Binanews.id | Bogor – Di balik tugas besar mencerdaskan generasi bangsa, masih banyak guru yang menjalani profesinya dengan harapan-harapan sederhana. Bukan kemewahan, melainkan kepastian penghasilan yang layak dan dibayar tepat waktu.
Muhammad Reyhan, guru SMP Al-Azhar Plus, menggambarkan bagaimana sebagian tenaga pendidik masih harus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.
“Kalau bicara guru laki-laki, ya yang penting ada buat bensin sama kopi,” katanya sambil tersenyum saat diwawancarai Binanews.id, Jumat (15/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Reyhan mengaku dirinya tetap menikmati dunia pendidikan karena merasa memiliki panggilan nurani untuk mengajar. Sebelum menjadi guru formal, ia telah lama mengajar anak-anak mengaji di lingkungan rumah dan pengajian keluarga.
“Secara nurani sudah mulai terbentuk. Karena sebelumnya juga sudah biasa ngajar ngaji anak-anak,” ujarnya.
Di sekolah, ia memilih memperkuat pendekatan keagamaan dan pembinaan karakter siswa dibanding terlalu menekankan capaian akademik semata. Menurutnya, kondisi sosial ekonomi siswa juga perlu dipahami secara realistis.
“Tadinya mau fokus ke prestasi akademik. Tapi karena mayoritas ekonominya menengah ke bawah, akhirnya saya lebih aktifkan murajaah, murattal, ratib, dan amaliah lainnya,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Reyhan melihat profesi guru tetap memiliki masa depan apabila sistem pendidikan mampu memberi ruang kesejahteraan yang lebih adil.
“Sebenarnya profesi guru pasti bakal menjanjikan tergantung orang yang bisa mengembangkan pendidikan tersebut,” katanya.
Ia pun menitipkan harapan kepada pemerintah dan para pemangku kebijakan agar lebih memperhatikan guru-guru yang belum tersertifikasi maupun yang masih menerima upah rendah.
“Saya titip, siapapun pemimpinnya yang memiliki otoritas, tolong diperhatikan guru-guru yang ada di bawah apalagi yang belum memiliki sertifikasi,” ungkapnya.
Tak hanya kepada pemerintah, Reyhan juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Menurutnya, guru dan orang tua harus berjalan beriringan dalam membentuk karakter generasi muda.
“Anak-anak tidak hanya mencontoh guru di sekolah, tapi juga orang tuanya di rumah. Jangan memandang guru sebagai sebelah pihak,” tutupnya.[]








