Denting Bambu 600 Tahun Bergema di Goa Gudawang

Prabu

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 19:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor — Suara bambu tua kembali bergema di kawasan Goa Gudawang, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Denting itu bukan sekadar alunan musik tradisional, melainkan denyut panjang warisan budaya yang telah hidup selama sekitar enam abad: Angklung Gubrag.

Workshop Angklung Gubrag Dogdog Lojor yang digelar Sabtu (13/6/2026) menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, pendidikan, dan harapan tentang masa depan kesenian tradisi khas Kabupaten Bogor tersebut.

Pemilihan Goa Gudawang sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Situs alam yang diperkirakan berusia jutaan tahun itu menjadi simbol pertemuan antara warisan alam dan warisan budaya yang sama-sama perlu dijaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di bawah tanah tersimpan jejak purba perjalanan zaman. Sementara di atasnya, suara Angklung Gubrag terus bertahan sebagai identitas masyarakat Cigudeg.

Bagi warga Kampung Cipining, Desa Argapura, Angklung Gubrag bukan hanya pertunjukan seni. Kesenian ini lahir dari tradisi agraris masyarakat Sunda dan menjadi bagian dari kehidupan sosial, spiritual, sekaligus budaya masyarakat setempat.

Baca Juga:  Aliyah Sakinah: Anak Tambal Ban, Alumni UQI yang Tembus Kampus Eropa

Workshop yang diinisiasi Komunitas Seni Berbagi Indonesia (SEBA) itu menghadirkan pemerintah, akademisi, seniman, komunitas budaya, hingga masyarakat umum. Kehadiran berbagai pihak menjadi penegasan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kerja bersama.

Salah satu sosok yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah Ki Jawir atau Ariansyah, pelestari Angklung Gubrag generasi ke-12.

Di pundaknya, tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan warisan leluhur itu tetap hidup dan dimainkan sesuai pakem yang diwariskan turun-temurun.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya populer global, Ki Jawir menjadi simbol ketahanan budaya. Ia menjaga agar suara bambu khas Cigudeg tidak tenggelam oleh perubahan zaman.

Dalam sesi diskusi, Ki Jawir berdialog dengan budayawan Kang Ade Suarsa mengenai upaya menghadirkan seni tradisi agar tetap dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan nilai dasarnya.

“Eksplorasi estetika diperbolehkan untuk kebutuhan panggung di luar ranah ritual, namun tidak menabrak esensi dasar dari seni tradisi leluhur itu,” ujar Kang Ade Suarsa.

Baca Juga:  Bogor Run 2026 Gaungkan Gaya Hidup Sehat

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah regenerasi. Generasi muda dinilai lebih akrab dengan budaya populer global dibandingkan kesenian daerahnya sendiri.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang kreatif agar Angklung Gubrag tetap relevan dan menarik bagi anak muda.

Melalui workshop tersebut, peserta tidak hanya mempelajari sejarah dan filosofi Angklung Gubrag. Mereka juga berkesempatan mempraktikkan langsung teknik dasar memainkan instrumen tradisional itu.

Ketua pelaksana dari Komunitas SEBA, Jurasep, mengatakan pelestarian budaya harus dibangun melalui ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Melalui workshop ini, kami ingin menyampaikan bahwa Angklung Gubrag memiliki nilai-nilai luhur yang masih sangat relevan hingga saat ini. Apalagi Goa Gudawang memiliki potensi besar menjadi ruang kolaborasi budaya sekaligus menghidupkan kembali potensi wisata yang pernah berjaya pada masanya,” ujarnya.

Workshop tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis. Salah satunya adalah mendorong materi Angklung Gubrag masuk dalam muatan lokal sekolah-sekolah di Desa Argapura sebagai wilayah asal kesenian tersebut.

Baca Juga:  Inilah Tiga Program Juang Front Persaudaraan Islam, Apa Saja!

Peserta juga mengusulkan adanya kunjungan rutin sekolah-sekolah ke Goa Gudawang, pelibatan seniman lokal dalam wisata budaya, serta kolaborasi antara sekolah dan komunitas seni.

Momen paling mengharukan terjadi saat sejumlah siswa SMP Pelita Cendikia mengikuti sesi praktik memainkan Angklung Gubrag.

Jemari-jemari muda yang perlahan mengikuti ritme Ganjring dan Kurulung menghadirkan harapan baru bahwa tradisi ini masih memiliki masa depan.

Di tengah kesunyian Goa Gudawang, denting bambu yang dimainkan generasi muda seolah menjadi pesan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan akar identitasnya.

Karena pada akhirnya, menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan apa yang telah ada. Tetapi memastikan generasi mendatang tetap memiliki akar yang kuat untuk tumbuh dan berkembang.

Berita Terkait

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi
Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta
ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998
IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter
LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open
Perkuat Konservasi Harimau Sumatra, TSI Jalin Kerja Sama Dengan Pusat Gadai Indonesia
Bupati Bogor Silaturahmi dengan Tokoh Muhammadiyah di Leuwiliang
SDO GPI 2026 Hasilkan 15 Rekomendasi Strategis, Formula Ijtihad Politik Menuju 2029

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Dospulkam IPB Latih Warga Pentingsari Sulap Kulit Buah Jadi Camilan Bernilai Ekonomi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Dospulkam IPB University Hadirkan 27 Solusi Waste-to-Food di Yogyakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:17 WIB

ForKot Pendobrak Jiwa Perjuangan Mahasiswa Era Orde Baru menuju Reformasi 1998

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:16 WIB

IPB University Latih Warga Desa Wisata Pentingsari Buat Kawat Komposter

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:50 WIB

LKBB Transformasi di Karang Taruna Cigudeg, Satukan Pelajar SMP-SMA se-Bogor Raya Open

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB