Nyai Hj Fatmah Noor Salim: Setia dalam Pengabdian, Menjaga Api Perjuangan Ummul Quro

Tim Redaksi

- Redaksi

Rabu, 22 April 2026 - 07:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Nyai Hj Fatmah Noor Salim kini telah menapaki usia senjanya. Masa perjuangan yang penuh liku telah ia arungi bersama sang suami tercinta. Dialah, nyai sekaligus ibu dari ribuan santri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami yang turut menyalakan cahaya Islam bersama KH Helmi Abdul Mubin.

“Kalau beliau sudah punya tekad, saya hanya bisa menemani dengan doa dan usaha,” tutur Nyai Hj Fatmah Noor Salim, istri KH Helmi Abdul Mubin ghafarallahu lahu, saat mengenang masa-masa awal perjuangan mereka mendirikan pesantren. Ucapannya tenang, tapi di balik keteduhan wajahnya, tersimpan kisah panjang tentang pengorbanan dan keteguhan hati seorang pendamping pejuang.

Dari awal pernikahan, ia sudah tahu bahwa hidup bersama seorang mujahid pendidikan bukan jalan yang mudah. “Waktu itu kami belum punya apa-apa,” kenangnya. Rumah masih sederhana, tanah untuk pondok belum ada. Tapi suaminya sering bilang, “Kalau niatnya lillahi Ta‘ala, Allah pasti cukupkan.” Ucapan itulah yang kemudian menjadi bekal semangat yang tak pernah padam di hati sang Nyai.

Nyai Fatmah bukan hanya seorang istri, tapi juga sahabat seperjuangan bagi pasangannya. Saat KH Helmi berjuang di luar pondok, ia menjaga rumah, mendidik anak-anak, mengurus santri, bahkan turun langsung mengatur dapur pondok. “Kadang saya ikut bantu mengajar, kadang mengurus konsumsi santri. Semua dilakukan dengan senang hati, karena kami merasa ini bagian dari ibadah,” tuturnya lirih.

Baca Juga:  Gus Kikin Jadi Ketua Umum PBNU, Menelusuri Jejak Keluarga Pesantren dan Kepemimpinannya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tahun 1993, perjalanan membangun PM Ummul Quro Al-Islami dimulai dari nol. Santri awal hanya 20 orang saja, fasilitas hanya masjid dan sebuah gubuk kecil beralaskan papan, tapi keyakinan tak pernah berkurang. “Kami belajar hidup dari kekurangan,” ujarnya. Pernah dapur kosong, sambung Muslimah tangguh tersebut, tapi hati kami penuh rasa syukur. Karena setiap hari kami lihat semangat santri menuntut ilmu dan itu cukup membahagiakan.

Baca Juga:  Rani Fatimatun Nisa, Mahasiswi UMKU Kembangkan Bisnis Tenun Troso ke Pasar Malaysia

Bagi Nyai Fatmah, perjuangan suaminya bukan sekadar membangun pesantren, tapi juga menanamkan nilai. Ia melihat langsung bagaimana KH Helmi mendidik para santri dengan cinta dan keteladanan. “Beliau selalu menekankan keikhlasan. Katanya, ‘Kalau semua ini karena Allah, maka setiap peluh akan jadi pahala.’ Itu yang saya pegang sampai sekarang,” ucapnya.

Kini, ketika pesantren tumbuh besar dan dikenal luas, ia tak pernah merasa semua ini milik satu orang. “Pesantren ini bukan hasil kerja beliau sendiri, tapi hasil doa dan kerja bersama,” ucapnya rendah hati. “Saya hanya ikut membantu menjaga api perjuangan itu agar tetap menyala.”

Baca Juga:  Rintisan BPRS Amanah Ummah: Memilih Orang Amanah, Bukan Bankir

Perannya kini tidak kalah penting. Ia menjadi sosok ibu bagi para santri, teladan bagi para ustadzah, dan peneguh semangat bagi keluarga besar Ummul Quro. “Kalau melihat para santri tersenyum, saya merasa perjuangan kami tak sia-sia,” katanya dengan mata berbinar.

Meski KH Helmi telah berpulang, semangatnya masih hidup di setiap sudut pesantren. Sedangkan Nyai Fatmah tetap setia menjaga ruh itu, menjaga nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan cinta ilmu yang dulu mereka perjuangkan bersama. “Saya hanya ingin meneruskan langkah beliau karena selama masih ada santri yang belajar di sini, perjuangan itu belum selesai,” pungkasnya.[irf]

Sumber Berita: Gontornews.com

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Berita Terbaru

Pendidikan

Pemkot Bogor akan Pindahkan Sekolah Rakyat di Kawasan Rancamaya

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:49 WIB

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB