Binanews.id | Bogor — Siapa bilang mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam hanya bisa berbicara di depan kamera atau di atas panggung? Moh Fadhli Romadhon justru membawa gagasannya ke arena kompetisi ilmiah dan berhasil meraih Juara 2 dalam 18th Katulistiwa “International Scientific Paper Competition”. Digelar pada 23 Agustus 2026 oleh Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis (LSME) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, kompetisi ini mengusung tema inovasi berkelanjutan untuk mendorong daya saing global.
Kompetisi tahun ini mengangkat tema “Impact for the New Economy: Pioneering Sustainable Innovation to Drive Global Competitiveness”—sebuah tema yang menempatkan inovasi berkelanjutan dan daya saing global sebagai bagian penting dalam membentuk arah ekonomi baru.
Bukan Sekadar Menulis, tetapi Menguji Gagasan
Pencapaian ini menjadi menarik karena Fadhli datang dari latar belakang Komunikasi dan Penyiaran Islam, bidang yang selama ini lebih banyak diasosiasikan dengan komunikasi, media, dakwah, dan public speaking.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, perjalanan tersebut justru memperlihatkan bahwa kemampuan komunikasi tidak berhenti pada bagaimana seseorang berbicara di depan publik. Kemampuan memahami persoalan, menyusun gagasan, membangun argumentasi, hingga menyampaikan ide secara sistematis juga menjadi bagian penting dari proses akademik dan kompetisi ilmiah.
Bagi Fadhli, menulis karya ilmiah bukan sekadar memenuhi tuntutan kompetisi. Ada proses panjang untuk mengubah sebuah pemikiran menjadi gagasan yang memiliki arah, relevansi, dan potensi dampak.
“Bagi saya, prestasi ini bukan hanya tentang mendapatkan juara. Lebih dari itu, ini menjadi pengingat bahwa sebuah gagasan layak diperjuangkan ketika kita mau mengolahnya dengan serius dan berani membawanya ke ruang yang lebih luas.”
Ketika Mahasiswa KPI Berbicara Lewat Karya
Predikat Juara 2 dalam 18th Katulistiwa International Scientific Paper Competition menjadi bukti bahwa ruang kontribusi mahasiswa tidak harus dibatasi oleh latar belakang program studi.
Dunia saat ini membutuhkan generasi muda yang mampu melihat persoalan dari berbagai perspektif. Komunikasi membutuhkan riset. Inovasi membutuhkan kemampuan menyampaikan gagasan. Sementara perubahan membutuhkan keduanya.
Karena itu, bagi Fadhli, menjadi mahasiswa KPI bukan alasan untuk membatasi diri hanya pada satu bidang. Justru ilmu komunikasi menjadi bekal untuk memahami bagaimana sebuah gagasan dapat dikemas, dipertanggungjawabkan, dan dikomunikasikan agar mampu menjangkau lebih banyak orang.
“Saya percaya bahwa ilmu apa pun yang kita pelajari akan menjadi lebih berarti ketika bisa digunakan untuk membaca persoalan dan menawarkan sesuatu yang bermanfaat. Tidak harus selalu besar, tetapi harus dimulai dari keberanian untuk mencoba.”
Dari Kampus, Menuju Gagasan yang Berdampak
Prestasi ini sekaligus menambah perjalanan Fadhli dalam mengembangkan diri melalui berbagai ruang akademik, kepemudaan, komunikasi, inovasi, dan pengembangan gagasan.
Bagi dirinya, kompetisi bukan semata-mata tentang siapa yang mendapatkan penghargaan di akhir perjalanan. Kompetisi adalah ruang untuk menguji sejauh mana seseorang mampu mempertanggungjawabkan ide yang ia percaya.
Sebab pada akhirnya, piala hanya menjadi simbol dari sebuah proses. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk berpikir, kemauan untuk belajar, dan konsistensi untuk membawa sebuah gagasan menuju sesuatu yang memiliki makna.
Raihan 2nd Winner 18th Katulistiwa International Scientific Paper Competition pun menjadi satu babak baru bagi Fadhli untuk terus mempertemukan ilmu komunikasi, riset, inovasi, dan semangat kontribusi dalam satu perjalanan.
Dari sebuah gagasan yang ditulis, lahirlah sebuah pencapaian. Dan dari sebuah pencapaian, semoga lahir gagasan-gagasan berikutnya yang tidak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga mampu memberikan impact bagi masyarakat dan masa depan.[]
Editor : Fathurroji









