Binanews.id | Tasawuf sering kali dibayangkan sebagai perjalanan menjauh dari dunia. Tinggal sendirian di sebuah gubuk di tengah hutan. Meninggalkan keramaian pasar, meninggalkan kesibukan kantor, menjauh dari lingkungan sosial dengan segala kebisingannya. Hidup sendiri tanpa berharap kepada makhluk. Hanya ada satu aktifitas yaitu beribadah. Mendekat dan melekat dengan Sang Pencipta.
Seorang sufi sejati harus hidup miskin. Meninggalkan makan enak, menyingkirkan tidur nyenyak serta melepas semua kenyamanan pakaian. Hari-harinya dilalui dengan berpuasa, terjaga dan berbalut kain kasar. Seolah-olah semakin jauh seseorang dari dunia, semakin dekat dia kepada Tuhan.
Padahal sejarah para wali justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda.
Salah satu tokoh besar yang menjalankan ajaran tasawuf dengan sangat indah adalah Abu Hasan As-Syadzili. Beliau bukan hanya seorang ahli dzikir, tetapi juga seorang guru kehidupan. Di tangan pendiri toriqah al Syadziliyah tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan cara membersihkan hati saat hidup di tengah dunia.
Suatu hari, Abu Hasan As-Syadzili berjalan dengan pakaian yang sangat bagus. Jubahnya bersih, sorbannya rapi, penampilannya tampak layak seperti seorang bangsawan. Hal ini menimbulkan kebingungan dalam hati seorang murid.
Bagaimana mungkin seorang guru sufi berpakaian seindah itu?
Abu Hasan As-Syadzili memahami isi hati muridnya tersebut. Beliau lalu berkata dengan tenang:
“Allah senang melihat bekas nikmat-Nya tampak pada hamba-Nya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam makna.
Beliau ingin menjelaskan bahwa Islam tidak mengharamkan kekayaan. Yang berbahaya bukan pakaian indah, bukan rumah besar, bukan kendaraan mewah, melainkan hati yang mabuk dunia.
Karena itu beliau mengajarkan zuhud dengan definisi yang berbeda.
“Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi kosongnya hati dari ketergantungan kepada dunia.”
Betapa banyak orang miskin yang justru diperbudak dunia. Pagi buta sudah berangkat kerja melupakan kewajiban sholat subuh. Siang hari masih berlomba mengais rezeki lalai akan sholat dzuhur dan asar. Menjelang petang baru beranjak pulang. Sampai di rumah dilanda lelah, sholat magrib dan isya pun terlupa. Hidupnya penuh iri dan dengki saat melihat kesuksesan orang lain. Dunia jauh dari jangkauan tangan dan akhirat luput dari hati.
Abu Hasan As-Syadzili mendidik murid-muridnya untuk menjadikan dunia sebagai ladang akhirat. Beliau mendorong mereka bekerja keras. Ada murid yang berdagang, bertani, menjadi pengrajin, bahkan terlibat dalam urusan sosial masyarakat.
Menurut beliau, tangan seorang mukmin harus kuat bekerja, tetapi hati tetap tunduk kepada Allah. Tasawuf bukan alasan untuk meninggalkan usaha. Sebab Rasulullah ﷺ sendiri adalah seorang pedagang. Banyak sahabat Nabi yang kaya raya namun sangat zuhud.
Abdurrahman bin Auf pernah datang hijrah ke Madinah tanpa membawa apa-apa. Tetapi beberapa tahun kemudian beliau menjadi saudagar besar. Meski demikian, kekayaannya tidak menutup pintu akhirat di hatinya. Saat kaum Muslimin membutuhkan bantuan, beliau menginfakkan hartanya seperti air mengalir.
Demikian pula Utsman bin Affan. Sumur dibeli, pasukan dibiayai, umat ditolong dengan kekayaan yang Allah titipkan kepadanya. Dunia berada di tangan mereka, bukan di hati mereka. Dan inilah maqam yang sulit.
Sebab dunia kadang tidak menghancurkan manusia lewat kemiskinan, tetapi lewat kesuksesan. Awalnya seseorang bekerja untuk ibadah. Lalu sibuk mengejar keuntungan. Kemudian lupa kepada yang memberi rezeki. Seperti Sa’labah yang berubah dari seorang ahli ibadah menjadi penentang syariah.
Karena itu Abu Hasan Asy-Syadzili selalu mengingatkan murid-muridnya agar hati jangan pernah kosong dari Allah, meski tangan sibuk bekerja.
Bekerjalah sekuat tenaga. Bangun usaha sebesar mungkin. Carilah rezeki halal dengan penuh kesungguhan. Tetapi jangan biarkan dunia menjadi kiblat hati. Burung setiap hari terbang mencari makan, tetapi sarangnya tetap menghadap langit. Begitulah seorang mukmin. Kakinya berjalan di bumi, tetapi hatinya tetap menuju Allah.
Maka bekerja keraslah, tetapi jangan keras hati.
Jadilah kaya, tetapi jangan lupa yang Memberi kekayaan.
Kejarlah dunia, tetapi jangan menjadikan dunia sebagai tujuan.
Karena sejatinya kemuliaan bukan ketika manusia memiliki dunia, tetapi ketika dunia tidak berhasil memiliki dirinya.









