Binanews.id | Bogor – Dalam upaya meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap bahaya perundungan di lingkungan pendidikan, SMK Arriyadul Huda menggelar Seminar Bullying bertema “Merawat Empati, Menghentikan Perundungan” pada Senin, 10 Agustus 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dilaksanakan di lingkungan SMK Arriyadul Huda dan diikuti oleh siswa dan siswi kelas X, XI, dan XII. Seminar menghadirkan Niam Rohmatulloh, M.Pd. sebagai pemateri dengan Fatimah Az-Zahra bertindak sebagai moderator.
Seminar ini menjadi bagian dari upaya edukasi untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai perundungan, dampak yang ditimbulkannya, serta pentingnya membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Dalam pemaparannya, Niam Rohmatulloh menjelaskan bahwa perundungan bukan sekadar persoalan tindakan fisik. Perundungan juga dapat muncul melalui perkataan, sikap, maupun perlakuan tertentu yang dilakukan terhadap seseorang hingga menimbulkan rasa tidak nyaman, tertekan, atau tersakiti.
Peserta didik juga diajak untuk memahami bahwa tindakan yang sering dianggap sebagai candaan tidak selalu dapat diterima oleh orang lain. Perkataan atau perilaku yang dilakukan secara berulang dan memberikan tekanan kepada seseorang dapat berkembang menjadi bentuk perundungan.
“Karena itu, penting bagi kita untuk memahami perasaan orang lain dan mempertimbangkan dampak dari setiap perkataan maupun tindakan yang kita lakukan,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Selain membahas berbagai bentuk perundungan, seminar juga menekankan pentingnya membangun sikap empati dalam kehidupan sehari-hari. Empati dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Dengan adanya empati, peserta didik diharapkan mampu memahami kondisi dan perasaan orang lain, menghargai perbedaan, serta menghindari tindakan yang dapat merendahkan atau menyakiti sesama.
Pemateri juga menegaskan bahwa upaya menghentikan perundungan tidak hanya menjadi tanggung jawab korban atau pihak sekolah. Seluruh warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan.
Peserta didik diharapkan tidak hanya menghindari diri dari tindakan sebagai pelaku, tetapi juga tidak memberikan dukungan terhadap perilaku perundungan. Sebaliknya, mereka didorong untuk memiliki kepedulian dan keberanian dalam mengambil sikap apabila menemukan tindakan yang mengarah pada perundungan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Setelah penyampaian materi, peserta diberikan kesempatan untuk mengikuti sesi diskusi dan mengajukan pertanyaan terkait berbagai bentuk perundungan yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya menjaga komunikasi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menciptakan interaksi yang dilandasi oleh rasa saling menghormati.
Secara keseluruhan, Seminar Bullying bertema “Merawat Empati, Menghentikan Perundungan” berjalan dengan baik dan diikuti secara aktif oleh siswa dan siswi SMK Arriyadul Huda dari kelas X, XI, dan XII.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai bahaya dan dampak perundungan, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai empati, kepedulian, dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.
Seminar ini diharapkan menjadi salah satu langkah dalam membangun kesadaran bersama bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah.
“Merawat empati bukan hanya tentang memahami perasaan orang lain, tetapi juga menjadi langkah awal untuk menghentikan perundungan dan membangun lingkungan sekolah yang lebih manusiawi.”
Editor : Fathurroji









