Rindu yang Menguatkan: Makna Empat Puluh Hari Pertama di Pesantren

Dr. Tatu Zakiyatun Nufus, M.Pd (Dosen UIN Syarief Hidayatullah Jakarta)

Irwan Maulana

- Redaksi

Rabu, 5 Agustus 2026 - 20:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Setiap awal tahun ajaran, ribuan orang tua mengantarkan putra-putrinya memasuki gerbang pesantren dengan harapan yang sama: agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan. Namun, setelah prosesi penerimaan santri baru selesai, tidak sedikit pesantren yang menerapkan kebijakan membatasi kunjungan orang tua selama masa adaptasi. Di beberapa pesantren, masa ini berlangsung hingga empat puluh hari. Kebijakan tersebut sering kali memunculkan pertanyaan, bahkan kegelisahan. Mengapa orang tua harus menahan rindu begitu lama? Apakah anak tidak membutuhkan kehadiran keluarga pada masa-masa awal tinggal di pesantren?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul, terutama bagi orang tua yang baru pertama kali melepas anaknya mondok. Akan tetapi, jika dipahami dari perspektif pendidikan, empat puluh hari pertama bukanlah sekadar rentang waktu tanpa kunjungan. Masa ini merupakan fase transisi yang sangat penting bagi seorang santri untuk membangun kebiasaan baru, mengenal lingkungan, menjalin hubungan dengan teman dan guru, serta belajar hidup mandiri jauh dari keluarga.

Bagi seorang anak, memasuki lingkungan baru berarti memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Jadwal harian berubah, aturan hidup menjadi lebih terstruktur, teman-teman berasal dari berbagai daerah, dan semua aktivitas dilakukan secara bersama-sama. Pada saat yang sama, mereka juga harus belajar mengurus kebutuhan pribadi, mengelola waktu, menyesuaikan diri dengan budaya pesantren, serta mengatasi rasa rindu kepada rumah. Semua proses tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak dapat dibentuk hanya melalui ceramah atau nasihat, melainkan melalui pengalaman hidup yang dijalani secara langsung.

Baca Juga:  Kemana Akar Pendidikan Kita?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kajian psikologi perkembangan, masa adaptasi memiliki peran penting dalam membangun resiliensi, yaitu kemampuan seseorang untuk menghadapi perubahan, mengatasi kesulitan, dan bangkit dari tantangan. Anak yang diberi kesempatan menyelesaikan persoalan-persoalan kecil secara mandiri akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mampu mengambil keputusan. Sebaliknya, jika setiap kesulitan segera diambil alih oleh orang tua, proses pembentukan kemandirian sering kali menjadi terhambat.

Di sinilah makna pendidikan di pesantren menjadi semakin jelas. Pembatasan kunjungan pada masa awal bukan dimaksudkan untuk memisahkan anak dari kasih sayang orang tua, melainkan memberi ruang agar mereka dapat membangun keterikatan dengan lingkungan barunya. Santri membutuhkan waktu untuk merasa bahwa pesantren adalah rumah kedua, tempat mereka belajar, bertumbuh, dan menemukan keluarga baru dalam diri para ustaz, pengasuh, serta teman-teman seperjuangan. Apabila proses adaptasi ini terlalu sering terputus oleh kunjungan yang terlalu dini, sebagian anak akan kembali mengalami kesulitan berpisah sehingga proses penyesuaian harus dimulai dari awal.

Baca Juga:  Pesantren Naturalisasi: Antara Data, Realita, dan Arah Masa Depan

Yang sering terlupakan adalah bahwa masa adaptasi ini tidak hanya dialami oleh santri. Orang tua pun sedang menjalani proses belajar yang sama pentingnya. Mereka belajar mempercayai proses pendidikan, belajar menahan keinginan untuk selalu hadir, dan belajar memberi kesempatan kepada anak untuk menemukan kekuatannya sendiri. Menahan rindu bukan berarti mengurangi kasih sayang. Sebaliknya, itu adalah bentuk kasih sayang yang diwujudkan melalui kepercayaan bahwa anak mampu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Rindu ini menguatkan untuk bisa saling mempercayai dan juga melihat tumbuh kembang santri dalam sebuah program yang dilakukan di pesantren.

Tentu saja, setiap pesantren memiliki kebijakan yang berbeda. Ada yang membatasi kunjungan selama dua minggu, tiga minggu, satu bulan, atau bahkan empat puluh hari. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua lembaga. Yang terpenting bukanlah jumlah harinya, melainkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, yaitu menciptakan masa adaptasi yang utuh sehingga santri dapat mengenal lingkungan baru tanpa ketergantungan yang berlebihan kepada keluarga.

Baca Juga:  Ketika Popularitas Mengalahkan Keilmuan

Dalam perspektif yang lebih luas, kebijakan ini mengajarkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang pengetahuan, tetapi juga tentang proses menjadi manusia yang tangguh. Kemandirian tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui kebiasaan, pengalaman, dan keberanian menghadapi situasi baru. Empat puluh hari pertama menjadi ruang bagi santri untuk membangun fondasi tersebut—belajar mengelola emosi, bekerja sama dengan teman, menghargai aturan, dan menemukan keyakinan bahwa mereka mampu menjalani kehidupan secara mandiri.

Pada akhirnya, kebijakan pembatasan kunjungan selama masa adaptasi bukanlah tentang menjauhkan anak dari orang tuanya, melainkan tentang mendekatkan anak pada proses pendewasaan. Pendidikan terkadang mengajarkan bahwa bentuk kasih sayang yang paling bermakna bukan selalu hadir di samping anak, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk bertumbuh. Di balik air mata perpisahan dan kerinduan yang tertahan, tersimpan harapan besar agar ketika masa adaptasi itu berakhir, yang pulang menemui orang tua bukan lagi anak yang sama, melainkan pribadi yang lebih mandiri, lebih matang, dan lebih siap menghadapi kehidupan.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB