Hidup Adalah Real Game, Kenapa Tak Kita Mainkan Sungguh-sungguh?

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Senin, 8 Juni 2026 - 12:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Ada satu pertanyaan yang menempel di kepala saya setelah menonton episode ke-175 podcast Suara Berkelas yaitu, kalau kita rela begadang berhari-hari, mati berkali-kali, dan mengulang level yang sama sampai jengkel hanya demi menamatkan satu video game, kenapa kita tak mau seserius itu untuk hidup yang sebenarnya?

Pertanyaan itu dilemparkan oleh Pramudya A. Oktavinanda — Managing Partner firma hukum UMBRA sekaligus doktor hukum lulusan University of Chicago — ketika ia bicara soal relentless, mental yang tak gampang dipatahkan orang. Ia membandingkan game-game terkenal yang dikenal kejam seperti Elden Ring dan Bloodborne. Pemainnya bisa kalah ratusan kali, karakternya mati di tempat yang sama berulang-ulang, dan mereka tetap menekan tombol “coba lagi”. “Kalau lu mau push diri lu hanya untuk game, kenapa enggak untuk yang real?” katanya. Toh, dunia ini sendiri adalah real game. Taruhannya jauh lebih besar daripada skor di layar.

Relentless sering diterjemahkan jadi “pantang menyerah”, tapi maknanya lebih keras dari itu. Ini soal kesediaan untuk terus mendorong diri melewati rintangan, bahkan ketika tak ada yang menyuruh dan tak ada yang menonton. Orang dengan mental seperti ini tidak menunggu kondisi sempurna. Mereka jatuh, terluka, lalu berdiri lagi karena sudah memutuskan untuk menjalani jalan itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kunci yang sering luput adalah kata “memutuskan”. Pramudya bercerita, saat ia memilih jadi pengacara, keluarganya bingung. Ia jadi sarjana hukum pertama di keluarganya, tanpa contoh untuk ditiru, tanpa peta yang sudah jadi. Yang membuatnya bertahan bukan bakat atau keberuntungan, melainkan keputusan yang sudah ia ambil dan ia pegang. Begitu keputusan itu bulat, jatuh dan luka berubah jadi bagian dari proses, bukan alasan untuk berhenti.

Baca Juga:  Cara Menyimpan Daging Kurban di Kulkas agar Awet dan Segar

Salah satu poin paling tajam dari obrolan itu menyangkut rasa sakit diabaikan. Banyak orang takut dikritik dan dihina. Padahal, kata Pramudya, ada yang lebih mengerikan bagi orang yang ingin sukses yaitu adalah dianggap tidak ada sama sekali.

Dihujat berarti kamu masih diperhitungkan. Orang repot-repot bereaksi terhadap apa yang kamu kerjakan. Sedangkan diabaikan, dilewati seolah kamu tak pernah hadir, adalah bentuk penolakan yang lebih senyap dan lebih dalam. Ironisnya, di situlah letak ujiannya. Mereka yang tahan diabaikan, yang tetap bekerja meski belum ada yang melirik, biasanya adalah mereka yang akhirnya bertahan paling lama.

Banyak anak muda berhenti melangkah bukan karena gagal, tapi karena sepi tepuk tangan. Karya pertama tak ada yang melihat, usaha kecil tak ada yang membeli, tulisan tak ada yang membaca. Di titik itu, mental relentless menentukan siapa yang lanjut dan siapa yang mundur.

Analogi real game itu menarik karena membalik cara kita memandang kesulitan. Dalam game, kita menerima bahwa kalah adalah bagian dari permainan. Tak ada pemain yang marah pada dirinya sendiri karena kalah di percobaan pertama melawan bos yang sulit. Mereka mempelajari pola, mengganti strategi, lalu mencoba lagi. Kekalahan diperlakukan sebagai data, bukan vonis.

Sekarang bayangkan kita memperlakukan pekerjaan, studi, atau usaha dengan kesabaran yang sama. Proposal ditolak, kita perbaiki dan ajukan lagi. Nilai jeblok, kita ubah cara belajar. Produk sepi pembeli, kita uji pendekatan baru. Persoalannya, di hidup nyata kita cenderung lebih cepat menghukum diri sendiri daripada saat bermain. Kita anggap satu kegagalan sebagai bukti bahwa kita tak cukup mampu, lalu berhenti sebelum sampai ke “level” berikutnya.

Pramudya menutup gagasannya dengan kalimat, kalau ia sanggup menyiksa diri demi game yang susah, kenapa tidak melakukan lebih banyak lagi untuk pekerjaan dan profesinya — untuk hasil yang nyata dan jauh lebih berharga.

Baca Juga:  Perjalanan Rumah Pendidikan Menjadi Juara Dunia WSIS Prizes 2026

Bedanya, game memberi kita umpan balik instan. Bar nyawa berkurang, layar berubah merah, kita langsung tahu sedang gagal. Hidup nyata jarang sebaik itu. Hasil dari kerja keras kadang baru terlihat berbulan-bulan kemudian, dan di rentang itulah banyak orang menyerah. Mental relentless sebagian besar adalah kemampuan bertahan di masa ketika belum ada tanda apa pun bahwa usaha kita berhasil — terus menekan tombol “coba lagi” tanpa jaminan kapan kemenangan datang.

Mental tangguh tak tumbuh di ruang hampa. Salah satu nasihat praktis dari obrolan itu adalah bergaullah dengan orang-orang yang membuat hatimu tergerak untuk berbuat sesuatu. Kalau kamu ngopi dan ngobrol dengan orang yang punya mimpi besar, mimpimu sendiri ikut tervalidasi. Sebaliknya, lingkaran yang isinya hanya keluhan dan pesimisme perlahan menggerus ambisi tanpa kamu sadari.

Ini bukan ajakan meninggalkan teman lama. Ini soal sadar bahwa percakapan yang kamu dengar tiap hari membentuk apa yang kamu anggap mungkin. Duduk di antara orang yang sedang membangun sesuatu membuat membangun terasa wajar. Duduk di antara orang yang menyerah membuat menyerah terasa masuk akal.

Kabar baiknya, lingkaran semacam itu kini lebih mudah dijangkau. Komunitas wirausaha, kelompok belajar, forum kreator, sampai podcast seperti Suara Berkelas sendiri bisa jadi tempat menyerap cara berpikir orang-orang yang sedang bertumbuh. Yang penting bukan seberapa hebat lingkaranmu, melainkan ke arah mana ia menarikmu.

Hambatan terbesar sering datang dari dalam. Pramudya menyebut kebiasaan kita membuat “cerita” untuk diri sendiri — alasan yang kelihatannya masuk akal, tapi sebenarnya menutup pintu. “Saya tidak punya modal.” “Saya bukan dari keluarga yang tepat.” “Sudah terlambat untuk memulai.” Begitu kita mempercayai cerita itu, kita berhenti mencari kemungkinan lain. Padahal solusi biasanya ada, hanya saja kita keburu yakin tak ada.

Baca Juga:  Judi Online Hancurkan Sendi Keluarga, Ini Penjelasan MUI

Membatasi diri sendiri, katanya, sangat berbahaya justru karena terasa nyaman. Cerita itu memberi kita izin untuk tidak mencoba. Maka latihan pertama bagi siapa pun yang ingin tangguh adalah mempertanyakan alasan-alasan sendiri sebelum menjadikannya tembok.

Ada satu catatan penting yang ia tambahkan yaitu, nasihat tak bisa diberikan secara seragam. Dunia politik, bisnis, hukum, ekonomi, sampai organisasi sosial punya budaya, kepentingan, dan pendekatan yang berbeda. Saran yang manjur di satu medan bisa keliru di medan lain. Karena itu, sebelum menelan motivasi apa pun mentah-mentah, sesuaikan dulu dengan kenyataan di lapanganmu sendiri.

Benang merah dari seluruh obrolan itu satu, yaitu embrace the challenge. Peluk tantangannya. Jangan menghindari kesulitan, jangan pula menunggu sampai semuanya terasa aman. Mereka yang menunggu kondisi ideal biasanya tak pernah benar-benar mulai.

Buat saya, inti dari mental relentless bukan soal menjadi keras kepala atau tak punya rasa takut. Takut tetap ada, luka tetap terasa, diabaikan tetap menyakitkan. Bedanya, orang yang tangguh tetap melangkah sambil membawa semua itu. Mereka memperlakukan hidup seperti real game yang layak dimainkan dengan sungguh-sungguh, bukan karena yakin pasti menang, tapi karena sudah memutuskan untuk tidak berhenti di percobaan pertama.

Pertanyaannya sekarang dikembalikan ke kita masing-masing. Seberapa jauh kita bersedia mendorong diri untuk hal-hal yang benar-benar penting? Kalau untuk game saja kita rela mati berkali-kali demi satu kemenangan kecil, mungkin hidup nyata pun pantas mendapat kegigihan yang sama. (roja)

Berita Terkait

Tips Memilih Laptop untuk Kerja dari Rumah agar Produktif dan Hemat Biaya
Downgrade Lifestyle Makin Marak, Pakar Ingatkan Jangan Tunda Medical Check-up
Khawatir Kanker Menyebar ke Tulang? SPECT-CT Bisa Bantu Deteksi
5 Hal Penyakit Ginjal yang Sering Disalahpahami, Nggak selalu Cuci Darah
Cara Membedakan Influenza A dengan Flu Biasa
Ciri Orang Egois Bisa Dilihat dari Perkataannya, Apa Saja?
Sederet Pemicu Perceraian, Bimbingan Perkawinan sebagai Pencegahan
Tips Memilih Travel Umroh untuk Keluarga Muslim di Bogor Jawa Barat

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Tips Memilih Laptop untuk Kerja dari Rumah agar Produktif dan Hemat Biaya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:24 WIB

Downgrade Lifestyle Makin Marak, Pakar Ingatkan Jangan Tunda Medical Check-up

Senin, 28 September 2026 - 17:00 WIB

Khawatir Kanker Menyebar ke Tulang? SPECT-CT Bisa Bantu Deteksi

Jumat, 25 September 2026 - 16:40 WIB

5 Hal Penyakit Ginjal yang Sering Disalahpahami, Nggak selalu Cuci Darah

Selasa, 22 September 2026 - 16:04 WIB

Cara Membedakan Influenza A dengan Flu Biasa

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB