Binanews.id | Bogor–Di sebuah ruang kelas SMP Negeri Unggulan Langgur, Maluku Tenggara, Josephina Masneuw Janwarin berdiri di depan siswanya. Ia bukan tipe guru yang puas dengan gerakan 15 menit membaca atau taman baca yang rapi di pojok kelas. Baginya, literasi harus masuk ke tiga titik utama, yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan asesmen.
“Kalau dua titik sudah jalan tapi asesmen tidak berbasis literasi, maka akan gagal,” katanya, Jumat (25/9/2026) . “Siswa akan kesulitan ketika menghadapi Tes Kemampuan Akademik yang soalnya berbasis teks, bukan hafalan.”
Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri Unggulan sekaligus pengajar di SMA Sanata Karya Langgur itu sudah enam tahun menjadi garda depan penguatan literasi di Bumi Larvul Ngabal . Jauh sebelum menyandang status fasilitator daerah, ia bersama rekannya Dewi Renginfur sudah berjalan menembus hampir seluruh SMP dan beberapa SD di Maluku Tenggara untuk menguatkan literasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerja itu berbuah. Berdasarkan rapor pendidikan, literasi Maluku Tenggara kini masuk jajaran 1-20 kabupaten terbaik di Provinsi Maluku.
Josephina lahir di Langgur, 16 April 1983. Ia tinggal di Lingkungan Kristoforus, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara . Guru yang akrab disapa Ibu Oca ini menyandang gelar instruktur Bahasa Indonesia dan Sastra tingkat nasional sejak sebelum Kurikulum Merdeka Belajar diberlakukan.
“Sebagai instruktur, saya sudah berjalan sejak 2014. Mulai dari instruktur lapis dua, instruktur utama kabupaten, hingga instruktur nasional Guru Pembelajar dan Instruktur Aksi,” ungkapnya.
Pada 2024, ia mengikuti Pelatihan Training of Trainer Literasi selama enam bulan, daring dan luring. Dari 320 peserta, ia terpilih sebagai peserta terbaik kelas literasi . Tahun 2026, ia kembali lolos sebagai Fasilitator Daerah untuk Program Literasi BOS Kinerja.
Ia juga tercatat sebagai salah satu penulis dalam buku kumpulan cerita rakyat Kei yang disusun Kantor Bahasa Maluku, Kemendikbud. Namanya tercantum sebagai penulis “Kisah Boketsin”.
Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Josephina menerjemahkan gagasan literasinya melalui OSIS. Menyongsong Bulan Bahasa 2026, ia menggagas Festival Mini Bahasa dan Sastra yang digelar pada minggu pertama Oktober.
Festival ini tidak biasa. Siswa diajak berburu cerita rakyat Kei yang hampir punah. Mereka melakukan tur literasi, bermitra dengan masyarakat sebagai narasumber, lalu menulis kembali cerita tersebut dengan kamus daring dan teknologi visualisasi . Hasilnya akan dibukukan menjadi kumpulan cerita rakyat karya siswa. Ada tim resensi dari siswa sendiri yang menilai kelebihan dan kekurangan buku, serta tim kreatif yang mengolah cerita menjadi infografis, komik, dan video.
“Isinya setiap anak akan menampilkan semua kemampuan literasi mereka. Lebih khusus ke karakteristik daerah, jadi buku-buku cerita rakyat Kei dan puisi-puisi menyangkut Kei yang akan kami tampilkan,” ujar Josephina.
Festival ini melibatkan hampir semua siswa, terutama kelas 9. “Kami ingin mereka mendapat pengalaman literasi yang baik, sehingga ketika tamat dan melanjutkan ke SMA mereka dapat membagi pengalaman ini ke teman-teman baru,” tegasnya.
Editor : Fathurroji









