Binanews.id | Ponorogo–Tahun 1991, saya menginjakkan kaki di Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai seorang santri. Saat itu KH Hasan Abdullah Sahal hafizhahullah masih berusia sekitar 44 tahun.
Enam tahun kami ditempa dan dididik. Hingga pada tahun 1997, kami menyelesaikan pendidikan KMI sebagai Marhalah Aswad (angkatan papan nama hitam).
Pada masa itu Pondok dipimpin oleh tiga kiai kami: KH Shoiman Luqmanul Hakim rahimahullah, KH Abdullah Syukri Zarkasyi rahimahullah, dan KH Hasan Abdullah Sahal hafizhahullah.
Hampir tiga puluh tahun telah berlalu sejak kami meninggalkan bangku KMI.
Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa yang kami bawa dari Gontor bukan hanya pelajaran yang dahulu kami terima di kelas, bukan hanya bahasa Arab dan Inggris, dan bukan pula sekadar selembar ijazah.
Kami membawa nilai. Kami membawa adab. Kami membawa prinsip hidup.
Kami belajar tentang keikhlasan, kesederhanaan, kedisiplinan, kemandirian, ukhuwah, keberanian, kepemimpinan, pengabdian, dan hidup yang harus memberi manfaat kepada orang lain.
Gontor mengajarkan:
تَرْبِيَةٌ لِلْحَيَاةِ
“Tarbiyah lil-hayah — pendidikan untuk kehidupan.”
Karena itu, setelah keluar dari Pondok, seorang santri tidak boleh berhenti menjadi pendidik. Di mana pun Allah menempatkannya, ia harus berusaha mengajar, mendidik, berdakwah, menggerakkan kebaikan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
KH Hasan Abdullah Sahal hafizhahullah pernah berpesan:
“Anyamlah diri kalian untuk menjadi orang-orang yang bermanfaat, bukan hanya untuk diri kalian, tetapi untuk masyarakat.”
Pesan itu sejalan dengan falsafah yang telah diwariskan para pendiri Gontor.
KH Imam Zarkasyi rahimahullah mengajarkan tentang hakikat “orang besar”:
“Orang besar adalah orang yang besar jasanya, orang yang mau mengajarkan Al-Qur’an di surau kecil dan di tempat terpencil.”
Maka kami belajar bahwa kebesaran seseorang tidak semata-mata diukur dari tingginya jabatan, banyaknya harta, atau terkenalnya nama.
Kebesaran adalah tentang jasa, pengabdian, dan seberapa besar hidup kita memberikan manfaat kepada manusia.
Dan KH Ahmad Sahal rahimahullah mewariskan semboyan perjuangan:
“Bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan.”
Harta, tenaga, pikiran; kalau perlu, nyawa sekalipun.
Sebuah pendidikan tentang totalitas dalam perjuangan. Bahwa memperjuangkan agama, ilmu, dan pendidikan membutuhkan pengorbanan, bukan sekadar kata-kata.
Semangat itu terus diwariskan kepada generasi kami.
KH Abdullah Syukri Zarkasyi rahimahullah pernah menegaskan:
“Pondok ini adalah pondok serius, bukan pondok main-main; kami sungguh-sungguh dalam mendidik dan mengajar santri; pol-polan, habis-habisan, bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan.”
Semua itu agar lahir manusia yang mampu bergerak dan menggerakkan, berjuang dan memperjuangkan, serta menjadi manusia yang banyak manfaatnya.
Tetaplah Santri di Hadapan Guru
Puluhan tahun boleh berlalu. Murid boleh menjadi tua. Murid mungkin telah menjadi guru dan mendidik murid-muridnya sendiri.
Namun ada sesuatu yang semestinya tidak ikut berubah:
“adab, ta‘zhim, dan rasa berutang budi kepada orang-orang yang dahulu mengajarkan dan mendidiknya”.
Ketika ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memegang sanggurdi kendaraan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
إِنَّا هَكَذَا نَفْعَلُ بِكُبَرَائِنَا وَعُلَمَائِنَا.
“Beginilah kami memperlakukan orang-orang besar dan para ulama kami.”
Dan Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah menceritakan adabnya di hadapan Imam Malik rahimahullah:
كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ صَفْحًا رَفِيقًا، هَيْبَةً لَهُ؛ لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا.
“Aku membalik lembaran di hadapan Malik dengan sangat perlahan karena rasa hormat kepadanya, agar beliau tidak mendengar suara lembaran itu.”
Bahkan dinukil dari sebagian salaf sebuah doa:
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي، وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي.
“Ya Allah, tutupilah kekurangan guruku dariku dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”
Guru tetaplah manusia. Namun seorang santri yang memiliki wafā’ tidak akan membiarkan kekurangan manusiawi gurunya menghapus segunung kebaikan, ilmu, pendidikan, nasihat, dan jasa yang pernah ia terima darinya.
Hari ini KH Hasan Abdullah Sahal hafizhahullah telah berusia 79 tahun.
Saya yang dahulu datang ke Gontor pada tahun 1991 sebagai seorang santri ingin mengucapkan bukan sekadar “terima kasih”, tetapi doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا يَا شَيْخَنَا وَمُرَبِّيَنَا.
Semoga Allah membalas Pak Kiai dengan sebaik-baik kebaikan.
Atas ilmu yang diajarkan, adab yang ditanamkan, kedisiplinan yang dibiasakan, teguran yang mendewasakan, dan prinsip-prinsip kehidupan yang masih kami bawa hingga hari ini:
جَزَاكُمُ اللهُ عَنَّا وَعَنْ طُلَّابِكُمْ خَيْرَ الْجَزَاءِ.
بَارَكَ اللهُ فِي عُمْرِكُمْ وَعِلْمِكُمْ وَعَمَلِكُمْ، وَمَتَّعَكُمُ اللهُ بِالصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، وَأَطَالَ اللهُ عُمْرَكُمْ فِي طَاعَتِهِ، وَجَعَلَ مَا بَذَلْتُمُوهُ فِي تَرْبِيَةِ أَجْيَالِ الْأُمَّةِ فِي مَوَازِينِ حَسَنَاتِكُمْ.
Semoga Allah memberkahi umur, ilmu, dan amal Pak Kiai, menganugerahkan kesehatan dan afiat, memanjangkan usia dalam ketaatan kepada-Nya, serta menjadikan seluruh jerih payah dalam mendidik generasi umat berada dalam timbangan kebaikan Pak Kiai.
Dan untuk kiai serta guru-guru kami yang telah mendahului kami:
رَحِمَهُمُ اللهُ رَحْمَةً وَاسِعَةً، وَغَفَرَ لَهُمْ، وَرَفَعَ دَرَجَاتِهِمْ، وَجَزَاهُمُ اللهُ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَجَعَلَ مَا عَلَّمُونَا وَغَرَسُوهُ فِينَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْخَيْرِ صَدَقَةً جَارِيَةً فِي مَوَازِينِ حَسَنَاتِهِمْ.
Semoga Allah merahmati mereka dengan rahmat yang luas, mengampuni mereka, meninggikan derajat mereka, membalas seluruh jasa mereka kepada kami dengan sebaik-baik balasan, dan menjadikan ilmu serta kebaikan yang mereka tanamkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا يَا مَشَايِخَنَا وَمُرَبِّينَا.
Kami mungkin telah meninggalkan bangku KMI puluhan tahun yang lalu. Namun di hadapan kiai dan guru-guru kami, kami tetaplah santri.
Dan insya Allah, ilmu, adab, rasa terima kasih, serta doa untuk guru-guru kami akan tetap kami bawa sampai akhir hayat.
(Ditulis saat Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor)
Editor : Fathurroji









