Binanews.id | Bogor — Apa yang selama ini dianggap sebagai barang bekas ternyata dapat menjadi awal dari perubahan. Di Kampung Sukajaya RT 01/004, Desa Cicadas, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor menghadirkan gagasan sederhana: mengubah sampah menjadi sumber daya dan memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan pangan secara mandiri.
Melalui program kerja Waste Management dan Kebun Mini Hydroponik, kelompok KKM Desa Cicadas tidak hanya menjalankan agenda pengabdian selama satu bulan, tetapi juga berupaya mengenalkan pola pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Mengubah Sampah Menjadi Potensi Ekonomi
Program Waste Management mulai dilaksanakan pada 30 Agustus 2026 dengan mengajak masyarakat mengenal pengelolaan sampah organik dan anorganik secara lebih terarah.
Sampah organik tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Mahasiswa KKM memanfaatkannya untuk diolah menjadi komposter dengan menggunakan barang bekas sebagai media. Salah satunya adalah pemanfaatan galon bekas sebagai tabung komposter.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun praktik ekonomi sirkular di lingkungan Kampung Sukajaya. Sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah diarahkan untuk kembali memiliki fungsi dan manfaat.
Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus dikumpulkan melalui Bank Sampah. Setelah terkumpul, material tersebut dapat disalurkan kepada pengepul sehingga memiliki nilai jual dan berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM IUQI Desa Cicadas 02 turut menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, yaitu enam tempat sampah organik, enam tempat sampah anorganik, satu unit Bank Sampah, serta satu tabung komposter.
Bagi mahasiswa KKM, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, terdapat peluang untuk membangun kesadaran bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna masih dapat memberikan manfaat apabila dikelola dengan tepat.
Dari Lahan Terbatas Menjadi Kebun Produktif
Gagasan serupa juga diterapkan melalui program Kebun Mini Hydroponik yang berlangsung di Kampung Sukajaya RT 01/004 sejak 15 Agustus 2026.
Melalui seminar mini garden bertema “Mini Garden Ala Rumahan”, mahasiswa KKM memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara memanfaatkan ruang yang tersedia untuk tetap produktif dan menghasilkan sayuran secara mandiri.
Hidroponik dipilih karena metode budidaya ini memungkinkan tanaman memperoleh nutrisi melalui air tanpa menjadikan tanah sebagai media utama. Konsep tersebut dinilai relevan untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan maupun kesibukan dalam bekerja.
Dalam program tersebut, mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian materi. Mereka juga menghadirkan contoh kebun mini hidroponik tanaman kangkung yang dibuat dengan memanfaatkan barang bekas, seperti ember cat dan saringan.
Pemanfaatan barang sederhana tersebut menunjukkan bahwa berkebun tidak selalu membutuhkan lahan luas maupun fasilitas mahal. Dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat, benda yang sudah tidak digunakan dapat kembali memiliki fungsi.
Pengabdian yang Diharapkan Tak Berhenti Setelah KKM Usai
Dua program tersebut memperlihatkan pendekatan pengabdian yang berangkat dari persoalan sehari-hari masyarakat. Sampah dan keterbatasan lahan bukan diposisikan semata sebagai masalah, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan inovasi.
Melalui Waste Management, masyarakat diperkenalkan pada pemilahan dan pengolahan sampah yang berpotensi menciptakan nilai ekonomi. Sementara melalui kebun mini hidroponik, warga diajak melihat bahwa ruang terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.
Bagi mahasiswa KKM IUQI Bogor Desa Cicadas, keberhasilan pengabdian tidak hanya diukur dari terlaksananya sebuah program selama masa KKM. Lebih jauh, program diharapkan dapat meninggalkan pengetahuan, fasilitas, dan kebiasaan baru yang dapat terus dikembangkan masyarakat secara mandiri.
Dari sebuah galon bekas yang menjadi komposter, botol plastik yang dikumpulkan di Bank Sampah, hingga ember cat yang disulap menjadi media kebun hidroponik, perubahan di Desa Cicadas menunjukkan satu hal: inovasi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang mahal. Terkadang, perubahan justru dimulai dari benda sederhana yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Melalui semangat pengabdian tersebut, mahasiswa KKM IUQI Bogor berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan, meningkatkan produktivitas, dan membangun potensi ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan—dimulai dari langkah kecil di tingkat kampung.
Editor : Fathurroji









