Didik Notosudjono, Jejak Anak Desa yang Menjadi Rektor Universitas Pakuan

Kisah sukses Prof. Didik Notosudjono, anak desa yang meniti perjalanan di dunia pendidikan hingga jadi Rektor Universitas Pakuan Bogor.

Tedy

- Redaksi

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor — Kesuksesan tidak selalu dimulai dari tempat yang serba tersedia. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju puncak justru berawal dari lingkungan sederhana, dengan keterbatasan yang menempa ketangguhan, kedisiplinan, dan keyakinan.

Kisah seperti itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup Prof. Dr. rer. pol. Ir. H. Didik Notosudjono, M.Sc.. Terlahir dan tumbuh sebagai anak desa—yang pada masa itu lebih akrab disebut dusun—di wilayah antara Kediri dan Malang, Jawa Timur, Didik menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya dipercaya memimpin salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Bogor, Universitas Pakuan (Unpak).

Jalan yang dilaluinya tentu tidak singkat. Ada masa pendidikan, perjuangan akademik, pengalaman penelitian, pengabdian di pemerintahan, hingga proses panjang dalam mengelola perguruan tinggi. Semua pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari fondasi kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Pakuan periode 2022–2027.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah Prof. Didik menjadi salah satu gambaran bahwa latar belakang bukanlah batas untuk meraih cita-cita. Dari sebuah desa, ia melangkah menembus dunia akademik nasional hingga internasional, sebelum kembali mengabdikan pengetahuan dan pengalamannya bagi pendidikan tinggi di Indonesia.

Berawal dari Lingkungan Sederhana

Masa kecil Didik dihabiskan dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi disiplin dan nilai-nilai keagamaan. Kedua orang tuanya memberikan pengawasan dan pendidikan yang kuat sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Kedisiplinan tersebut menjadi salah satu bekal penting yang membentuk karakternya ketika dewasa. Dalam keluarganya, pendidikan bukan hanya tentang mengejar nilai di sekolah, tetapi juga membangun kepatuhan, tanggung jawab, dan keyakinan dalam menjalani kehidupan.

Lingkungan keluarga yang religius turut membentuk cara pandangnya. Didik tumbuh dengan pemahaman tentang pentingnya menjalankan ajaran agama, menghormati orang tua, serta meyakini bahwa usaha manusia harus berjalan bersama doa dan keyakinan kepada Allah.

Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi bagian dari fondasi hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri Pondok Agung, Malang, pada 1966–1972. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMPK St. Johanes Gabriel di Pare, Kediri, pada 1972–1975, kemudian menempuh pendidikan di SMAK St. Albertus Malang pada 1975–1979.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Didik melanjutkan studi ke Universitas Brawijaya, Malang, pada 1980–1985.

Langkah akademiknya tidak berhenti di dalam negeri. Keinginan untuk terus belajar membawanya ke Jerman. Ia menempuh pendidikan di Universitaet Flensburg, Deutschland/Germany, pada 1989–1991, kemudian kembali melanjutkan pendidikan di universitas yang sama pada 1995–1999.

Baca Juga:  Rudy Susmanto Tekankan ASN Jadi Garda Komunikasi Publik Digital

Perjalanan pendidikan lintas negara itu menjadi bagian penting dalam pembentukan kapasitas akademiknya.

Menapaki Dunia Akademik dari Bawah

Kesuksesan akademik Prof. Didik tidak datang dalam sekejap. Berdasarkan hasil wawancara langsung, ia telah mengenal dunia akademik sejak menjadi asisten dosen di Universitas Brawijaya, Malang, pada era 1980-an.

Dari pengalaman awal itulah, ia mulai memahami kehidupan kampus bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Kariernya kemudian berkembang melalui berbagai posisi dan tanggung jawab. Dalam perjalanan profesionalnya, Prof. Didik pernah dipercaya mengemban sejumlah jabatan akademik dan struktural, baik di perguruan tinggi maupun lembaga pemerintahan.

Ia pernah berkiprah di sejumlah institusi, antara lain Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA), Universitas Surapati Jakarta, serta Universitas Pakuan (Unpak).

Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal penting: karier akademik dibangun melalui proses. Dari ruang kelas, penelitian, pengelolaan institusi, hingga pengalaman menjalankan tugas-tugas struktural.

