivitas belajar mereka. Sebagian santri kini menggunakan aplikasi digital untuk menerjemahkan bahasa Arab, mencari referensi kitab, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memahami materi pelajaran dan mempraktekan pelafalan dalam Bahasa inggris.
Fenomena ini mungkin masih menimbulkan perdebatan. Ada yang melihat teknologi sebagai ancaman bagi tradisi pesantren, tetapi tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai peluang besar bagi kemajuan pendidikan Islam. Di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat, pesantren memang menghadapi tantangan baru: bertahan dengan cara lama atau beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Kemajuan teknologi hari ini telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Dalam konteks ini, pesantren tidak lagi dapat dipandang sebagai lembaga yang terpisah dari perkembangan modernitas, melainkan sebagai institusi yang memiliki potensi strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan inovasi teknologi secara seimbang dan bijaksana. Manuel Castells (2010) berpendapat bahwa masyarakat modern saat ini bergerak menuju network society yang ditandai oleh dominasi teknologi informasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Neil Selwyn (2016) menegaskan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat digital, tetapi juga bagaimana institusi pendidikan merespons perubahan sosial, budaya, dan pedagogis yang muncul akibat transformasi digital tersebut. Dengan demikian, tantangan utama pesantren hari ini bukanlah menolak teknologi, melainkan membangun model pendidikan yang mampu menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus relevan dengan perkembangan era digital.
Sayangnya, pembicaraan tentang teknologi di lingkungan pesantren sering kali berhenti pada kekhawatiran. Teknologi dianggap identik dengan distraksi media sosial, menurunnya budaya membaca kitab, hingga ancaman degradasi moral generasi muda. Kekhawatiran tersebut tentu memiliki alasan. Tidak sedikit pelajar yang kehilangan fokus belajar akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Kehadiran AI juga memunculkan pertanyaan serius tentang kejujuran akademik dan budaya instan dalam mencari ilmu.
Namun, melihat teknologi hanya dari sisi ancamannya adalah cara pandang yang kurang lengkap.
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Di tangan yang tepat, teknologi justru dapat memperkuat tradisi intelektual pesantren. Hari ini, seorang santri di daerah dapat mengakses ribuan referensi keislaman digital hanya melalui telepon genggam. Pembelajaran bahasa Arab dan Inggris menjadi lebih interaktif dengan bantuan platform digital. Kajian kitab dapat diperluas melalui perpustakaan daring. Bahkan AI dapat membantu santri memahami struktur bahasa, mencari referensi ilmiah, atau memperluas wawasan global secara lebih cepat.
Tentu saja, teknologi tidak akan pernah menggantikan posisi guru dan kiai. Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga adab, keteladanan, dan proses pembentukan karakter. Justru di tengah dunia digital yang serba cepat dan sering kehilangan arah moral, pesantren memiliki peran yang semakin penting sebagai penjaga nilai dan etika.
Karena itu, modernisasi pesantren seharusnya tidak dipahami sebagai meninggalkan tradisi lama. Pesantren tidak perlu kehilangan identitas hanya karena menggunakan teknologi. Kitab kuning dan literasi digital bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan bijak.
Pada akhirnya, teknologi bukanlah ancaman terbesar bagi pesantren. Ancaman yang sesungguhnya adalah ketika pendidikan kehilangan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Sebab, pesantren yang kuat bukanlah pesantren yang menolak perubahan, melainkan pesantren yang mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan ruh dan jati dirinya.
Sources:
Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.
Selwyn, N. (2016). Education and Technology: Key Issues and Debates (2nd ed.). London: Bloomsbury Academic.









