Binanews.id | Pelajaran hidup bisa datang dari mana saja — termasuk dari komik bebek. Itulah yang dialami Pramudya A. Oktavinanda, pengacara korporat papan atas Indonesia yang mengaku filosofi hidupnya justru terbentuk dari kisah Paman Gober, si bebek kaya raya ciptaan Disney.
Pramudya Oktavinanda bukan nama sembarangan di dunia hukum. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini meraih LL.M. dan PhD dari University of Chicago Law School — orang Indonesia pertama yang lulus dari program doktor di kampus hukum bergengsi itu. Ia kini Managing Partner firma hukum UMBRA yang ia dirikan, dan di rumahnya tersimpan koleksi sekitar 8.000 buku. Kisah hidupnya ia bagikan dalam podcast di kanal YouTube Vincent Ricardo.
Dari sekian ribu buku itu, yang paling membekas justru komik karya Don Rosa tentang kisah hidup Paman Gober. Menurut Pramudya Oktavinanda, Don Rosa memberi jiwa pada karakter yang biasanya hanya dikenal kikir, yaitu adalah harta paling berharga Gober ternyata bukan uangnya, melainkan memori petualangan di balik setiap keping koin di gudang uangnya. Dari sanalah ia menangkap semboyan hidupnya — you only live once, hidup cuma sekali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena hidup cuma sekali itu pula, Pramudya Oktavinanda tidak mau batu nisannya kelak kosong tanpa cerita. Ia ingin dikenang sebagai corporate lawyer terbaik di bidangnya — sebuah ambisi yang ia sebut bukan kesombongan, melainkan cara membedakan diri di tengah dunia yang penuh orang generik.
Soal stoikisme yang sedang digandrungi anak muda, ia menyimpan catatan kritis. Ia pernah membaca ulasan yang menyebut stoikisme sebagai “filsafat orang kalah” — dipakai untuk membenarkan kekalahan. Bagi Pramudya Oktavinanda, menerima hal-hal di luar kendali memang perlu, tetapi penerimaan tidak boleh menjadi alasan berhenti berjuang. Lagi-lagi ia menunjuk Paman Gober, sebesar apa pun masalahnya, jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.
Prinsip yang sama ia pegang dalam bekerja. Lebih dari 17 tahun menjadi pengacara korporat, ia mengaku masih terus menemukan hal baru. Ia menasihati anak-anak didiknya agar tidak bekerja semata-mata demi uang, sebab mata yang berbinar saat membicarakan pekerjaan tidak bisa dipalsukan.
Satu lagi sosok yang ia kagumi yaitu iro Ono, legenda sushi asal Jepang yang restorannya pernah ia kunjungi dua kali. Di usia 92 tahun, Jiro masih berdiri di balik meja, dan dalam sebuah wawancara mengaku setiap hari masih bermimpi membuat sushi yang lebih baik dari kemarin. Kalau kakek seusia itu masih berpikir begitu, kata Pramudya Oktavinanda, tidak ada alasan bagi orang berusia 40-an untuk bermalas-malasan.
Dari komik bebek sampai meja sushi, benang merahnya satu yaitu hidup yang cuma sekali ini terlalu berharga untuk diisi setengah hati. Seperti gudang uang Paman Gober, yang kelak paling berarti bukan jumlah saldonya — melainkan cerita petualangan di balik setiap kepingnya.
Disarikan dari podcast bersama Pramudya A. Oktavinanda di kanal YouTube Vincent Ricardo, “Stoikisme Filsafat Orang Kalah?” (Part 2).