Pengalaman Birokrasi yang Memperluas Wawasan

Selain menekuni dunia kampus, Prof. Didik juga memiliki pengalaman panjang dalam birokrasi pemerintahan. Ia pernah menjalankan sejumlah tugas struktural di lingkungan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah dipercaya menjabat sebagai Kepala Biro serta Asisten Deputi Kekayaan Intelektual dan Standardisasi Iptek, yang kini berkaitan dengan bidang hak kekayaan intelektual.

Pengalaman di lingkungan pemerintahan tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan strategis terkait riset, inovasi, teknologi, kebijakan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dari sana, perspektif Prof. Didik semakin luas. Ia tidak hanya melihat pendidikan sebagai proses yang berlangsung di dalam ruang kuliah, tetapi juga memahami hubungan antara ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Perpaduan pengalaman akademik dan birokrasi inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan dalam perjalanan kariernya.

Menimba Ilmu hingga Jerman

Keinginan untuk memperdalam ilmu pengetahuan membawa Prof. Didik melanjutkan pendidikan doktoral dengan Beasiswa S3 DAAD di Flensburg University, Jerman.

Pendidikan doktoralnya diselesaikan pada 2001 dalam bidang ilmu manajemen ekonomi.

Perjalanan akademik di Jerman semakin memperkuat bidang keilmuan dan kepakarannya. Fokus riset Prof. Didik mencakup berbagai bidang, antara lain energi terbarukan, teknologi tepat guna, manajemen, perilaku organisasi, perencanaan strategis, pengembangan organisasi, serta analisis kebijakan.

Bidang-bidang tersebut menunjukkan luasnya perhatian akademiknya. Bagi Prof. Didik, ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri. Penelitian dan inovasi harus memiliki hubungan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan lembaga.

Dari energi hingga organisasi, dari teknologi hingga kebijakan, seluruh pengalaman itu membentuk satu benang merah dalam perjalanan akademiknya: ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat.

Memantapkan Pengabdian di Universitas Pakuan

Setelah melewati perjalanan panjang di dunia riset, teknologi, pemerintahan, dan akademik, Prof. Didik kemudian memantapkan pengabdiannya di Universitas Pakuan.

Baca Juga:  Ira Oktovi Mulyani Raih Winner 1 Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat

Sejak 2008, ia telah menyandang jabatan sebagai guru besar di Fakultas Teknik Universitas Pakuan.

Kariernya di Unpak terus berkembang. Pada 2017, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor III yang membidangi riset, inovasi, dan kemitraan.

Posisi tersebut sangat sejalan dengan pengalaman panjang yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Dunia penelitian, teknologi, inovasi, kerja sama, serta pengembangan sumber daya manusia bukanlah bidang yang asing baginya.

Perjalanan dari ruang riset hingga ruang pimpinan universitas berlangsung secara bertahap.

Ia menjalani peran sebagai akademisi yang mengajar di ruang kelas, menekuni penelitian dan kajian ilmiah, memahami dinamika kebijakan di pemerintahan, hingga akhirnya terlibat langsung dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Seluruh proses tersebut menjadi bekal penting ketika ia dipercaya mengemban amanah yang lebih besar.

Dari Anak Desa ke Kursi Rektor

Pada 2022, Prof. Didik dipercaya menjadi Rektor Universitas Pakuan periode 2022–2027.

Amanah tersebut menjadi salah satu puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuhnya. Kursi rektor bukan diperoleh melalui proses singkat, melainkan melalui rangkaian pengalaman selama puluhan tahun.

Ada perjalanan sebagai mahasiswa dan asisten dosen. Ada pengalaman sebagai akademisi dan peneliti. Ada pula pengalaman dalam birokrasi pemerintahan serta pengelolaan perguruan tinggi.

Semua proses itu membentuk perspektif kepemimpinannya.

Sebagai rektor, Prof. Didik membawa pengalaman seorang guru besar sekaligus pengalaman lintas sektor. Modal tersebut menjadi penting dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang terus berubah.

Perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, persaingan global, kualitas sumber daya manusia, serta tuntutan terhadap inovasi menjadi persoalan yang harus direspons oleh perguruan tinggi.

Di bawah kepemimpinannya, penguatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan kerja sama menjadi bagian penting dalam pengembangan Universitas Pakuan ke depan.

Membangun Budaya Kolaborasi dan Riset

Prof. Didik juga memberikan perhatian terhadap pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dan lembaga.

Kerja sama, menurutnya, menjadi bagian penting dalam memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Semangat kolaborasi menjadi semakin relevan di tengah perkembangan dunia pendidikan yang tidak lagi dapat berjalan sendiri-sendiri. Perguruan tinggi membutuhkan kemitraan dengan lembaga penelitian, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam lingkungan akademik Unpak, penguatan kualitas dosen juga menjadi bagian penting.

Saat ini, berdasarkan data base Universitas Pakuan, tercatat jumlah civitas akademika sebanyak 438 orang. Rinciannya terdiri dari 16 tenaga pengajar, 90 dosen fungsional Asisten Ahli, 232 dosen fungsional Lektor, 79 dosen fungsional Lektor Kepala, dan 21 Guru Besar atau Profesor.

Sementara itu, dosen yang telah mendapatkan pelatihan sertifikasi dosen atau berstatus dosen profesional tercatat sebanyak 328 orang atau 75 persen. Adapun 110 orang atau 25 persen lainnya belum mendapatkan panggilan pelatihan sertifikasi dosen.

Baca Juga:  Rakyat Dibuat Sulit! Stok Pertalite dan Pertamax di SPBU Bojonggede Langka

Rektorat berkomitmen memberikan dukungan terhadap pengajuan dosen untuk mengikuti pelatihan sertifikasi dosen sesuai dengan jabatan fungsional yang diemban.

Penguatan sumber daya manusia ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Sebab, kampus yang berkembang membutuhkan dosen yang tidak hanya memiliki kualifikasi akademik, tetapi juga terus meningkatkan kompetensi profesionalnya.

Pendidikan Tidak Berhenti pada Ijazah

Dalam bidang pendidikan, karakter kepemimpinan Prof. Didik mengarah pada penguatan proses pembelajaran.

Pada awal masa kepemimpinannya, Universitas Pakuan menjalankan program pengembangan pembelajaran berbasis case based learning, problem based learning, dan project based learning.

Model pembelajaran tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menerima materi secara pasif. Mahasiswa diajak memahami persoalan, menganalisis kasus, mencari solusi, dan mengerjakan proyek yang memiliki keterkaitan dengan dunia nyata.

Prof. Didik juga memberikan perhatian terhadap kesiapan lulusan dalam menghadapi dunia kerja.

Dalam berbagai kegiatan bersama mahasiswa dan alumni yang telah tersebar di berbagai instansi pemerintahan, ia mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah.

Lulusan perguruan tinggi perlu memiliki karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, keterampilan komunikasi, serta kemauan untuk terus belajar.

Pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah dunia yang berubah cepat. Gelar akademik memang penting, tetapi kemampuan untuk terus berkembang menjadi bekal yang tidak kalah menentukan.

Sukses adalah Perjalanan Panjang

Kisah Prof. Dr. rer. pol. Ir. H. Didik Notosudjono, M.Sc. memperlihatkan bahwa kesuksesan bukanlah sebuah perjalanan lurus tanpa tantangan.

Dari seorang anak desa di Jawa Timur, ia menjalani pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dari menjadi asisten dosen, ia terus berkembang sebagai akademisi. Dari dunia penelitian, ia masuk ke lingkungan pemerintahan dan kebijakan. Dari berbagai pengalaman tersebut, ia kemudian mengabdikan diri di Universitas Pakuan hingga dipercaya menjadi rektor.

Perjalanannya menjadi gambaran tentang pentingnya proses, kesabaran, disiplin, pendidikan, dan kemauan untuk terus belajar.

Pengalaman panjang sebagai akademisi, peneliti, birokrat, dan pengelola perguruan tinggi kini menjadi modal dalam memimpin Universitas Pakuan menuju perkembangan yang lebih baik dan menuju top ranking university.

Bagi generasi muda, kisah ini menyimpan pesan sederhana namun penting. Tempat seseorang memulai kehidupan tidak selalu menentukan sejauh mana ia dapat melangkah.

Anak desa pun dapat menembus dunia internasional. Seseorang yang memulai karier dari posisi sederhana dapat tumbuh menjadi pemimpin. Namun, semua itu membutuhkan proses panjang, kerja keras, kedisiplinan, pengalaman, dan kemauan untuk tidak berhenti belajar.

Jejak jalan akademik yang panjang, pengalaman birokrasi yang luas, serta komitmen terhadap riset dan inovasi menjadi fondasi perjalanan Prof. Didik Notosudjono dalam mengabdikan diri bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Dari desa hingga menjadi rektor, perjalanan tersebut bukan sekadar kisah tentang jabatan. Lebih dari itu, perjalanan Prof. Didik adalah cerita tentang proses membangun diri, memperluas pengetahuan, dan mengubah pengalaman menjadi pengabdian. [Teddy KH]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB